Sekelumit Cerita Tentang Jakarta Part 1

Macet menjadi salah satu identitas Kota Jakarta yang sering dibangga-banggakan warga lantaran statusnya sebagai Ibu Kota Indonesia. Sejauh yang aku tahu, warga kampungku (di salah satu Propinsi selain Jakarta_red) menganggap Jakarta itu “wahh” dan “mewah”. Imajinasi yang muncul dalam benak mereka adalah tentang kemewahan yang bisa memberi kepuasan terhadap apa yang menjadi harapan mereka sebagai manusia. Juga asumsi mengenai kebahagiaan karena uang akan lebih mudah didapatkan sebagai efek banyaknya gedung tinggi dan perusahaan yang akan banyak membutuhkan jasa dan atau tenaga mereka.
Sayangnya, Jakarta tidak sepenuhnya menjadi pewujud harapan dan mimipi (atau bahkan yang sekedar asumsi_red)  mereka. Faktor keberuntungan juga menjadi hal penting untuk dipertimbangkan. Tak ayal, Jakarta memiliki banyak variasi dalam hal taraf kehidupan. Yang amat sangat kaya sekali banyak, yang kaya banyak banget, yang sedang-sedang ada di mana-mana, yang miskin mudah ditemukan, yang bahkan tak punya semangat hidup lagi juga ada.
Tapi, keberuntungan hanyalah sebatas perihal satu faktor. Usaha dan semangat kemauan untuk survive dalam kehidupan Jakarta tetap menjadi faktor signifikan bagi setiap tipe taraf kehidupan. Yang amat sangat kaya dan yang masih kaya, ya, lumayan mudah lah untuk memerhatikan bagaimana usaha dan semangat mereka. Aku lebih tertarik berbicara tentang yang miskin alias golongan (yang dianggap) menengah ke bawah deh… (yang di bawahnya golongan bawah sekalian juga), sepakat, sebut saja mereka bunga (*oh, tidak), pejuang kota saja. Setuju? Ok, terima kasih sudah setuju, hahaha *maksa.
Para pejuang kota biasanya bekerja dengan berkeliling kota. Yang kaya juga banyak sih yang kerja dengan keliling kota, tapi, bedanya mereka pakai mobil mewah milik pribadi atau setidaknya inventaris kantor. Tapi, kalau para pejuang kota sih jalan kaki saja di bawah teriknya sinar matahari, misalnya menjajakan makanan, minuman, Koran, dll. Kalau pun ada yang naik mobil, paling juga pengamen. Lalu, ada juga pengemis yang memiliki gaya berbeda-beda dalam menjalankan misinya. Ada yang di jembatan (*paling banyak aku temuin nih) ada juga yang di angkutan kota.
Hmmmmm di kampung aku jarang menemui pekerjaan yang seperti itu. Mengemis di sana adaalah pekerjaan yang tidak masuk pekerjaan. (*loh?????) hmmm iya, pengemis itu adalah serendah-rendahnya pilihan. Last choice deh, karena mengemis itu hanya meminta, modal minta tanpa ada timbal balik seperti jasa atau pun tenaga (*Upss.. kadang ada pengemis yang membalas dengan ucapan terima kasih dan doa sih. So, doa termasuk jasa bukan ya? Hehehe). Paling miskin di kampungku adalah buruh sawah. Itu pun mereka benar-benar menjual tenaga mereka, tidak Cuma-Cuma meneria uang.
Hey… dah ngobrol sampe mana aja nih? Ngalor ngidul ga jelas ya? Entahlah.. namanya juga free writing… hehe *membela diri.
Hmmm, yang jelas, Jakarta masih saja memberi banyak harapan pada warga dengan kemewahan dan kemegahannya yang terkesan serba ada. Banyak orang desa yang memilih untuk mencari kerja di Jakarta. Mereka berharap akan mendapat banyak hal dan menjadi kaya. Boleh berharap memang, boleh bermimpi karena semua bisa berawal dari mimpi. Hanya saja mereka butuh berpikir dalam sebelum pergi, sebaiknya. Berpikir tentang jasa dan kemampuan apa yang bisa mereka jual di Jakarta. Berpikir tentang banyak hal, termasuk realita pejuang kota yang malang atau tidak beruntung dalam hal menghidupi hidup mereka.

Soal kaya atau miskin, hey.. sudahlah.. itu memang penting, tapi jangan over obsesi deh. Sebab, Rasulullah SAW. pun tidak kaya harta, bahkan hanya baju besi yang beliau punya saat sebelum meninggal.  Trus… sekaya apa pun kita nantinya, yang lebih penting adalah bagaimana kita berusaha dan berprasangak baik pada Yang Maha Kuasa, Allah Azza wajalla.🙂

Ditulis dianatara ke’eror’an tingkat lima (hahaha)

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on April 14, 2011, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: