Mukhoyam dan Kenangan di Kepulauan Seribu

Akhir 2010 menuju awal 2011 menjadi sebuah peralihan tahun yang luar biasa lantaran sebuah kesempatan luar biasa yang dikhususkan bagi anggota KAMMI. Ini adalah kegiatan KAMMI yang pertama aku ikuti pasca-Dauroh Marhalah (DM) 1. KAMMI Daerah (KAMDA) Jakarta menggelar kegiatan Mukhoyam di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu. Secara sederhana Mukhoyyam dapat diartikan sebagai kegiatan camping dan haiking ala aktivis. Dan tampaknya kegiatan inilah yang kemudian meyakinkanku bahwa KAMMI bukan organisasi kepemudaan yang semata-mata hanya berorientasi pada aksi turun ke jalan, melainkan juga aksi sosial masyarakat.
Pagi itu, 31 Desember 2011 aku bersama teman-teman dari KAMMI Komisariat Madani telah bersiap dengan berbagai bekal dalam tas dilengkapi semangat dalam jiwa. Bismillah.. semoga kesertaan ini akan terhitung sebagai ibadah dan apapun yang akan terjadi menjadi pelajaran untuk perbaikan diri dan kualitas rukhiyah maupun jasmani.
Kami memulai perjalanan dari Mampang Prapatan ke Muara Angke untuk berkumpul dengan peserta mukhoyam dari komisariat yang lain. Kali ini pula pertama mengetahui bagaimana aroma Muara Angke yang sejatinya memang dekat laut. Penghasilan utama para warga adalah hasil nelayan terutama ikan. Sungguh, ketika kami melewati daerah sekitar pasar, bau amis begitu cepat menyusupi ruang nafas terluar manusia. Beberapa temanku yang akhwat mengeluarkan parfum atau lotion. Aroma wangi diharapkan akan mampu mengalahkan serangan bau amis pada kami yang ketika itu masih di angkot. Beberapa dari kami juga merasa mual tak tahan menahan bau ini. Tapi, alkhamdulillah semua itu terbayar setelah kami samapai di pelabuhan Muara Angke dan bertemu dengan teman-teman, saudara-saudara, dari universitas dan komisariat lain di kapal yang dipesan khusus untuk penyebrangan kami ke Pulau Pramuka.

Aku sudah terbiasa melakukan perjalanan laut dengan Ferry Merak-Bakauheuni, tapi perjalanan laut Muara Angke-Kepulauan Seribu sangat berbeda meskipun identik sama sekitar 3 jam. Kapal yang kami tumpangi memang kapal mesin, tapi dinding dan lantainya terbuat dari kayu, berbeda sekali dengan ferry. Laut nya pun menyentakkanku karena begitu hitam dan kotor dengan sampah. Terpaan ombak terasa lebih kencang dan berpotensi menyebabkan mual. Namun, semakin menjauh dari Muara Angke laut mulai membiri dan lebih bersih. Subhanallah… aku bahagia sekali berkesempatan mengunjungi Kepulauan Seribu yang dulu hanya dapat kukagumi indahnya lewat telivisi saja.

Setelah sampai di Pulau Seribu kami singgah ke rumah ketua KAMMI Daerah Jakarta ketika itu, Kak Noval Abuzar. Para akhwat beristirahat sedangkan ikhwan melaksanakan sholat Jum’at di masjid terdekat. Setelah itu, barulah menyantap makan siang dan melanjutkan perjalanan kaki menuju lokasi perkemahan (Mukhoyyam_red). Peserta Mukhoyyam ini adalah perwakilan dari komisariat-komisariat se-Jakarta, seperti Komisariat Madani, Lipia, Al-Hikmah, Mabda, Juanda, UNJ, dan UIN Syarif Hidayatullah. Di sini aku mendapat banyak teman-teman baru yang inspiratif, juga seorang Singapura yang kini sekolah di Jakarta.
Lokasi Mukhoyyam ini agak dekat dengan laut, dan banyak pepohonan di sekitarnya. Hampir seluruh permukaan tanah tertutup rumput hijau. Saat itu masing-masing akhwat dan ikhwan bekerja sama mendirikan tenda seadanya. Tenda buatan akhwat lumayan juga. Hehe, maksudnya lumayan aneh dan berbahaya karena tanpa dinding. Hal ini disebabkan oleh banyak peserta perwakilan komisariat yang tidak membawa tenda. Namun, Alkhamdulillah Rasulullah SAW. sangat memuliakan wanita sehingga panitia pun meneladaninya. Tanpa pikir panjang, panitia segera mengusahakan sebuah tenda besar yang dapat menampung semua peserta akhwat sehingga keamanan akhwat insyaAllah terjaga.
Subhanallah.. hari pertama yang masih lebih banyak diisi dengan persiapan ini pun sudah membuatku bertambah bahagia. Lelah sebagai dampak perjalanan jauh sama sekali sirna. Tapi, malamnya, aku (dan tampaknya juga beberapa teman lain) sempat mengantuk saat materi. Tapi segera tersadar dan bangkit karena ada peserta yang teridentifikasi mengantuk ketika panitia menyorotkan senter di sembarang arah.

Kami berkumpul di halaman tenda, beralas bagian tanah yang tidak tertutup rerumputan, beratapkan langit yang enggan menampakkan gemintangnya. Kami mendapatkan sebuat materi tentang reaksi terhadap bencana. Hal ini sangat bermanfaat karena memang bencana alam pada saat itu banyak terjadi dan menjadi salah satu masalah masyarakat. Bencana ini memang ketetapan Allah Azza Wa Jalla meskipun kadang akibat perbuatan lalai manusia. Kita tak mampu menolaknay ketika terjadi. Maka, sebagai pemuda, minimal kita mampu memberikan reaksi yang cepat dan tepat saat terjadi bencana. Secara khusus, KAMMI memang memiliki program bernama KAMMI Reaksi Cepat (KRC).

Pada hari kedua, aku merasakan syukur sangat tak patut untuk dihentikan. Aku terbangun dari tidur lantaran sebuah letusan keras yang mengagetkan. “Hah, jangan-jangan ada bom karena iri nggak diajak ikutan Mukhoyyam yang seru ini. Eeeeehhhhh… nggak taunya itu suara petasan yang bertubi-tubi, sahut menyahut, mengangkasa menyambut datangnya tahun 2011. Kala itu pukul 00.00 WIB.” Hehehe… Ya sudah, karena sudah terlanjur keluar dari tenda, aku nikmati saja sebentar. Langit begitu semarak. Sesekali teriakan beberapa orang menyusul petasan yang berhasil meletus. Entahlah siapa mereka, yang jelas mereka tengah merayakan tahun baru di tepi laut, dan mereka insyaAllah bukan anggota KAMMI yang sedang mukhoyyam ini. Sesaat setelah itu aku kembali tidur.

Sirine berbunyi. Tandanya kami harus bangun lagi untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya. Aku bangun dan kemudian bersama dengan teman-teman mengambil air wudhu di tepi laut. Innalillah, ada musibah. Ketika membasuh kaki, aku lepas sepatuku. Tapi, saat sudah selesai wudhu dan akan mengenakan sepatuku kembali, sepatuku tidak ketemu. Senter yang menjadi sumber penerangan tidak dapat membantu. Ya sudah, dengan terpaksa aku harus sejenak mengikhlaskan dan akan mencari kembali setelah mentari pagi terbit dengan cahaya terangnya.

Sholat tahajud, renungan malam, sholat shubuh, alma’tsurat dan tilwah membuat atmosfir semangat beribadah ini bertambah naik. Selain itu, aku bersama teman-teman bisa menikmati udara pagi Kepulauan Seribu. Riyadhoh yang kami laksanakan, meski sederhana tapi mampu mengeratkan ukhuwah, khusunya pada akhwat (yang ikhwan gak tau deh ngapain aja, itu urusan mereka :p). Setelah sarapan pagi, membersihkan diri dan melaksanakan sholat Dhuha, kami melakukan tadabur alam (haiking_red). Melalui kegiatan inilah kami semakin tau tentang Pulau Pramuka. Kami sempat mengunjungi penangkaran penyu dan budidaya bakau. Juga mengarungi petualangan yang tetap terasa membahagiakan akibat syukur dan keindahan pulau ini. Apalagi ketika berkumpul di halaman tenda pagi ini untuk menampilkan yel-yel, aku kagum melihat gradasi warna biru laut yang tampak jelas. Subhanallah…. .

by: ukhti Rizma

Tak cukup sekedar bersyukur dengan hati dan lisan, tapi juga hendaklah dengan perbuatan. Ba’da Ashar seluruh peserta mukhoyyam
mengikuti kegiatan transplatasi terumbu karang. Kondisi terumbu karang saat ini memang sudah banyak mengalami kerusakan. Padahal, perlu waktu yang sangat lama bagi terumbu karang untuk regenerasi. Transplatasi terumbu karang ini diharapkan mampu menjadi sebuah kontribusi nyata untuk membantu memperbaiaki kehidupan laut, khususnya terumbu karang. Setelah mengikuti pelatihan mengenai transplatasi terumbu karang, para peserta mempraktikannya di laut Pulau Seribu ini. Setelah itu, kami bermain-main di laut ini. Alhamdulillah… bisa berenang lagi setelah setahun tidak berenang. Dan keluarbiasaan kegiatan hari ini pun ditutup dengan pentas seni yang kreatif dari para peserta mukhoyyam.

Ups.. ada cerita menakjubkan. Masih ingat dengan sepatuku yang hilang? Hmmm… saat hari sudah terang dan aku mencarinya lagi, ternyata sudah tidak ada. Tepian yang semula kami gunakan untuk tempat wudhu sudah rata terendam air laut pasang. Sudah entah di mana sepatu itu adanya. Hahaha berarti memang harus merelakan. Tapi, menjelang sore tadi, ketika akan membersihkan diri, tiba-tiba sepasang sepatuku itu ada di depan tenda. Kondisinya sangat kotor, juga basah kuyup. Dan aku heran, bagaimana sepatuku itu bisa ada di tenda lagi? Siapa yang menemukan dan mengantarkannya? “Seorang pangeran” celetuk salah satu temanku. “hehehe, kayak dongeng aja. Tapi kalau ternyata sang penunggu Pulau Pramuka gimana ya??” sahutku, lalu merinding sendiri.

Hari terakhir. Setelah melaksanakan sholat tahajud, semua segera kembali ke tenda. Air laut pasang memberikan irama tersendiri ketika ombaknya terpental batu di tepian. Angin begitu kencang. Langit mulai menitikkan air dari awan yang berproses menjadi hujan. Genting sekali suasana pagi itu. Para ikhwan berlarian menitipkan tas mereka di tenda akhwat karena tenda ikhwan tidak berdinding dan sangat mudah tersapu rata oleh air hujan. Panitia mencoba menenangkan kami. Tilawah dan al-ma’sturat masih kami lakukan. Angin semakin kencang. Lampu badai yang selama kegiatan menjadi pengganti listrik kini tak berfungsi lagi. Sumber penerangan semaksimal mungkin kami gunakan senter dan handpone yang ada. Suasana semakin menakutkan. Aku khawatir ini putting beliung, atau badai, atau yang lebih buruk lagi. Lagi-lagi angin semakin kencang dengan semakin kencangnya degup kecemasan.

Entahlah, angin-angin ini ingin bekenalan lebih akrab dengan kami ataukah justru ingin mengusir kami dari sini. Yang jelas, saat itu menjadi momen yang menarik dan tak terlupakan. Hari ketiga ini pun tak kalah seru. Kami melakukan tadabur alam lagi. Kali ini dalam kelompok-kelompok dengan anggota tidak dari satu komisariat sehinga dapat saling mengenal. Dalam kegiatan ini ada banyak games, pelatihan kecerdasan dan keseimbangan otak kanan dan otak kiri, tantangan dalam halang rintang, serta melatih ke-tsiqohan (percaya) kita pada teman sekelompok. Hal yang paling menantang, menurutku adalah ketika teman-teman kelompokku bekerjasama mengangkatku untuk mengisikan air laut ke botol yang digantung di sebuah pohon. Sulit sekali rasanya. Tapi semua game dan tantangan yang ada memang sangat seru.


Seusai tadabur alam, kami membersihkan diri, melaksanakan sholat Zuhur, makan siang, dan kemudian menuju pelabuhan. Kapal yang akan kami tumpangi sudah siap. Sekitar pukul 14.00 kami beranjak meninggalkan Pulau Seribu. Meninggalkan pengalaman dan kenangan indah serta pengalaman-pengalaman berharga yang tak akan terlupakan. Kepulauan Seribu, semoga kelak lagi kita dapat bertemu.

by: ukhti Rizma
by: Ukhti Rizma
by: Ukhti Rizma

Photos by:
– My own collection
– Ukhti Rizma’s collection

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on June 21, 2011, in Creative, travel story. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: