Monthly Archives: July 2011

Saksi Reformasi Diri

Enggan jemari ini menuliskannya, enggan pula lisan ini mengungkapnya,
bahkan sekedar pada alam, pada langit, pada jutaan bintang yang menjadi pelipur gelapnya malam.
Dan masih saja enggan diri ini menekadkan hati, membulatkan niat ,
untuk menjadi peluru yang siap menggempur segala nafsu, segala goda yang hendak menganggu.
“Tidakkah kau mencintai-Nya hingga tak mampu mengalahkan ego atas engganmu?”
Pernah sekali kubertanya.
“Justru karena cintaku, aku mengakui keenggananku.”
Berulang kali aku bertekd, berjanji pada-Nya untuk menata pribadi, memperbaiki diri,
tapi tak kurang dari ribuan kali masih saja aku mengecewakan-Nya,
masih kulewati batas-batas yang Ia beri,
masih kubicarakan aib saudaraku sendiri, masih kuberdusta menutupi salah yang terjadi, masih menunda sholat meski yang awal adalah yang Dia sukai.
Aku malu. Aku enggan bertekad lagi.
Namun, betapa kusadari sakitnya berada dalam kesendirian ini,
Betapa hampa jiwa tanpa turut memuja-Nya.
Dan hari ini, aku merasakan cemburu  yang teramat sangat,
Saat diriku diam ketika insan yang lain meningkatkan ihsan menyambut Ramadhan.
Aku tersiksa atas kesombongan diri yang tak mau mengakui rindu akan hadirnya.
Aku merasakan sakit bertubi-tubi atas keegoisan engganku sendiri.
Aku patah hati.
Aku tak lagi mampu bertahan,  pada sela nafas yang terisak, pada ketuk degup bernada sesak, pada perihnya pijak ini di atas puingan kaca kerinduan.
Dan memang, aku tak mampu berdiri sendiri tanpa mencintai-Nya.
Dan memang,  aku tak pantas membiarkan diri untuk enggan memperbaiki pribadi.
Dan memang,  aku harus bertekad lagi, tekad yang bersungguh.
Dan memang, Ramadhan inilah yang harusnya menjadi titik reformasiku.
Kepada Ramadhan yang padanya beribu kesucian,
kepada Ramadhan yang padanya berjuta pengampunan,
kunyatakan hadir dalam menyambutmu,
kunyatakan hadir dalam mendambamu,
kunyatakan dengan hati bahwa jiwa ini merindumu.
Akan kuhargai kesucianmu dengan menyucikan diriku.
Akan kubersihkan kalbuku demi membalas kelimpahan cinta yang ada padamu
Akan kuperbaiki ihsan agar cinderamata pahala yang kau bawa semakin berharga.
Akan kulakukan apa pun untuk mengukir cahaya indahmu semakin mengindahkan duniaku.
Akan terus kutempa semangat ini,
Semangat reformasi diri,
Demi Dia yang kucintai,
Yang telah menciptamu ada dengan keindahan dan cinta yang berlimpah.
Wahai kau, Ramadhan,
Kaulah motifator,
Kaulah titik perubahan
Dan kaulah saksi reformasi diri ini.
Advertisements

Salah Lagi, Tidak Teliti dalam Bersurat Elektronik

“Mbok yao lebih teliti… :)”

Begitu kata ketuaku. Hmmm… emang saya yang salah. Kirim email gak ada attachmennya.
Hmmm paripurna rasanya kecerobohan ini. Saya malu. Saya harus mengakhiri scenario kecerobohan ini (Loh, emang apa ya? Drama? Hehehe :D). Tapi ini adalah beberapa kecerobohan yang pernah terjadi selama bersurat elektroni (ayo didaftar dulu)
1.     Lupa tidak melampirkan data yang mau di attach
2.     Salah melampirkan data
3.     Lupa cc ke orang yang berhak
Sekedar tips, kalo mau kirim email ber-attachmen itu mending hal pertama yang dilakukan adalah browsw dan upload data yang mau diattach. Tentunya pastikan juga bahwa data tersebut bener. Nah, setelah itu tulis tujuannya ke siapa, cc nya juga diperhatikan, jangan sampe ketinggalan (jika dibutuhkan). So, baru deh tulis badan emailnya.. :D. Ok ok???
Tapi yah sebenarnya kesalahan yang terjadi itu tuh aneh bin ajaib. You know why??? Hmmm perasaan kemarin udah di attach deh, beneran, trus tapi kok diliaht di sent itemnya gak ada attachmennya ya??? 😦 aneehhhhhhh,,,,,…..
Kayaknya koneksi internetnya deh yang salah. Eh, disahut lagi sama bapak ketua “jangan suka menyalahkan keadaan,”
*Plakkkkk!!!! Ikhwan memang susah mengerti akhwat. Ups, damai ya Pak. 😀
Untuk kesekian kalinya saya harus minta maaf karena kesalahan kerja. Afwan.. afwan akh.
Tapi ya sudahlah, toh itu sudah terlanjur terjadi. Ga bisa di apa-apain lagi, kecuali memperbaiki diri. Hhhuuhhhh!!!! Ayo terus.. teruslah perbaiki dirimu, nak . *hmmmmm.

NII…..

Isu NII (Negara Islam Indonesia) beberapa minggu yang lalu menggaung dan menggema di seluruh penjuru Indonesia. Organisasi ini dianggap merusak citra Islam, bahkan memelencengkan syari’at Islam. Banyak hal yang diatur dalam Al-Qur’an dan Hadist dilaksanakan dengan cara yang berbeda oleh penganut NII ini. “Islam sesat” kata sebagaian orang (Astaghfirulloh… semoga ini bukan sikap menghakimi yang asal, karena memvonis ‘sesat’ atau tidak seorang hamba hanyalah menjadi hak Allah SWT.).   Wallahua’lam bishowab.
NII memang terkesan materialistik. Pengkaderannya berorintasi pada uang. Target utama mereka adalah pelajar dan mahasiswa. Maka tak ayal jika orang tua, guru, dosen merasa was-was, khawatir anak-anaknya terkena pengaruh NII.
Astaghfirullohal Azim…. Dampak dari kekhawatiran orang tua, guru dan donsen ini sampai-sampai membatasi dan bahkan melarang  anak-anaknya di kegiatan keagamaan, termasuk pengajian dan ROHIS. Padahal, harusnya mereka bisa lebih bijak lagi, sebab mayoritas korban justru remaja yang kurang memiliki dasar pengetahuan agama yang kuat sehingga mudah terpengaruh. Bukan pembatasan atau pelarangan yang harusnya diberikan, tapi pengawasan yang secukupnya, biarkan si anak belajar tentang agama sampai paham agar dapat membentengi, minimal dirinya sendiri.
Dampak kewas-wasan terhadap pengaruh NII juga membuat sebagian muslim tersakiti. Bagaimana tidak. Ada orang yang seperti tanpa pikir panjang memvonis bahwa ia (seorang muslim) NII, padahal bukan. Hanya karena identitas jilbab yang lebih lebar, ia dicurigai, bahkan dituduh. Namun, hal ini wajar, sebab ada semacam kebiasaan jika kita menganggap “A” sebagai musuh maka kita akan menjauhi “A” secara keseluruhan. Padahal, harusnya kita jangan menutup diri. Kita harus mencari informasi tentang apa sebenarnya A, bagaimana kriteria A, dan semua tentang A. Tujuannya bukan semata-mata memenuhi ketertarikan, tapi justru memperkaya informasi sehingga jika kelak dijadikan target, kita bisa lebih cepat mengenalinya dan menyelamatkan diri. Informasi tersebut juga berfungsi agar kita tidak sembaranagn menjudge orang lain sebagai NII karena kita tahu bagaimana ciri dan karakteristik NII.
NII telah menggemparkan Negara, memporak-porandakan kehidupan muslim yang tak terlibat kedalamnya, meruntuhkan citra Islam yang agung, bahkan kehadiran isunya telah mengkoyak hati kaum muslimin. Sekali lagi, yang dapat kita lakukan adalah membentengi diri, seperti paparan di atas. Semoga kita tetap berada di jalan yang diridhoi Allah SWT.
Tulisan ini sudah pernah kuposting sebelumnya, tapi entah kenapa aku enggann, khawatir menyakiti karena menulisnya dengan emosi. Tapi setelah dipikir dan dibaca lagi, lumayan netral kok 😀 hehehe…

Prosa Kekesalan Akhwat

 

“Ahhh.. para ikhwan itu egois! Mereka sama sekali tak mengindahkan petuah kami, para akhwat. Mereka menganggap kami pesimis dengan semua pertimbangan bijak yang kami buat. Tapi pada akhirnya mereka tersadar, bahwa keoptimisan mereka tidak realistis. Apa yang kami sarankan ternyata benar. Apa yang kami cemaskan ternyata terjadi. Mereka menyesal. Tapi juga tak merasa bersalah lantaran sudah mengabaikan nasihat kami.”
Sebuah prosa kekesalan akhwat terhadap ikhwan ini benar-benar kubaca dari kedip mata mereka. Akhwat. Meski seolah diam, tapi mereka memendam. Meski seolah tak peduli, tapi mereka berpikir. Meski tampak tenang, tapi mereka khawatir. Cinta lah yang membuat mereka begini. Cinta yang insyaAllah karena Allah.
Akhi, tolong, bermuhasabahlah tentang apa yang telah terjadi. Jangan terus kau posisikan dirimu di atas langit sebagai makhluk yang paling benar. Istighfar akhi… Istighfar….

Persepsi Tentang Hari Ini dan Masa Depan

“Hari ini menentukan masa depan”
Kalimat bijak ini biasanya digunakan untuk membangkitkan motifasi agar selalu membiasakan diri melakukan yang terbaik pada hari ini. Tujuannya adalah agar di masa depan kita pun mendapat yang terbaik. Aplikasi nyatanya, misalnya, jika hari ini kita rajin belajar maka kita akan pandai dan masa depan kita akan cemerlang. Atau, istilah sederhananya ‘mudah mendapatkan pekerjaan’. Sebaliknya, jika hari ini kita malas, maka hari esok akan menjadi suram, sulit mendapatkan pekerjaan.
Definisi dari interpretasi kata bijak tersebut memang baik untuk memotifasi diri kita supaya terus melakukan yang terbaik pada setiap harinya. Namun, sayangnya hanya berorientasi pada “kebaikan hari ini” dan keoptimisan “hari esok sebagai dampak kebaikan yang kita lakukan hari ini”. Hal ini menimbulkan kesan bahwa kita berjalan tanpa tujuan yang pasti. Hanya menapaki jalan ke segala arah asalkan aman, tidak berduri dan berkerikil tajam, maka kita akan sampai pada sebuah tempat yang indah dan penuh kebahagiaan. Tapi tempat tersebut pun belum pasti apa dan di mana. Padahal, sudah menjadi filosofi umum bahwa dalam perjalanan, membuat sebuah karya, atau apa pun, kita harus memiliki tujuan pasti. Dengan kata lain, tujuan kita di masa depan harus jelas agar apa yang kita lakukan hari ini untuk menggapai tujuan tersebut tidak sia-sia belaka. Oleh karena itu, marilah mengubah persepsi bahwa masa depan menentukan hari ini, bukan hari ini menentukan masa depan.
 “Masa depan menentukan hari ini”
Kalimat dalam tanda kutip tersebut berarti bahwa kita harus merancang masa depan terlebih dahulu untuk kemudian menentukan tindakan-tindakan apa yang harus kita lakukan untuk mencapai masa depan yang kita rancang. Misalnya, ketika seorang siswa kelas 3 SMA harus menentukan universitas dan jurusan untuk melanjutkan kuliah. Tidak bijak jika asal saja memilih universitas, lebih lagi asal memilih jurusan dengan dalih ‘yang penting bisa kuliah’. Siswa tersebut sebaiknya terlebih dahulu menentukan jurusan apa yang akan ia ambil berdasarkan minat, bakat, dan cita-citanya. Misalnya, ia ingin menjadi guru Bahasa Inggris, maka hendaklah ia memilih jurusan pendidikan Bahasa Inggris. Setelah itu, barulah menentukan perguruan tinggi atau universitasnya. Tentu, universitas yang dipilih harus memiliki fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Selama masa kuliah, nantinya ia akan belajar tentang bagaimana menjadi seorang guru dan sekaligus mendalami ilmu yang akan ia ajarkan sebagai perbekalan menjadi guru. Ia pun sebaiknya mulai mengajar, seperti les atau privat, agar dapat semakin membiasakan diri dan mencintai profesi sebagai pendidik.
Jika dipetakan, kira-kira akan menjadi seperti berikut ini:
Masa depan= Tujuan à Guru Bahasa Inggris.
Hari ini = Upaya menggapai tujuan à Kuliah jurusan pendidikan Bahasa Inggris, latihan mengajar.
Dengan demikian kita telah memiliki tujuan akhir yang pasti beserta rute jalan yang harus kita lalui untuk menggapai tujuan tersebut.
Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau penyeberang jalan.” (HR. Bukhari). Maksud dari “orang asing” dalam hadist tersebut adalah posisi kita di dunia saat ini, karena sebenarnya kampung halaman kita adalah surga, dan di dunia ini kita hanyalah dalam perjalanan. Kita tentu amat rindu untuk bisa kembali ke surga yang penuh keindahan itu. Namun, untuk dapat kembali ke sana bukanlah dengan cuma-cuma. Ada syarat dan ketentuan yang harus kita miliki dan lakukan, seperti senantiasa menghadirkan hukum syariat di hati dalam setiap keadaan, melaksanakan konsekuensi hukum tersebut, dan segera bertaubat atau memohon ampunan ketika terjerumus dalam dosa. Begitu pula dengan pencapaian kita terhadap sebuah tujuan di dunia, harus dengan upaya dan pengorbanan tertentu, seperti contoh yang telah dipaparkan di atas.
Kita di dunia adalah pengembara, seorang yang tengah mengadakan perjalanan, maka tujuan hidup kita haruslah jelas, perbekalan dan rute yang akan kita lalui pun harus jelas agar mencapai keparipurnaan tujuan. Oleh karena itu, mari mengubah persepsi bahwa masa depan menentukan hari ini.
Wallohu a’lam bishowab.

Kabar yang Terluka

Jika malam adalah kisah,
Biarkan ia meruah kata
dalam guratan semilir angin,
biarkan ia tetap cerita
dalam ceria derai-derai cemara.
Sungguh, bukan akan meniru sajak sang pujangga.
Hanya saja, kabarku tengah terluka.
Dan sungguh bukan derita.
Jangan pula tanyakan mengapa.
Teruslah amati malam yang berkisah,
Sampai nanti,
Benar-benar berhenti.
Dalam Terpaan Gelisah, Bumi Jakarta 2011.
Azmi Naifah
%d bloggers like this: