NII…..

Isu NII (Negara Islam Indonesia) beberapa minggu yang lalu menggaung dan menggema di seluruh penjuru Indonesia. Organisasi ini dianggap merusak citra Islam, bahkan memelencengkan syari’at Islam. Banyak hal yang diatur dalam Al-Qur’an dan Hadist dilaksanakan dengan cara yang berbeda oleh penganut NII ini. “Islam sesat” kata sebagaian orang (Astaghfirulloh… semoga ini bukan sikap menghakimi yang asal, karena memvonis ‘sesat’ atau tidak seorang hamba hanyalah menjadi hak Allah SWT.).   Wallahua’lam bishowab.
NII memang terkesan materialistik. Pengkaderannya berorintasi pada uang. Target utama mereka adalah pelajar dan mahasiswa. Maka tak ayal jika orang tua, guru, dosen merasa was-was, khawatir anak-anaknya terkena pengaruh NII.
Astaghfirullohal Azim…. Dampak dari kekhawatiran orang tua, guru dan donsen ini sampai-sampai membatasi dan bahkan melarang  anak-anaknya di kegiatan keagamaan, termasuk pengajian dan ROHIS. Padahal, harusnya mereka bisa lebih bijak lagi, sebab mayoritas korban justru remaja yang kurang memiliki dasar pengetahuan agama yang kuat sehingga mudah terpengaruh. Bukan pembatasan atau pelarangan yang harusnya diberikan, tapi pengawasan yang secukupnya, biarkan si anak belajar tentang agama sampai paham agar dapat membentengi, minimal dirinya sendiri.
Dampak kewas-wasan terhadap pengaruh NII juga membuat sebagian muslim tersakiti. Bagaimana tidak. Ada orang yang seperti tanpa pikir panjang memvonis bahwa ia (seorang muslim) NII, padahal bukan. Hanya karena identitas jilbab yang lebih lebar, ia dicurigai, bahkan dituduh. Namun, hal ini wajar, sebab ada semacam kebiasaan jika kita menganggap “A” sebagai musuh maka kita akan menjauhi “A” secara keseluruhan. Padahal, harusnya kita jangan menutup diri. Kita harus mencari informasi tentang apa sebenarnya A, bagaimana kriteria A, dan semua tentang A. Tujuannya bukan semata-mata memenuhi ketertarikan, tapi justru memperkaya informasi sehingga jika kelak dijadikan target, kita bisa lebih cepat mengenalinya dan menyelamatkan diri. Informasi tersebut juga berfungsi agar kita tidak sembaranagn menjudge orang lain sebagai NII karena kita tahu bagaimana ciri dan karakteristik NII.
NII telah menggemparkan Negara, memporak-porandakan kehidupan muslim yang tak terlibat kedalamnya, meruntuhkan citra Islam yang agung, bahkan kehadiran isunya telah mengkoyak hati kaum muslimin. Sekali lagi, yang dapat kita lakukan adalah membentengi diri, seperti paparan di atas. Semoga kita tetap berada di jalan yang diridhoi Allah SWT.
Tulisan ini sudah pernah kuposting sebelumnya, tapi entah kenapa aku enggann, khawatir menyakiti karena menulisnya dengan emosi. Tapi setelah dipikir dan dibaca lagi, lumayan netral kok😀 hehehe…

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on July 30, 2011, in Creative, non-fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: