Saksi Reformasi Diri

Enggan jemari ini menuliskannya, enggan pula lisan ini mengungkapnya,
bahkan sekedar pada alam, pada langit, pada jutaan bintang yang menjadi pelipur gelapnya malam.
Dan masih saja enggan diri ini menekadkan hati, membulatkan niat ,
untuk menjadi peluru yang siap menggempur segala nafsu, segala goda yang hendak menganggu.
“Tidakkah kau mencintai-Nya hingga tak mampu mengalahkan ego atas engganmu?”
Pernah sekali kubertanya.
“Justru karena cintaku, aku mengakui keenggananku.”
Berulang kali aku bertekd, berjanji pada-Nya untuk menata pribadi, memperbaiki diri,
tapi tak kurang dari ribuan kali masih saja aku mengecewakan-Nya,
masih kulewati batas-batas yang Ia beri,
masih kubicarakan aib saudaraku sendiri, masih kuberdusta menutupi salah yang terjadi, masih menunda sholat meski yang awal adalah yang Dia sukai.
Aku malu. Aku enggan bertekad lagi.
Namun, betapa kusadari sakitnya berada dalam kesendirian ini,
Betapa hampa jiwa tanpa turut memuja-Nya.
Dan hari ini, aku merasakan cemburu  yang teramat sangat,
Saat diriku diam ketika insan yang lain meningkatkan ihsan menyambut Ramadhan.
Aku tersiksa atas kesombongan diri yang tak mau mengakui rindu akan hadirnya.
Aku merasakan sakit bertubi-tubi atas keegoisan engganku sendiri.
Aku patah hati.
Aku tak lagi mampu bertahan,  pada sela nafas yang terisak, pada ketuk degup bernada sesak, pada perihnya pijak ini di atas puingan kaca kerinduan.
Dan memang, aku tak mampu berdiri sendiri tanpa mencintai-Nya.
Dan memang,  aku tak pantas membiarkan diri untuk enggan memperbaiki pribadi.
Dan memang,  aku harus bertekad lagi, tekad yang bersungguh.
Dan memang, Ramadhan inilah yang harusnya menjadi titik reformasiku.
Kepada Ramadhan yang padanya beribu kesucian,
kepada Ramadhan yang padanya berjuta pengampunan,
kunyatakan hadir dalam menyambutmu,
kunyatakan hadir dalam mendambamu,
kunyatakan dengan hati bahwa jiwa ini merindumu.
Akan kuhargai kesucianmu dengan menyucikan diriku.
Akan kubersihkan kalbuku demi membalas kelimpahan cinta yang ada padamu
Akan kuperbaiki ihsan agar cinderamata pahala yang kau bawa semakin berharga.
Akan kulakukan apa pun untuk mengukir cahaya indahmu semakin mengindahkan duniaku.
Akan terus kutempa semangat ini,
Semangat reformasi diri,
Demi Dia yang kucintai,
Yang telah menciptamu ada dengan keindahan dan cinta yang berlimpah.
Wahai kau, Ramadhan,
Kaulah motifator,
Kaulah titik perubahan
Dan kaulah saksi reformasi diri ini.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on July 31, 2011, in Creative, Fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: