Monthly Archives: November 2011

Atas Keputusanku, Kau Tetap Pemimpin Meski Tak Adil

Atas Keputusanku, Kau Tetap Pemimpin Meski Tak Adil

Aku menatanya rapi dalam barisan hati,

Barisan kesungguhan yang terkadang menyiratkan sebuah keyakinan diri.

Aku menutupnya rapat dalam kendi-kendi ingat,

Kendi yang menyimpan dan tak akan membuka. Read the rest of this entry

Advertisements

Menunggu PPD 45 Bak Menanti Hari Merdeka

Arloji sore itu menunjukkan pukul 17:30 waktu Indonesia Barat. Saya mulai menunggu PPD 45 di depan Gelael Pancoran. Hati saya tidak tenang karena belum menyelesaikan beberapa paper yang deadline pengumpulannya besok pagi jam Sembilan. Tapi, biar bagaimana pun saya mempunyai janji untuk mengajar Atthoriq.

Jarum jam tak henti berputar memindahkan posisi detik dan menit. Saya coba gunakan fasilitas seadanya untuk mencicil membuat paper. Saya ambil HP dari tas. Lalu mulai merangkai huruf-huruf dari keypad sambil memilah ide yang berkecamuk dalam pikir. Sesekali mata menatap dengan cermat kea rah datangnya 45. Tapi sayang, ia masih juga belum datang. Tidak fokus dan kuruang efektif menerapkan cara menyicil paper seperti itu.

Saya merasa galau. Apakah saya harus tetap mengajar atau pulang saja menyelesaikan paper yang harus saya buat? Rasanya malah semakin galau saat teringat bahwa saya harus segera mendaftar TOEFL untuk salah satu syarat pendaftaran beasiswa kursus Bahasa Inggris di US selama delapan minggu.

Akhirnya pada pukul 17:15 yang artinya tepat 45 menit saya menunggu, saya mengetukkan palu sidang tiga kali dalam pemikiran saya. Ya, saya memutuskan dan mengesahkan sebuah keputusan. Saya tidak mengajar sore ini dan saya pergi ke ILP Pancoran sebentar untuk mendaftar TOEFL. Setelah itu saya pulang untuk menyelesaikan paper tanggung jawab saya.

Hmmmmm…. Saya sudah menghabiskan waktu 45 menit untuk sekedar menunggu 45. Pikiran saya terjajah oleh kegalauan antara mengajar dan membuat paper. Dalam waktu 45 menit itu pun saya tidak berhasil memanfaatkannya untuk membuat draf paper, juga tidak berhasil mendapatkan 45. Tapi setelah 45 menit saya merdeka dari jajahan kegalauan. Rasanya menunggu PPD 45 itu lama sekali, selama menanti hari merdeka.

*sharing.

Bapak TNI Tak Mau Mengalah untuk Saya

Suasana jalan raya sekitar PGC masih juga padat sore itu. Saya berjalan ke arah terminal untuk mencari kendaraan yang akan saya tumpangi sampai rumah Athaya, murid nakal kesayangan saya, di daerah Halim Perdana Kusuma.
Kendaraan Trans Halim yang sedang ngetem sudah hampir penuh. Alhamdulillah, berarti saya tidak usah menunggu terlalu lama. Ya, Trans Halim hanya akan meluncur dari terminal jika kursi penumpagnya sudah penuh dengan formasi 4621 (empat enam dua satu). Maksudnya, satu orang duduk di depan dekat sopir, dua orang duduk di kursi kecil dekat pintu, dan masing-masing empat dan enam orang untuk dua kursi panjang sejajar dengan jendela mobil.
Bagian enam dan satu sudah penuh. Lalu saya duduk di kursi dekat pintu yang cukup untuk dua orang karena kursi yang disetting untuk empat orang tampak penuh meskipun berisi tiga orang. Tepatnya, mereka tak mau bergeser untukku, lebih lagi seorang Bapak berseragan TNI yang duduk si paling pinggir.

Tapi, tak lama kemudian ada dua orang penumpang lagi. Seorang ibu yang duduk di kursi enam menyuruh saya untuk pindah di kursi empat. Ah, bodohnya kenapa saya mau ya. Hmmmm… . Niatnya sih saya mau berlapang-lapang dalam fasilitas umum ini, saya ingin melapangkan tempat saya agar dua orang penumpang baru itu bisa duduk. Tapi sayangnya penumpang yang duduk di kursi empat hanya meluangkan tempat selebar kurang lebih lima centi meter untuk saya duduk. Ahhhh… coba pikirkan, jenis duduk model apa kalau begini caranya???!!! Posisi saya cukup menyeramkan. Saya hanya menempelkan badan saja di kursi itu. Selebihnya saya setengah jongkok. Sungguh, sakit sekali rasanya kaki saya menyangga berat badan ini.

Yang amat saya sesalkan adalah, Bapak berseragam TNI yang duduk tepat di sebelah saya tidak mau mengalah untuk saya. Misalnya menukar posisi tempat duduk agar rakyat nya ini lebih aman. Dia malah sama sekali tidak bertoleransi meskipun mengetahui saya tidak duduk. Padahal, kalaupun tidak mau menukar posisi, saya tau harusnya Bapak itu bisa meminta tolong dua penumoang di sebelahnya untuk sedikit geser agar saya tidak terlalu tersiksa. Air mukanya angkuh sekali. Dia seperti tidak peduli pada yang lain.

Ah…. Alhamdulillah sekitar sepuluh menit setelah itu ada penumpang yang turun sehingga saya bisa mendapatkan posisi yang lebih nyaman. Dan herannya, sampai turun Bapak itu tidak mengubah posisi duduknya sama sekali meskipun dua penumpang di sebelahnya sudah turun. Dia tidak bergerak. Saya sempat berpikir, apakah ini aturan di TNI bahwa duduk harus ajeg, gak boleh geser-geser, gak peduli di angkutan umum pun pokoknya gak boleh geser meski ada penumpang lain gak duduk dengan benar karena ulahnya.

Entah kenapa, saya benar-benar kecewa dengan Bapak berseragam TNI itu. Apakah gelar “TENTARA” yang ia emban hanya untuk Negara, hanya jika Pak Presiden mengamandatkan perang, jika atasan memberikan tugas, dan tidak akan pernah berinisiatif melindungi rakyat jika tidak ada perintah tugas?

Saya tahu, hidup saya memang bukan tanggung jawabnya. Tapi sebagai Tentara tingkat nasional harusnya selain memiliki rasa nasinalisme dengan cinta bangsa dan mau mempertahankan Negara, harus juga mampu mau melindungi rakyat biasa, tanpa mandat Presiden maupun atasan.

Saya tau, tidak semua TNI seperti dia. Saya berusaha menciptakan zero mind terhadap semua ini. Tapi pribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelanga” itu masih berlaku rupanya. Sikap Bapak berseragam TNI di dalam Trans Halim yang tak mau mengalah untuk saya sudah membuat saya kurang respect pada TNI. Seorng tentara nasional tak mau mengalah untuk saya, seorang rakyat.

Lagi-lagi saya yakinkan diri bahwa saya tidak harus selalu menuntut orang lain mengerti saya, tapi saya juga harus mengarti orang lian. Namun, kekecewaan ini tak begitu saja mudah dilupakan. Seorang TNI tak mau mengalah untuk saya di Angkutan umum Trans Halim.

Mengapa pendidikan berpotensi menjadi solusi untuk baragam masalah?

Daoed Joesoef seorang pengamat pendidikan mengatakan “Pendidikan merupakan segala bidang penghidupan, dalam memilih dan membina hidup yang baik, yang sesuai dengan martabat manusia”. Hal ini merujuk bahwa pendidikan adalah dasar dari segala aspek kehidupan seperti sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Kualitas pendidikan memiliki peran penting bagi aspek kehidupan yang lain. Bahkan, para ahli dan masyarakat umum berpendapat bahwa pendidikan merupakan akar penyelesaian berbagai masalah yang ada, khususnya di Indonesia. Sulit memang untuk mengatakan sumber pasti tentang siapa yang meng-claim pernyataan tersebut lantaran sudah menjadi warisan kata dari generasi ke generasi. Tapi, tak cukup bijak pula menepis pernyataan tersebut sebagi kasus yang tak layak dikritisi karena tidak ada sumber atau rujukan tentang siapa yang menyatakan, sebab ini merupakan hal yang berkenaan dengan aspek-aspek kehidupan masyarakat dan permasalahannya. Meskipun telah diketahui pendidikan sebagai solusi, namun beragam masalah dari berbagai aspek tidak juga kunjung usai. Benarkah pendidikan merupakan satu solusi untuk ribuan masalah yang timbul di masyarakat Negara ini? Bagaimana hal ini dapat berlaku?

Di dalam UU No.20/2003 tentang sistem pendidikan Nasional, tercantum pengertian pendidikan: “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, banga dan negara”.

Definisi pendidikan di atas mengharapkan hasil pendidikan yang berkualitas tinggi baik dalam hal akademik maupun non akademik. Hal inilah yang sebenarnya diharapakan akan menjadi modal peserta didik yang nantinya menjadi bagian dari warga Negara yang akan menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan dan kenegaraan. Jika definisi dari pendidikan benar-benar menjadi ruh dari pendidikan itu sendiri, dimana peserta didik akan menjadi insan yang memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan, maka dari segi psikologis peserta didik akan mampu mengahadapi masalah secara umum dengan baik dan bijak. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa pendidikan akan menjadi solusi dari berbagai masalah.

Selain itu, pendidikan adalah syarat wajib yang harus didapatkan oleh setiap profesi. Menjadi dokter, pengusaha, dosen, dll. harus melalui pendidikan dahulu. Juga demikian dengan profesi-profesi lainnya, yang melalui pendidikan formal maupun non formal. Dengan mengenyam pendidikan, berarti meraka mendalami ilmu-ilmu dasar dan khusus tentang profesi masing-masing, dan dengan ilmu-ilmu tersebutlah nantinya mereka, peserta didik sekaligus warga Negara, diharapkan akan dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dalam berbagai aspek kehidupan.

Dengan demikian, sebenarnya pendidikan hanyalah media pasif yang tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada penggeraknya (guru, peserta didik, dan selusuh lapisan masyarakat). Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan juga merupakan aspek penting yang dapat membangun kesiapan masyarakat dengan ilmu akademik dan non akademik untuk menghadapi kehidupan, masa depan, dan berbagai permasalahan. Pendidikan akan dapat mencapai perannya sebagai satu solusi dari ribuan masalah adalah jika pendidikan yang diterapkan memiliki ruh dari definisi pendidikan itu sendiri dan para penggerak pendidikan dapat bersungguh-sungguh menjalankan peran masing-masing serta memaksimalkan potensi yang telah didapatkan. Sekali lagi dapat ditekankan bahwa, pendidikan bukanlah segalanya, tapi segalanya berawal dari pendidikan.

Tercium Hingga Radius Satu Meter (Muslimah, Jagalah Kebersihan)

Aku masih menikmati buku berjudul “Keakhwatan” sambil menyandar santai di satu ruang rumahku. Asyik banget nih ceritanya, bahasan yang dibaca lagi seru. Eh, tiba-tiba ada satu aroma tak sedap merasuki relung-relung penciumanku (wuiiii… “relung”.. sok puitis ya? Hehe). Bau ini tercium dari ruang sebelah (masih di rumah ini juga_red). Jaraknya sekitar satu meter dari posisi aku membaca. MasyaAllah… bau sekali… mau muntah rasanya. Hmmm.. di sana ada salah seorang temanku lagi sholat. Tapi aku diam saja dan berlagak tanpa reaksi agar tidak menyinggung dia.

Diam, sedikit demi sedikit juga bisa menjadi bukit (nanti namanya bukit diam, hihi). Tragedi itu terjadi lebih dari satu kali. Meski dari radius satu meter, bau tak sedap ini tetap tercium. Aku semakin tak kuat. Seriusan, muntah. Astaghfirulloh…. .

Setelah aku teliti, bau yang muncul itu adalah aroma mukena. Ya, aromanya gak enak banget. Bisa jadi karena terlalu lama gak dicuci, atau kurang udara (lembab).

Astaghfirulloh… kok si teman ini betah ya sama aroma macam ini. Aku aja yang jauh gak betah.

Muslimah, … .insyaAllah aku tulis ini bukan lantaran ingin menjatuhkanmu, atau bahkan menghina saudara sendiri. Tapi justru karena aku menyayangimu.

Muslimah, kau selalu tampil rapi di depan umum. Anggun dengan rok panjang, baju yang tak membentuk tubuh sedikit pun, dan jilbabmu yang terkulai menutup dada.

Muslimah, kau tampak sempurna dengan itu. Kau begitu bijak memvisualkan keindahan Islam yang suka kebersihan.

Tapi, ada hal yang juga tak boleh kita lupa, kebersihan, kerapian, keindahan, itu bukan hanya cukup kita peruntukkan pada mereka, insan lain yang akan berkomunikasi dengan kita, tapi juga Illah yang tiada lain adalah Allah yang maha pencipta, maha dari segala maha keindahan.

Bukan hanya kebersihan dan kerapian pakaian yang akan kita gunakan untuk bertemu dengan manusia lain saja yang perlu kita persiapkan, tapi juga pakaian yang akan kita gunakan untuk berkomunikasi dengan Allah. Mukena, salah satunya.  Mbok ya rajinlah dicuci… . Masa mau syuro aja ribetnya naudzubillah (yang matchingin baju sama jilbab lah, nyetrika lah, dan lain2), eh, giliran mau berduaan sama Allah kok cuek aja pake pakaian yang bau binti kotor. Hmmmm…. Ayo saudariku… dicuci dulu mukenanya, disetrika juga ya J.

Nah, dari beberapa teman muslimah, ada catatan (yang kayaknya) penting nih hasil analisis kenapa mereka bau beserta penjabaran dan solusinya (Yah, ketauan deh suka berkunjung ke kosan teman alias nebeng, hehe). Serius, yang ini serius.

 

Kenapa mukena bau?

Yang pertama karena terlalu lama nggak dicuci. Yah, karena mukena itu dipake, lama-lama kan jadi kotor, bisa karena keringat dari badan kita, atau juga debu-debu di ruangan dan sekitarnya. Kotoran yang menempel pada mukena, lama-lama akan membusuk dan menimbulkan aroma yang tak sedap (parah, sampe bikin pengen muntah). Mukena dalam kondisi ini tentu tak baik untuk digunakan sholat karena untuk sholat haruslah bersih diri, pakaian, dan tempat. Nah, selain tak baik untuk sholat, juga bisa menganiaya orang-orang yang peka penciumannya karena aroma tidak sedap tersebut. Lalu, solusinya, ya sudah barang tentu, kita harus rajin mencuci mukena. Seminggu sekali lah… atau kalau sulit yang minimal dua minggu sekali. Setelah itu disetrika. Kadang dicuci saja tidak cukup, tapi dengan disetrika (diberi tekanan panas), kuman-kuman yang tersisa akan mati. So, jelas yah, rajin cuci dan setrika. Oke….

Yang kedua, karena mukenanya lembab. Gini nih, seringnya aku perhatikan teman-teman itu setelah sholat trus ngelipet mukena dan digulung-gulung di dalam sajadah. Nah.. ini nih penyebab lembabnya. Sama saja, kotoran dan kuman akan semakin subur berkembang di daerah yang lembab. Lantas, lama-lama jadi bau juga tuh mukena. How come? Well, Kita kan wudhu sebelum sholat, berarti akan ada sisa air wudhu di badan kita, terutama bagian kepala. Dampaknya,  keseringan bagian kepala mukena kita juga jadi basah setelah usai sholat. Wajarlah, kan memang habis menutup kepala kita yang basah. Itulah mengapa mukena bagian kepala yang rawan bau tak sedap.

Sebagian orang berpendapat untuk memakai lapisan handuk di rambut atau kepala sebelum memakai mukena. Tapi, buat sebagian orang lagi cara ini bisa jadi terlalu ribet. Nah, ada saran nih dari hatiku yang paling dalam untuk meminimalisir kelembapan. Gini, setelah sholat, jangan gulung mukena dalam sajadah. Gantung saja dengan satu hanger baju. Caranya? Pertama, lipat sajadah, lalu letakkan di hanger. Kedua, lipat bawahan mukena lalu letakkan di hanger yang sama, di atas sajadah. Ketiga, balik mukena (yang bagian dalam jadi di luar), lipat dengan posisi bagian kepala ada di depan (berpotensi kena angin), lalu letakkan di hanger yang sama di atas bawahan mukena tadi. Yang keempat, gantung deh hanger tersebut di paku (usahakan posisinya mudah terkena angin dan atau bahkan cahaya matahari).

Sekali lagi, muslimah harus menjaga kebersihan. Termasuk kebersihan pakaian, baik pakaian sehari-hari untuk bermuamalah, maupun untuk berkomunikasi dengan Allah SWT. Bukankah kita tahu bahwa Allah maha indah? Pantaskah kita menemui-Nya dengan kondisi yang tidak indah? Muslimah… mari bersama terus memperbaiki diri. Catatan ini kubuat khusus untukmu, muslimah. Semoga bermanfaat. Karena aku mencintaimu.

Kabar di Malam Idul Adha (untuk Ibu dan Ayah)

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Menjumpaimu adalah hal yang selalu kurindu, wahai ibu dan ayahku… namun menerima kabar tentangmu, bahwasannya engkau senantiasa sehat, harmoni, dan istiqomah, dalam rengkuhan kasih sayang Allah SWT. yang  luar biasa, beserta perlindungan-Nya yang tiada akan pernah roboh disenjatai musuh adalah sebuah kabar yang lebih kurindu. Karena, bukankah yang menyebabkan kebagiaan kita adalah cinta kasih yang terpatri dalam hati, tanpa peduli ruang dan waktu? dan bukan sebuah intensitas pertemuan yang menggunung?  Hanya Limpahan cinta, kasih, dan lindungan Allah yang membuat kita mencapai kebahagiaan yang sebenarnya. Aku percayakan Ibu dan Ayah hanya kepada-Nya, sumber segala cinta….. yang Mahasempurna menebarluaskan cinta-Nya.

Ibu, ayah,….

takbir adha telah nyata dikumandangkan. Dan aku tak bersama kalian….

Sesak rasanya mengenang masa-masa indah dahulu dalam menikmati malam yang agung ini. Tak kuasa juga rasanya membendung saluran air mata yang berkomponen cinta dan kerinduan ini. Namun langkah kaki tak cukup hanya sejengkal untuk menggapai keberadaanmu.

Ibu, ayah,…

Jalanan Jakarta  jauh lebih luas dari jalanan kampung kita. Selat sunda yang memisahkan Lampung-Jakarta, luasnya tak cukup sekedar dijembatani dengan potongan bambu tua seperti empang di belakang rumah kita. Jarak yang jauh ini akan berkolaborasi dengan waktu yang panjang menjadi energi luar biasa. Energi itulah yang tak mampu kujangkau sekarang ini meski untuk sekedar mencium tanganmu, memelukmu, dan menyampaikan cinta dan rindu yang amat menggebu. 

Ibu, ayah…..

Jika Allah SWT. menguji Ibrahim untuk melakukan pengorbanan dengan menyembelih putra beliau, Ismail, maka sesungguhnya ujian yang kita dapat tidak lebih berat. Putrimu ini tidak harus disembelih, Bu,… Yah….

Hanya saja terpisah oleh ruang dan waktu. Tapi bukankah justru itu yang harusnya membuat kita bersyukur? sebab kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk melakukan pengorbanan di momen yang mengingatkan kita tentang penting dan indahnya sebuah pengorbanan. Dan keterpisahan inilah pengorbanan kita.

Ibu, ayah….

Ismail begitu berbakti pada Tuhan dan ayahnya. Dengan patuh dan hanya karena Allah, Ismail memasrahkan diri. Ahhh… aku masih ingat saja ceritamu ibu… cerita yang kau berikan seraya mengelus halus kepalaku dan sesekali mencium keningku. Masih ingat dengan jelas bu…. Allah memberi perintah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Meski dengan berat hati, beliau sampaikan hal ini pada Ismail, sang putra tercinta. Ismail pun ternyata memasrahkan diri. Perintah ini turun dari Allah, tak ada sesuatu pun yang pantas menghalangi niat menunaikan kewajiban, melaksanakan perintah-Nya, dari sang Maha pemberi kehidupan. Ismail bersedia untuk disembelih. Subhanalloh…. atas nama baktinya kepada sang ayah agar bisa melaksanakan perintah Allah, serta tulus niat hanya karena Allah, Ismail melakukan pengorbanan. Begitu pun sang ayah, Ibrahim, mengorbankan putranya. Namun Al-Hakim, Allah SWT., berfirman untuk dapat menggantinya dengan  hewan sembelihan yang besar (37:107). Cerita yang dulu dan hingga sekarang membutku takjub, Ibu, ayah… dan putrimu ini percaya, keadilan Allah pun InsyaAllah akan berpihak pada kita dengan kehidupan yang indah, kelak, sebagai buah pengorbanan kita. ^_^…

Ibu, ayah…

Jika Ibrahim dalam (14:39) berkata,

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.”

Aku ingin menjadi anak yang berbakti sehingga  kalian pun akan amat bersyukur pernah memiliki anak sepertiku. Meski sampai kini tak ada yang sudah kuberikan padamu, tak juga mungkin membalas jasa-jasamu dengan pengorbanan yang setara, namun aku tetap rindu untuk berbakti padamu.

Ibu, Ayah….

Idul adha tahun ini putrimu tidak mengunjungimu lagi. Aku tau.. engkau pun meneteskan air mata yang sama denganku, air mata yang berkomponen rindu, cinta, pengharapan, dan sekaligus keikhlasan untuk pengorbanan ini. 

Aku akan segera menemuimu dengan kehangatan bakti dan cinta seorang anak. Nantikanku selalu, ibu dan ayah tercintaku…. ^_^

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Salam rasa cinta dan pengorbanan hanya karena Allah,

dari putrimu tercinta,

Endang Sriwahyuni

KOTAGAJAH

            Di daerah Lampung Tengah, sekitar 13 KM dari Tugu Tanggai Kedamaian Gunung Sugih (Ibu Kota Kabupaten Lampung Tengah), terdapat sebuah kecamatan bernama Kotagajah. Daerah ini merupakan batas timur Lampung Tengah yang dengan kata lain berbatasan langsung dengan Kabupaten Lampung Timur.

               Banyak orang berpikiran bahwa Kotagajah adalah sebuah daerah pelosok dalam hutan dan masih banyak dihuni oleh gajah-gajah Lampung. Namun, benarkah demikian?

Pada zaman dahulu kala, ketika belum dijadikan pemukiman, kawasan ini memang banyak dihuni oleh gajah. Di sebuah titik di Kotagajah, Pesanggrahan, yang kini dijadikan sebagai balai transmigrasi, ditemukan tempat pemandian gajah. Seiring dengan waktu yang terus berjalan, jumlah penduduk yang menghuni kawasan ini semakin banyak. Para gajah terdesak dan akhirnya dipindahkan secara damai ke taman pelatihan gajah Way Kambas, Lampung Timur. Di sana gajah-gajah tersebut dilatih berbagai keterampilan dan tentunya mendapat perawatan yang lebih intensif.

Kotagajah kini tinggallah sebuah nama pengaruh sejarah dan awal mula perubahan. Bahkan, tak ada satu pun gajah di Kotagajah.

%d bloggers like this: