Kabar di Malam Idul Adha (untuk Ibu dan Ayah)

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Menjumpaimu adalah hal yang selalu kurindu, wahai ibu dan ayahku… namun menerima kabar tentangmu, bahwasannya engkau senantiasa sehat, harmoni, dan istiqomah, dalam rengkuhan kasih sayang Allah SWT. yang  luar biasa, beserta perlindungan-Nya yang tiada akan pernah roboh disenjatai musuh adalah sebuah kabar yang lebih kurindu. Karena, bukankah yang menyebabkan kebagiaan kita adalah cinta kasih yang terpatri dalam hati, tanpa peduli ruang dan waktu? dan bukan sebuah intensitas pertemuan yang menggunung?  Hanya Limpahan cinta, kasih, dan lindungan Allah yang membuat kita mencapai kebahagiaan yang sebenarnya. Aku percayakan Ibu dan Ayah hanya kepada-Nya, sumber segala cinta….. yang Mahasempurna menebarluaskan cinta-Nya.

Ibu, ayah,….

takbir adha telah nyata dikumandangkan. Dan aku tak bersama kalian….

Sesak rasanya mengenang masa-masa indah dahulu dalam menikmati malam yang agung ini. Tak kuasa juga rasanya membendung saluran air mata yang berkomponen cinta dan kerinduan ini. Namun langkah kaki tak cukup hanya sejengkal untuk menggapai keberadaanmu.

Ibu, ayah,…

Jalanan Jakarta  jauh lebih luas dari jalanan kampung kita. Selat sunda yang memisahkan Lampung-Jakarta, luasnya tak cukup sekedar dijembatani dengan potongan bambu tua seperti empang di belakang rumah kita. Jarak yang jauh ini akan berkolaborasi dengan waktu yang panjang menjadi energi luar biasa. Energi itulah yang tak mampu kujangkau sekarang ini meski untuk sekedar mencium tanganmu, memelukmu, dan menyampaikan cinta dan rindu yang amat menggebu. 

Ibu, ayah…..

Jika Allah SWT. menguji Ibrahim untuk melakukan pengorbanan dengan menyembelih putra beliau, Ismail, maka sesungguhnya ujian yang kita dapat tidak lebih berat. Putrimu ini tidak harus disembelih, Bu,… Yah….

Hanya saja terpisah oleh ruang dan waktu. Tapi bukankah justru itu yang harusnya membuat kita bersyukur? sebab kita diberi kesempatan oleh-Nya untuk melakukan pengorbanan di momen yang mengingatkan kita tentang penting dan indahnya sebuah pengorbanan. Dan keterpisahan inilah pengorbanan kita.

Ibu, ayah….

Ismail begitu berbakti pada Tuhan dan ayahnya. Dengan patuh dan hanya karena Allah, Ismail memasrahkan diri. Ahhh… aku masih ingat saja ceritamu ibu… cerita yang kau berikan seraya mengelus halus kepalaku dan sesekali mencium keningku. Masih ingat dengan jelas bu…. Allah memberi perintah kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Meski dengan berat hati, beliau sampaikan hal ini pada Ismail, sang putra tercinta. Ismail pun ternyata memasrahkan diri. Perintah ini turun dari Allah, tak ada sesuatu pun yang pantas menghalangi niat menunaikan kewajiban, melaksanakan perintah-Nya, dari sang Maha pemberi kehidupan. Ismail bersedia untuk disembelih. Subhanalloh…. atas nama baktinya kepada sang ayah agar bisa melaksanakan perintah Allah, serta tulus niat hanya karena Allah, Ismail melakukan pengorbanan. Begitu pun sang ayah, Ibrahim, mengorbankan putranya. Namun Al-Hakim, Allah SWT., berfirman untuk dapat menggantinya dengan  hewan sembelihan yang besar (37:107). Cerita yang dulu dan hingga sekarang membutku takjub, Ibu, ayah… dan putrimu ini percaya, keadilan Allah pun InsyaAllah akan berpihak pada kita dengan kehidupan yang indah, kelak, sebagai buah pengorbanan kita. ^_^…

Ibu, ayah…

Jika Ibrahim dalam (14:39) berkata,

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.”

Aku ingin menjadi anak yang berbakti sehingga  kalian pun akan amat bersyukur pernah memiliki anak sepertiku. Meski sampai kini tak ada yang sudah kuberikan padamu, tak juga mungkin membalas jasa-jasamu dengan pengorbanan yang setara, namun aku tetap rindu untuk berbakti padamu.

Ibu, Ayah….

Idul adha tahun ini putrimu tidak mengunjungimu lagi. Aku tau.. engkau pun meneteskan air mata yang sama denganku, air mata yang berkomponen rindu, cinta, pengharapan, dan sekaligus keikhlasan untuk pengorbanan ini. 

Aku akan segera menemuimu dengan kehangatan bakti dan cinta seorang anak. Nantikanku selalu, ibu dan ayah tercintaku…. ^_^

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Salam rasa cinta dan pengorbanan hanya karena Allah,

dari putrimu tercinta,

Endang Sriwahyuni

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on November 12, 2011, in Creative, Fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: