Bapak TNI Tak Mau Mengalah untuk Saya

Suasana jalan raya sekitar PGC masih juga padat sore itu. Saya berjalan ke arah terminal untuk mencari kendaraan yang akan saya tumpangi sampai rumah Athaya, murid nakal kesayangan saya, di daerah Halim Perdana Kusuma.
Kendaraan Trans Halim yang sedang ngetem sudah hampir penuh. Alhamdulillah, berarti saya tidak usah menunggu terlalu lama. Ya, Trans Halim hanya akan meluncur dari terminal jika kursi penumpagnya sudah penuh dengan formasi 4621 (empat enam dua satu). Maksudnya, satu orang duduk di depan dekat sopir, dua orang duduk di kursi kecil dekat pintu, dan masing-masing empat dan enam orang untuk dua kursi panjang sejajar dengan jendela mobil.
Bagian enam dan satu sudah penuh. Lalu saya duduk di kursi dekat pintu yang cukup untuk dua orang karena kursi yang disetting untuk empat orang tampak penuh meskipun berisi tiga orang. Tepatnya, mereka tak mau bergeser untukku, lebih lagi seorang Bapak berseragan TNI yang duduk si paling pinggir.

Tapi, tak lama kemudian ada dua orang penumpang lagi. Seorang ibu yang duduk di kursi enam menyuruh saya untuk pindah di kursi empat. Ah, bodohnya kenapa saya mau ya. Hmmmm… . Niatnya sih saya mau berlapang-lapang dalam fasilitas umum ini, saya ingin melapangkan tempat saya agar dua orang penumpang baru itu bisa duduk. Tapi sayangnya penumpang yang duduk di kursi empat hanya meluangkan tempat selebar kurang lebih lima centi meter untuk saya duduk. Ahhhh… coba pikirkan, jenis duduk model apa kalau begini caranya???!!! Posisi saya cukup menyeramkan. Saya hanya menempelkan badan saja di kursi itu. Selebihnya saya setengah jongkok. Sungguh, sakit sekali rasanya kaki saya menyangga berat badan ini.

Yang amat saya sesalkan adalah, Bapak berseragam TNI yang duduk tepat di sebelah saya tidak mau mengalah untuk saya. Misalnya menukar posisi tempat duduk agar rakyat nya ini lebih aman. Dia malah sama sekali tidak bertoleransi meskipun mengetahui saya tidak duduk. Padahal, kalaupun tidak mau menukar posisi, saya tau harusnya Bapak itu bisa meminta tolong dua penumoang di sebelahnya untuk sedikit geser agar saya tidak terlalu tersiksa. Air mukanya angkuh sekali. Dia seperti tidak peduli pada yang lain.

Ah…. Alhamdulillah sekitar sepuluh menit setelah itu ada penumpang yang turun sehingga saya bisa mendapatkan posisi yang lebih nyaman. Dan herannya, sampai turun Bapak itu tidak mengubah posisi duduknya sama sekali meskipun dua penumpang di sebelahnya sudah turun. Dia tidak bergerak. Saya sempat berpikir, apakah ini aturan di TNI bahwa duduk harus ajeg, gak boleh geser-geser, gak peduli di angkutan umum pun pokoknya gak boleh geser meski ada penumpang lain gak duduk dengan benar karena ulahnya.

Entah kenapa, saya benar-benar kecewa dengan Bapak berseragam TNI itu. Apakah gelar “TENTARA” yang ia emban hanya untuk Negara, hanya jika Pak Presiden mengamandatkan perang, jika atasan memberikan tugas, dan tidak akan pernah berinisiatif melindungi rakyat jika tidak ada perintah tugas?

Saya tahu, hidup saya memang bukan tanggung jawabnya. Tapi sebagai Tentara tingkat nasional harusnya selain memiliki rasa nasinalisme dengan cinta bangsa dan mau mempertahankan Negara, harus juga mampu mau melindungi rakyat biasa, tanpa mandat Presiden maupun atasan.

Saya tau, tidak semua TNI seperti dia. Saya berusaha menciptakan zero mind terhadap semua ini. Tapi pribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelanga” itu masih berlaku rupanya. Sikap Bapak berseragam TNI di dalam Trans Halim yang tak mau mengalah untuk saya sudah membuat saya kurang respect pada TNI. Seorng tentara nasional tak mau mengalah untuk saya, seorang rakyat.

Lagi-lagi saya yakinkan diri bahwa saya tidak harus selalu menuntut orang lain mengerti saya, tapi saya juga harus mengarti orang lian. Namun, kekecewaan ini tak begitu saja mudah dilupakan. Seorang TNI tak mau mengalah untuk saya di Angkutan umum Trans Halim.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on November 19, 2011, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: