Terusir dari Kawasan itu

Dengan pertimbangan yang InsyaAllah matang, akhirnya keputusan itu aku buat, palu sidang tiga kali berturut-turut aku ketukkan. Ya, akhirnya aku memilih mundur. Alasannya? Aku benar-benar merasa tak dianggap, kerjaku rasanya tidak ada, komunikasi pun jarang sekali. Ternyata aku tak bisa seperti itu. Hmmm… apalagi ada sesuatu yang sangat tak bisa aku terima, ketidakadilan. Ya… ya… memang akan terdengar konyol jika aku ceritakan detil latar belakang dan deskripsi lugas tentang apa yang kumaksud dengan ketidakadilan di atas. Seperti alasan seorang bocah cilik yang merengek ketika sang ibu tidak di sampingnya.
Ada bagian hati yang terkoyak ketika ia berkata bahwa aku pergi setelah mendapatkan semuanya. Sungguh tidak. Aku pergi hanya karena ketidakadilan dan perasaanku yang tak nyaman dengan status antara diakui dan tidak. Aku memang sudah mendapat banyak hal di sana, tapi bagiku itu belum cukup. Aku masih ingin terus menggalinya, di kawasan yang sama, hanya berbeda kedalaman dan jenis tanah saja.
Tapi, panggilan telepon malam tadi merobohkan niatku untuk tetap ada di sana. Ia katakan “hapus” atsa semua data dan memori yang ada, yang pernah ia beri. Sampai kapan pun itu adalah amanah, bagaimana pun aku harus melakukannya. Dengan menyebut nama Sang Khaliq, aku menghapusnya. Aku tak peduli karena memang semua sudah ada back up nya di beberapa teman lain. Yang jelas, ketika kutelusuri dengan “search”, tak lagi tersisa dokumen resmi kawasan itu.
Bisa saja aku tak menghapusnya, toh, dia tak akan tau. Tapi hati dan perasaanku lebih lembut dari siasat. Aku tau diri. Semua itu menjadi bukan hakku ketika sang pemberi tak lagi mengatakan ini adalah hakku. Aku sadar betul, aku sedang diusir dari kawasan ini. Mungkin memang aku tak pantas untuk ada di sini, di kawasan paling rendah sekali pun.
Aku harus pergi. Aku harus mencari kawasan lain yang tak terlarang. Aku harus tetap berdiri, dan memberi bukti bahwa aku akan mamapu berdiri, menelusuri setiap kepingan hari, bukan dengan lara, tapi semangat perjuangan membara.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on December 6, 2011, in anything, My World. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. duuhhh kisahmu ini juga sedang terjadi pada mba. Yang kuat ya Ndang… Allah is by our side… latahzan innalaha ma'ana.

  2. duuhhh kisahmu ini juga sedang terjadi pada mba. Yang kuat ya Ndang… Allah is by our side… latahzan innalaha ma'ana.

  3. really mbak??? yang tabah ya mbak….🙂
    bener2 banyak belajar nih aku mbak…😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: