SUASANA SAMPAH DAN MUKENA KETIKA DHUHA

Alhamdulillah, tak akan juga berlalu hari itu tanpa kasih sayang Allah SWT. Cerah dan terkesan indah saat sayap-sayap surya merengkuh segenap bagian bumi dengan sinarnya. Indikator alam mengetuk pintu hati insan untuk beribadah. “Ukhti”, seorang siswi SMA juga tak enggan menyerukan takbir dan berpasrah sujud dalam sebuah tegak sholat ketika Dhuha.

“Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokaatuh…” ucapnya lirih mengakhiri sholat. Saat itu bel tanda masuk kelas juga berbunyi. Ukhti pun segera beranjak dari duduknya tanpa menyisipkan doa maupun sekedar istighfar. Dia yang tinggal sendiri di mushola tampak terburu-buru. “Duh… gimana nih?… udah masuk, lagi! … mukenanya… ah udah deh, dilepas trus diuwel-uwel aja biar cepet.” Ujarnya dalam hati seraya melakukan apa yang ia pikirkan.

Namun, belum juga ia melepas mukena yang telah diuwel-uwel itu ke dalam lemari, tiba-tiba ada seruan memanggilnya.

“Mbak Ukhti, kok aku diuwel-uwel, sih? Nanti kusut gimana? Trus jadi keliatan gak rapi kan musholanya?!. Aku udah bau banget karena jarang dicuci, masih ditambah kusut lagi. Padahal kan aku pakaian untuk sholat. Masa mau ketemu Allah pake pakaian bau dan kusut kayak aku gini? Aku nggak minta mbak ngelipet aku kok. Tapi tolong, lipet aku setelah make aku mbak… .” Suara dari arah tumpukan mukena.

Ukhti bingung, kok mukena bisa ngomong? Tapi tanpa pikir panjang, ia segera melipat mukena yang tadi ia kenakan dengan rapi. Lalu, ia tumpahkan bedak di telapak tangannya dan kemudian mengusap rata pada wajah manis yang ia miliki. Sambil memandang ke cermin, ia perhatikan wajahnya. “Wah, putih banget, terlalu banyak bedaknya.” Lantas ia lorot tissue dari saku bajunya dan menggunakan tissue itu untuk meratakan bedak di wajahnya. Setelah usai, ia membuang tissue tersebut di lantai mushola lalu hendak berlari untuk kembali ke kelasnya. Akan tetapi, belum juga terlaksana, tissue yang ia buang justru memanggil, “Mbak Ukhti, sayang aku Cuma sampah. Gak sesempurna manusia berkaki yang bisa berjalan bebas pergi ke mana aja. Tolong aku, mbak. Tolong anterin aku ke kotak sampah. Aku gak mau ngotorin tempat sholat ini. Tolong, mbak … .”

Dengan bengong dan jantung berdegup kencang, Ukhti memindahkan tissue itu ke kotak sampah. Ia menangguhkan niat untuk kembali ke kelasnya. Ukhti duduk sejenak di serambi mushola memikirkan dua kejadian tak masuk akal tadi. “Astaghfirullohalazim … sungguh belum kuat imanku. Hanya menjaga kerapihan dan kebersihan mushola saja aku masih enggan! Padahal kebersihan dalah sebagian dari iman. Astaghfirullohalazim… .” Bisik hati Ukhti menyadari kesalahannya.

Cerita yang aneh, lahir semasa SMA, ketika ingin memprotes teman-teman yang tidak peduli dengan kerapihan mukena dan kebersihan mushola sekolah. Memang sedikit aneh dan tak masuk akal sih.😀

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on December 10, 2011, in Creative, Fiction. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. begitulah semestinya…
    dan pastinya mukena itu laku mahal kalau ada…..(karena bisa ngomong… hehe )
    dhuha dan menjaga kebersihan… semoga disayang Allah

  2. Ehmmm… muken alaku karena ada apa mas? Sholat Dhuha? hehe… parah..parah…
    Aamiin.. semoga doa itu berbalik untuk mas hakim🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: