Belajar Tentang Ikhlas

Uang yang ada di dompetku benar-benar sudah miris. Hanya tersisa Rp 1500 saja. Aku lupa belum ambil uang di ATM. Jarak sekolah ke ATM pun cukup jauh. Padahal perut sudah tak kuasa menahan lapar. Aku langsung saja menyerbu koperasi sekolah meskipun terkenal harganya lebih mahal dari harga-harga barang di luaran.

Tak semua makanan boleh kumakan waktu itu. Maklum, aku belum sembuh benar dari sakit magh yang kambuh sejak kemarin. Harga terendah dari jajanan di koperasi sekolah saat itu adalah Rp 1500. Pas sekali dengan jumlah rupiah yang aku miliki. Dan kemudian aku memilih, martabak telorlah yang paling lembut diantara makanan seribu limaratusan lainnya. Berarti, aku hanya bisa membeli martabak telor agar perutku ini tak kenapa-napa lagi.

Habislah uangku. Padahal aku merasa sangat haus. Butuh uang Rp 500 lagi agar bisa membeli air minum kemasan gelas. Tapi aku benar-benar sudah tak punya uang. Lantas, aku coba beranikan diri untuk meminjam uang pada teman. “Teman, gue pinjem uang gopek dong”.

Tragis, ia tak menggubrisku selain hanya memandang sesaat dan seperti tak peduli. Aku langsung terpukul. Aku bertanya dalam hati, apakah selama ini aku pelit sehingga pinjam uang lima ratus rupiah saja nggak dikasih? Perasaan aku nggak pernah terlalu perhitungan sama teman. Dia butuh uang aku pinjami, malah kadang dia lupa memulangkan pun aku diamkan dan coba mengikhlaskannya. Aku lakukan ini juga pada beberapa teman yang lain. Aku mencoba ikhlas dan berharap hanya balasan dari Allah karena Allah maha kaya. Aku fikir selama ini sudah cukup dermawan dan ikhlas. Aku yakin akan mendapat bantuan suatu saat ketika aku membutuhkan. Tapi, nyatanya apa? Uang lima ratus rupiah pun aku tak dapat. Kelu rasanya hatiku. Sungguh, air mataku tumpah membasahi pipi dan kaca mata minus yang aku kenakan.

Aku berdiam diri di mushola, merenungkan semuanya. Astaghfirulloh… sungguh aku keliru telah mengungkit apa yang pernah aku perbuat. Justru ingatku tentang amal yang telah kuperbuat dan keikhlasan yang kugambarkan adalah wujud nyata ketidakikhlasan itu sendiri.

Ikhlas berarti ridho, rela, tanpa mengharap sebuah balasan. Dengan mengungkit-ungkit yang telah kuperbuat dan mengharap balasan atas amalanku adalah sebuah contoh orang yang tidak ikhlas. Astaghfirulloh… salah jika aku menyalahkan temanku yang tak mau meminjami uang, atau bahkan menyalahkan Allah. Justru akulah yang salah. Amal ku belum disertai keihklasan sehingga diriku pun tak pantas menerima ganjaran apa-apa. Wallohu a’lam bishowab.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on December 14, 2011, in Experience, My World. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Pesta kemudian diakhiri dengan berbagi air minum dalam kemasan gelas Menyaksikan itu semua, saya jadi tertegun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: