Analogi Cinta


Cinta itu seperti sebuah Negara,

Abstrak.

Kita tak pernah melihat Negara Inggris, Perancis, atau bahkanIndonesia.

Kita pun tak pernah melihat wujid cinta.

Cinta monyet, cinta lokasi, atau cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Yang terlihat hanyalah bendera, penduduk, dan lambangnya.

Bendera dalam cinta ibarat  sesuatu yang lebih abstrak meskipun nyata.

Puisi dalam surat, pujian dalam pesan, mawar merah yang merekah,

atau sekedar senyum yang tajam menusuk halus.

Kibarnya lebih semarak, menyongsong arakan awan putih di angkasa biru muda.

Penduduknya orang-orang terpilih yang bisa menghargai cinta

beserta kesucian fitrah dari-Nya.

Kesungguhan, adalah rasa nasionalisme dalam cinta.

Lambangnya tetap jantung yang terpanah.

Semua terima, tanpa tanya tentang bagaimana sejarahnya.

Ah. Lambang cinta, kenapa bukan garuda?

Seperti Negara, cinta pun terdengar.

Lewat bahasa, lagu, atau sekedar kita rasakan ideologinya.

Bahasa cinta memesona menukik jiwa.

Lagu-lagu cinta yang membosankan itu, kadang ada benarnya juga.

“Jatuh cinta, berjuta indahnya.”

Dan dengan energy cinta berlebih

Cinta membuat gila setegas bahwa logika memang tak pernah ada.

Ideologi cinta, bukan pancasila.

Melainkan hal monoton yang bervariasi, mengejutkan, dan membingungkan.

Tapi, ah, cinta.

Tak pernah habis dikata.

Endang Sriwahyuni

*setelah membaca sebuah buku teks PKn SMA

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on December 16, 2011, in Creative, Fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: