Satu Makna Hari Ibu yang Terlupakan

sejarah hari ibu

sejarah hari ibu

Beragam jejaring sosial seperti facebook dan twitter hari ini ramai dengan ucapan selamat kepada para ibu. Program gossip selebritis saling sahut memberitakan beberapa artis yang memberikan kejutan kepada ibu mereka. Lembaga dan organisasi menggelar berbagai lomba dengan tema “Ibu”.  Banyak orang mengistimewakan ibu dengan berbagai cara seperti memberi hadiah lucu, cake, coklat, bunga, atau dengan membebaskan sang ibu dari kegiatan sehari-hari yang sangat identik dengan keibuan. Bahkan Presiden SBY beserta Ibu Negara, Ani Yudhoyono, turut hadir dalam sebuah acara kenegaraan di Ballroom Raflessia Balai Kartini Jakarta Selatan, dalam acara peringatan ke-83 Hari Ibu. Ya, hari ini, 22 Desember, Indonesia tengah merayakan Hari Ibu Nasional.

Dalam perayaan Hari Ibu, fenomena di atas kerap menjadi sebuah rutinitas tahunan. Hari Ibu sering dijadikan sebagai momen yang tepat untuk mengungkapkan terima kasih dan berbalas budi atas jasa ibu yang begitu luar biasa. Pada hari tersebutlah para ibu menjadi kaum yang paling istimewa.  Tapi, sadarkah kita, bahwa ada satu makna ibu yang telah terlupa?

Keberadaan dan fungsi seorang Ibu memang sangat luar biasa. Ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anak yang dilahirkannya, para generasi harapan bangsa. Sebab para ibu lah yang seharusnya merawat, mengasuh, mengajari berjalan, mengajari berbicara, serta memastikan dan menyaksikan setiap tingkat perkembangan anaknya terpenuhi sesuai standar. Dengan demikian, kualitas akhlak, moral, intelektual, dan pengetahuan seorang ibu dapat mempengaruhi kualitas generasi muda harapan bangsa tersebut.

Peran strategis Ibu sebagai pendidik pertama bagi generasi muda belumlah sebanding dengan peran lain yang  abstrak, namun bisa dirasakan sebagai kekuatan yang termat dahsyat berupa kasih sayang.  Kasih sayang seorang ibu tak akan pernah bertepi, sampai kapan pun, dalam keadaan apa pun, seorang ibu akan selalu menjaga kasih sayang untuk anaknya. Hal ini adalah sebuah fitrah yang tak cukup selesai jika hanya dideskripsikan dengan 26 jenis huruf dalam abjad, dan tak pernah terhitung dengan kombinasi 10 jenis angka.

Hari Ibu Nasional bermula dari sebuah kongres perempuan I yang diadakan pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres ini dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di daerah Jawa dan Sumatra. Organisasi perempuan itu sendiri sudah ada sejak tahun 1912 dan diilhami oleh pejuang wanita seperti Martha Christina Tiahahu, Cut NYak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R. A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dll.

Dalam kongres tersebut, para pimpinan organisasi perempuan Indonesia bersatu membahas dan mencari ide-ide solutif untuk memperjuangkan perbaikan nasib kaum perempuan dan bangsa. Bahasan tersebut antara lain mengenai pemersatuan kaum perempuan se-Indonesia, pelibatan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan ibu dan anak, perdagangan perempuan dan anak-anak, pernikahan dini bagi perempuan, dll.

Hari Ibu itu sendiri diputuskan pada Kongres Perempuan III tahun 1938. Peringatan ke-50 tahun Hari Ibu dirayakan seluruh rakyat Indonesia dari Meulaboh sampai Merauke. Presiden pun mengakui secara nasional bahwa tanggal 22 Desember adalah hari ibu melalui Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1959.

Misi perayaan hari ibu pada waktu itu adalah mengenang semangat perjuangan para perempuan untuk memperbaiki kualitas bangsa Indonesia.  Di Solo, perayaan ke-25 tahun Hari Ibu dikemas dengan membuat pasar amal yang hasilnya digunakan untuk menyumbang Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Segala bentuk perayaan hari Ibu bersifat perbaikan bangsa.

Hal ini berbeda sekali dengan bentuk perayaan Hari Ibu masa kini. Hari Ibu kini sekedar menjadi ajang ucapan terima kasih, pujian, dan pembebasan kerja untuk ibu. Tidak tampak lagi semangat negarawati kaum wanita untuk turut memperbaiki kualitas Indonesia. Padahal, ucapan terima kasih dan pengistimewaan ibu harusnya dilakukan setiap hari karena ibulah yang telah merawat dan membesarkan kita, Ibulah pejuang pendidikan pertama kita, generasi harapan bangsa.

Memang, tak ada salahnya untuk memicu semangat berterimakasih dan mengistimewakan ibu dengan mengkhususkan satu hari tertentu. Hal ini dapat menjadi solusi atas fitrah manusia yang sering lupa. Akan tetapi, kita juga tidak boleh melupakan sebuah makna hari ibu untuk bersatu, berjuang, memperbaiki kualitas bangsa Indonesia.

Salam semangat Hari Ibu. Kaum Wanita, kita berperan perbaiki bangsa.

Artikel ini juga dimuat di : http://suarajakarta.com/2011/12/22/satu-makna-hari-ibu-yang-terlupakan/

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on December 22, 2011, in Creative, non-fiction and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: