Monthly Archives: January 2012

Jendela Hati (By: Saujana)

Aku Ingin Hidup Secerah Mentari
Yang Menyinar Di Taman Hatiku
Aku Ingin Seriang Kicauan Burung
Yang Terdengar Di Jendela Kehidupan
Read the rest of this entry

Advertisements

Kebijakan Bangku Sekolah untuk Dwiki

โ€œKak, sebenernya aku harusnya udah kelas lima kak. Tapi waktu itu bangkunya nggak muat, jadi aku disuruh kelas empat lagi.โ€

Demikian tutur Dwiki, seorang bocah jalanan yang biasa beroperasi di salah satu titik Jakarta Selatan. ย Sehari-harinya ia memulung barang bekas seperti botol air mineral, kardus, bungkus rokok, dll. bersama adik kandung dan beberapa teman seperjuangannya. Mereka biasa beroperasi pada pukul 18.00 sampai dengan 20.00 WIB. Namun, bisa juga sampai lebih malam jika keesokan harinya libur sekolah. Mereka adalah sebagian kecil dari pelaku kisah anak jalanan Jakarta dalam alur kehidupan yang nyata. Read the rest of this entry

Stralaga Sembilan Belas (Bagian I)

les privat

Mengenang masa dulu, ketika pertama kali saya harus mencari Komplek Dwikora di daerah Halim Perdana Kusuma. Saat itulah saya mengawali kisah tentang Stralaga 19. Tepat di hari Selasa, suatu sore yang cerah, selepas sholat Ashar. Setelah sampai di PGC, saya harus melanjutkan perjalanan menggunakan Trans Halim. Sesaat sempat terlintas dalam bayang, Trans Halim adalah semacam Trans Jakarta atau bus yang nyaman sejenisnya. Namun, sontak. Saya terheran. Nyatanya, Trans Jakarta adalah kendaraan ber-genre angkot, berwarana biru. Meskipun berwarna sama, namun jurusan angkot ini bisa berbeda, misalnya jurusan Gardu dan Halim. Untuk pergi ke Dwikora, saya harus naik angkot jurusan Halim. Read the rest of this entry

Tari Piring 12- Tradisional Lampung

Galau. Rindu Ukhuwah. Bukan Puisi.

Aku tak ingin ketidakbertanggungjawabanku menjadi sesuatu yang semakin cela,
seperti dusata, yang sekali dilakukan kian menambah dusta.
Aku tak ingin lagi bincangkan bedanya kita, tidak bersamanya kita.
Aku tak ingin lagi bincangkan apa-apa. Sebab ujarku tak lebih dari menjadi sebuah luka, luka yang tak kunjung terobati pada jiwamu yang juga mulai meradang.
Biar, jika memang kita tak harus ada di jalan yang sama,
Tapi semoga kelak kita bertemu atas satu tujuan yang sama,
di sana,
di haribaan yang penuh keberkahan-Nya.
Setidaknya segala kenangan manis kita,
saat kalian memapah langkahku di jalan ini,
saat kalian kenalkan aku dengan teman-teman yang akan berjalan di sini,
saat kita menantang badai lautan dan hujan di sebuah pulau yang jauh dari jangkauan kaki,
saat kita bermimpi,
saat kita saling menguatkan,
dan segala saat dimana kita pernah bersama,
akan senantiasa lekat di hati ini, dalam lubuk pikir ini.
Meskipun kalian pulalah yang membuatku galau, membuatku kebingungan kemana lagi harus melangkah, membuatku benar-benar sadar bahwa aku butuh saudara, butuh kalian ada.
Ketika aku terjaga dari tidurku yang teramat panjang, dan aku sadar tak ada lagi kalian bersamaku, aku menangis. Aku takut menghadapi badai dan hujan yang akan turun lagi. Aku bahkan takut sekedar menatap matahari. Dan aku takut untuk membuang kegalauan ini. Aku bahkan takut untuk memilih jalan yang baik di kota ini.
Berlebihan mungkin.
Tapi tolong, ukhti.
Jangan salahkan aku atas galau dan takutku.
Jangan salahkan aku atas kebodohanku.
Kalian bahkan tau, saat itu, aku bukanlah apa-apa.
Aku bahkan ibarat kapas di antara emas.
Hingga aku mampu menyerupai emas, dan belum emas, butuh kalian untuk menjadi emas, kalian justru meninggalkanku.
Yang tersisa kini hanyalah serupa, bukan tidak atau iya dari keadaan yang seharusnya.

Catatan Seorang Introvert, Intrapersonal


Paham betul bagaimana para sosial menyoal,
bagaimana masyarakat berpendapat,
bahwa supel adalah yang paling super.
Dan aku tidak.

Sejenisku mungkin yang tak baik bagi mereka, egois, individualis.
Sejenisku, yang tak mampu lebih baik dalam berkarya bersama orang,
mungkin adalah sisi kehidupan gelap yang merepotkan, menyebalkan.

Mereka bilang aku introvert!
Mereka hakimi aku intrapersonal.
Mereka mencaci tanpa devinisi.
Mereka menilai tanpa rubrik yang pasti.
Bahkan tak mampu jelaskan beda dari keduanya.

Mereka menuntuktu berubah,
Tapi tak pernah pandang ubah atau belumkah.
Tapi tak pernah tau bahwa seni sebuah perubahan
Tak sesederhana membalikkan telapak tangan dari menutup lantas membuka. Read the rest of this entry

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 13,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 5 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

%d bloggers like this: