Lirik Anak Jalanan, Tak Semua Kasar dan Kriminil

anak jalanan

kanan ke kiri: Fadhil, Dwiki, Rian

Jakarta, Ibu Kota Indonesia, adalah potret sebuah kehidupan yang berimbang dalam hal keberadaaan kalangan masyarakat. Yang kaya, bahkan sangat kaya, bertaburan di mana-mana. Yang miskin, sangat miskin, bahkan yang nyaris tak punya lagi semangat hidup pun ada. Ya, begitulah Jakarta. Hal tersebut bisa tergambar dari pemandangan publik jalanan. Di sana kita paling tidak bisa menyaksikan dua sisi kehidupan sekaligus. Orang-orang kaya nyaman berkendara dengan mobil mewahnya, sedangkan orang-orang yang tidak kaya berjalan menikmati lagu yang dinyanyikannya dan atau meminta-minta. Minimal bisa tampak dari keberadaan para pejabat dan anak jalanan. Tak perlulah kita mendefinisikan kaya dan miskin di sini. Yang jelas, salah satu kalangan yang termasuk miskin adalah anak jalanan.

Anak jalanan yang saya masksud adalah anak-anak yang mencari penghidupan di jalanan Jakarta dengan mengamen, berjualan minuman keliling, memulung sampah, dan sejenisnya. Mereka banyak menghabiskan waktu berkeliling jalan Jakarta. Saya juga memandang anak-anak yang sering terdampar di pinggir jalan usai bekerja (mengamen, memulung, dll) sebagai salah satu identifikasi anak jalanan.

Sekilas, ketika melihan kawanan anak jalanan, saya merasa takut. Logat bicara mereka keras dan sedikit kasar. Saya juga membaca potensi-potensi kriminalitas yang tinggi pada mereka. Makanya, saya sering merasa sedikit was-was ketika harus bertemu anak-anak jalanan, termasuk pengamen di bus kota.

Namun, pada suatu malam saya mencoba menghampiri dua orang anak jalanan yang sering duduk di depan alfamart perdatam. Awalnya saya takut mereka akan macam-macam, atau bahkan mereka akan menyangka saya yang macam-macam. Akan tetapi, saya tetap memberanikan diri berbicara dengan mereka berbekal niat tulus ungin tahu dan sedikit makanan.

Saya bingung berhati-hati memilih diksi yang baik untuk diucap. “Dek”, begitu mulanya saya memanggil mereka. Kemudian saya bertanya “Kok belum pulang?”, Lantas saya melanjutkan pertanyaan apakah mereka biasa ada di tempat itu atau tidak. Mereka jawab ya. Anak-anak itu ada di jalanan dari jam enam sore sampai jam delapan malam untuk memulung. Sampah yang mereka pulung biasanya jenis botol dan gelas air mineral, kardus, Koran, dan bungkus-bungkus rokok. Kemudian barang-barang tersebut mereka jual ke “bos” yang menampung barang-barang tersebut di sekitar tempat tinggal mereka, di kawasan pemukiman, Pancoran.

Tak lama kemudian, seorang anak lagi datang menghampiri mereka dengan berkata, “Dek, pulang yok”. Saya tersentak. Kata-kata itu menyentuh hati saya. Dia berbicara dengan logat dan nada yang baik pada adiknya. Tapi saya segera kuasai alam diri saya dan melanjutkan obrolan dengan mereka.

Saya bertanya tentang banyak hal, layaknya sahabat yang ingin mengetahui kondisi sahabatnya. Dari obrolan ini saya tahu bahwa mereka masih sekolah. Dwiki dan Rian kelas lima sedangkan Fadhil (adik Dwiki) kelas empat. Kami berbincang lebih akrab. Mereka hanyalah anak-anak yang polos, sebenarnya. Bahasa mereka santun. Dan saya seketika berpikir ulang atas stereotype saya yang tidak adil menganggap semua anak jalanan berbahasa dengan logat kasar dan berpotensi kriminal tinggi. Nyatanya, tiga anak yang saya temuai tidak demikian. Ya, tapi kalo soal potensi kriminal sih, kita harus tetap hati-hati, bukan hanya dengan anak jalanan, tapi semua, bahkan pejabat pun berpotensi melakukan hal tersebut. Tapi yang jelas, saya yakin bahwa ketiga anak ini tidak akan melakukan kriminalitas atau terjerumus pada hal-hal tersebut jika mendapat bimbingan yang baik. Mereka masih bisa dibentuk, masih punya harapan untuk menjadi orang yang baik-baik.

Ada yang menarik dari cerita Dwiki, “Kak, sebenernya aku harusnya udah kelas lima kak. Tapi waktu itu bangkunya nggak muat, jadi aku disuruh kelas empat lagi.” Begitu katanya. Saya heran, bagimana mungkin ini bisa terjadi? Mengapa sekolah menetapkan kebijakan yang demikian konyol? Apakah karena memang Dwiki tidak layak naik kelas? Atau, apa? Mau tahu kelanjutannya? InsyaAllah aka nada di tulisan selanjutnya.😀

tulisan ini juga dapat dibaca di : http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2012/01/09/lirik-anak-jalanan-tak-semua-kasar-dan-kriminil/

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on January 9, 2012, in Creative, non-fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: