Kebijakan Bangku Sekolah untuk Dwiki

“Kak, sebenernya aku harusnya udah kelas lima kak. Tapi waktu itu bangkunya nggak muat, jadi aku disuruh kelas empat lagi.”

Demikian tutur Dwiki, seorang bocah jalanan yang biasa beroperasi di salah satu titik Jakarta Selatan.  Sehari-harinya ia memulung barang bekas seperti botol air mineral, kardus, bungkus rokok, dll. bersama adik kandung dan beberapa teman seperjuangannya. Mereka biasa beroperasi pada pukul 18.00 sampai dengan 20.00 WIB. Namun, bisa juga sampai lebih malam jika keesokan harinya libur sekolah. Mereka adalah sebagian kecil dari pelaku kisah anak jalanan Jakarta dalam alur kehidupan yang nyata.

Ketika diwawancarai mengenai sekolah, Dwiki beserta adik dan teman-teman seperjuangannya menunjukkan keterbukaan dan antusias yang tinggi. Mereka memiliki semangat luar biasa untuk bisa sekolah. Beruntung, meskipun mereka anak jalanan, tinggal di pemukiman yang tergolong kumuh, namun masih bisa menikmati dunia sekolah.

Ada pernyataan yang menggelitik dari Dwiki seperti kutipan di atas. Ia harus mengulang lagi duduk di kelas empat. Hal ini terjadi ketika di tahun sebelumnya Dwiki dan keluarganya baru saja berpindah dari kampung ke Jakarta (urbanisasi_red). Otomatis, ia juga harus pindah sekolah. Ketika itu ia seharusnya sudah duduk di kelas lima. Akan tetapi, di sekolah yang ia tuju sudah tidak tersedia lagi bangku kosong untuk ia duduki. Sehingga pihak sekolah pun membuat kebijakan untuk tetap menerima Dwiki, namun dengan mengulang lagi duduk di kelas empat. Demi bisa sekolah, Dwiki dan keluarganya pun menyetujui hal tersebut.

Ada sebuah kebijakan pendidikan yang janggal dalam kasus di atas. Jika memang alasannya adalah karena tidak ada bangku di kelas lima, sedangkan di kelas empat ada, mengapa pihak sekolah tidak memindahkan bangkunya saja ke ruang kelas lima? Rasanya tidak sulit untuk menambahkan satu bangku saja di sebuah ruang kelas. Dengan demikian, masa pendidikan yang dihabiskan oleh Dwiki akan lebih efektif, tak perlu mengulang-ulang lagi. Toh, alasan Dwiki mengulang kelas bukan karena ia memang tidak naik kelas.

Selain itu, kebijakan agar Dwiki mengulang lantaran masalah ketiadaan bangku adalah sebuah kebijakan yang kurang ramah terhadap perkembangan psikologis anak. Buktinya, ketika ditanya kelas berapa, Dwiki menjawab kelas empat dan menambahkan keterangan bahwa seharusnya ia duduk di kelas lima dan seterusnya. Ia menganggap bahwa bagian itu penting sehingga merasa orang lain perlu mengetahuinya. Dwiki sebenarnya kecewa dengan kenyataan harus mengulang kelas. Namun, ia tak memiliki kuasa untuk merubah keadaannya. Dengan menceritakan kondisi sebenarnya pada orang lain yang bertanya ia kelas berapa, Dwiki akan memiliki self-esteem yang tinggi. Ia akan merasa bahwa keberhargaan dirinya diakui oleh orang lain ketika sekolah seolah telah menjatuhkannya. Hal ini wajar terjadi, seperti pernyataan Abraham Maslow dalam teori Hirarki Kebutuhan Manusia, yang salah satunnya adalah kebutuhan akan  self-esteem. Oleh karena itu, keputusan agar Dwiki maupun anak yang lain untuk mengulang kelas (kecuali memang tidak naik kelas seperti karena nilainya buruk dsb.) adalah sebuah keputusan yang harus dihindari karena dapat menjatuhkan self-esteem. Sebaiknya diganti dengan kebijakan yang lebih cerdas dan adil.

Mungkin, ada Dwiki Dwiki lain yang merasakan kasus serupa. Meskipun sepele, namun sebaiknya para subjek pendidikan lebih peduli dengan hal semacam ini karena sesuatu yang besar bisa terjadi akibat hal yang kecil dan sepele. Satu persepsi yang semestinya kita pahami bersama mengenai sekolah adalah bahwa sekolah bukan sekedar fasilitas formal untuk mencetak hasil-hasil kognitif anak dalam buku rapor, bukan sekedar mencapai kemampuan psikomotor anak, namun juga agar anak mampu mengembangkan kemampuan afektifnya seperti self-esteem; self-awareness; kejujuran; dll. Dengan demikian, setiap kebijakan sekolah yang dibuat harus mempertimbangkan setiap aspek perkembangan anak, sebab sekolah adalah tempat mendidik, bukan menghukum.

Tulisan ini juga ada di suarajakarta.com

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on January 26, 2012, in Creative, non-fiction and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Thiara Rizka Hasyuni

    kak, saya tertarik sama blognya kakak.. kalo boleh berbagi informasi bisa minta emailnya? karena saya juga seorang aktivis anak… terima kasih kak,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: