Stralaga Sembilan Belas (Bagian I)

les privat

Mengenang masa dulu, ketika pertama kali saya harus mencari Komplek Dwikora di daerah Halim Perdana Kusuma. Saat itulah saya mengawali kisah tentang Stralaga 19. Tepat di hari Selasa, suatu sore yang cerah, selepas sholat Ashar. Setelah sampai di PGC, saya harus melanjutkan perjalanan menggunakan Trans Halim. Sesaat sempat terlintas dalam bayang, Trans Halim adalah semacam Trans Jakarta atau bus yang nyaman sejenisnya. Namun, sontak. Saya terheran. Nyatanya, Trans Jakarta adalah kendaraan ber-genre angkot, berwarana biru. Meskipun berwarna sama, namun jurusan angkot ini bisa berbeda, misalnya jurusan Gardu dan Halim. Untuk pergi ke Dwikora, saya harus naik angkot jurusan Halim.

Sepanjang perjalanan, saya perhatikan sekeliling jalan yang baru sekali saya lewati. Sedikit cemas kala itu karena memang belum pernah datang ke sana sebelumnya. Akan tetapi, ketika sudah memasuki gerbang Landasan udara (lanud) Halim Perdana Kusuma, saya merasa sedikit tenang. Saya kembali menikmati perjalanan.

Kawasan Lanud Halim Perdana Kusuma yang saya lalui tampak seperti deretan rumah yang bisu, tanpa kehidupan, sepi. Ada sawah yang memiliki hijau tanaman padi di sana. Suasana pedasaan masih terasa. Sejuk. Namun, ada juga aroma seram dari pekarangan panjang tak terurus yang ditanami pohon bambu. Setiap jalanan terasa benar-benar sepi. Sampai akhirnya sedikit saya lebih merasa bahagia menemukan sebuah kehidupan di penghujung rute angkot Trans Halim yang saya tumpangi, yaitu di depan Masjid Dwikora. Masjid itulah yang sampai kini akhirnya turut menjadi saksi perjuangan, serta tempat terkadang mengadukan kelelahan.

Turun dari Trans Halim, saya masih harus berjalan kurang lebih selama dua menit menuju sebuah rumah di jalan Stralaga nomor 19. Ya, di sana saya mengajar privat Bahasa Inggris dua bocah kecil yang lucu, Athaya dan Atthariq. Mereka adalah dua anak yang cerdas. Sebagai kakak adik, mereka pun cukup akur walaupun jarak usia mereka tak terpaut jauh.

Awalnya, mereka seperti dingin dengan saya. Ya, biasalah, masih butuh adaptasi dengan guru les yang baru. Oh, atau mungkin justru saya yang masih butuh adaptasi dengan murid baru?😀

Yang jelas, lambat laun, setelah beberapa kali bertemu untuk belajar bersama, kami semakin dekat. Mereka bisa menerima saya. Saya senang ketika mereka bisa belajar, tertarik dengan ide pembelajaran yang saya terapkan, dan banyak bertanya untuk lebih menggali apa yang sedang dipelajari.

Sampai suatu malam, saya merasakan kedekatan kami begitu berarti. Saat itu, saya mengajar mereka dalam satu hari, padahal biasanya di dua hari yang berbeda. Hal ini tak lain adalah karena jadwal ujian saya yang padat dan juga biar lebih hemat ongkos di akhir bulan. Athaya menemui saya dengan raut wajah yang kehabisan daya ceria. Dia tidak semangat belajar. Tapi saya mencoba untuk tetap semangat dan berharap semangat ini akan menular. Dari ruang keluarga saya dengar Ibu dari kedua anak yang saya didik ini marah-marah kepada anak yang satunya lagi. Entahlah apa sebabnya.

Ketika makan malam, saya baru mengetahui bahwa sang ibu memang sedang banyak marah-marah pada kedua anaknya yang cerdas-cerdas dan cenderung agak manja. Kemarahan itu pulalah yang menyebabkan Athaya malas belajar, dia merasa pusing, setelah lelah belajar di sekolah masih harus belajar di rumah dan dimarah. Tapi kemudian, setelah tau masalahanya, saya coba ajak dia belajar lagi. Saya hibur dia dengan tebakan-tebakan Bahasa Inggris yang lucu tapi berbobot. Dia mulai bisa tertawa. Bahkan, dia semangat belajar lagi seperti kemarin-kemarin. Begitu juga dengan Atthariq yang awalanya malas belajar ketika disuruh oleh ibunya, tapi justru menjadi sangat semangat ketika belajar dengan saya. Sungguh, selama mengajar, saya baru kali ini mengajar anak SD, saya beru pertama menghadapi kasus seperti ini. Tapi saya senang jetika ternyata kedekatan saya dengan mereka bisa menolong saya untuk menenangkan mereka, membuat mereka mau belajar, dan bahkan menyisipkan nilai-nilai moral untuk menjadi anak yang baik.

Sungguh, maha kuasa Allah Azza Wajalla. Meski sepele, tapi saya bisa mendapatkan pelajaran bahwa seorang guru memang harus dituntut untuk benar-benar kreatif dan fleksibel. Misalnya saja dalam menghadapi kasus siswa yang sedang tidak mau belajar atau pun bad mood, guru harus bisa menerapkan metode yang bisa menarik mereka sehingga mau belajar lagi dan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar. Sebab, misi pendidik adalah untuk mendidik, bukan sekedar hadir dan menerima insentif. Satu palajaran lagi yang harus saya ingat, ketika nanti menjadi seorang ibu, kemarahan bukanlah sebuah kunci yang solutif untuk mendidik anak. Sebab terlalu banyak marah pun hanya akan membuat si anak muak. Harus bisa juga nih menjadi ibu kreatif😀. *Agak ngaco lama2. Hmmm… semoga bermanfaat.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on January 26, 2012, in anything, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: