Celengan Bambu

Aku berdiri di ambang pintu kelas. Tanganku hampa, tak membawa apa-apa. Tapi hatiku menggenggam kobaran semangat yang tak terhingga, tak terhitung dengan satuan angka. Senyumku mengembang. Dunia baru ini sudah berhasil aku pijak meskipun baru setapak. Dunia yang kata orang penuh ilmu pengetahuan. Dunia yang dimotori oleh para guru yang sabar mengajar baca, tulis dan hitung. Dunia yang ramai canda, tawa, dan aksi nakal makhluk kecil berseragam merah putih. Dunia yang aku yakin bisa mengubah diriku menjadi bintang masa depan. Sederhana, dunia baru itu adalah dunia sekolah.

Kuperhatikan diriku sendiri. Seragam merah putih lusuh ini adalah warisan kakakku yang sudah tak muat lagi dikenakannya. Sandal japit tipis menjadi alas kaki, bukan hanya sehari, tapi setiap hari. Memang tak ada yang memakai sepatu di sekolah ini. Tas sekolah beragam model dan motif pun tak ada. Kantong kresek hitam bekas bungkus belanjaan mamak kugunakan untuk membawa buku dan peralatan tulisku. Lumayan, setidaknya bisa menjaga benda-benda berharga yang kubawa dari hujan ketika ia turun.

Aku menjalani hari-hari penuh dengan antusias dan kesungguhan sebagai seorang pembelajar. Sampai pada ujian catur wulan satu aku mendapatkan peringkat kedua di kelas. Aku memang belum berhasil jadi bintang kelas nomor satu. Tapi suatu hari nanti, pasti aku bisa. Semua masih berproses sesuai masanya. Dan lagi-lagi aku yakin, aku pasti bisa!

“Hahahahhaa… Ayo, ayo terus… Hahaha….” Teriakan bocah-bocah seusiaku bersahutan dengan nada yang sama. Teramat keras membuyarkan lamunanku. Kini aku sadar bahwa dunia yang bahkan baru setapak kupijak sudah kutinggalkan. Dan sekarang aku memijaki dunia yang lebih baru lagi. Dunia yang tak pernah kumimpi. Dunia getir yang tak pernah kuharapkan.

Kini bukan dentingan lonceng penanda pergantian jadwal yang akrab di telingaku, melainkan desiran angin, aliran air sungai menuju muara, dan suara alam. Kini bukan lagi pohon jarak Cina di halaman sekolah yang menjadi tempat andalan bermain, melainkan pekarangan tak terurus yang ditumbuhi rerumputan hijau. Dan kini, bukan lagi makhluk kecil berseragam merah putih yang menjadi pasukanku, melainkan anak-anak tak berbaju yang setiap harinya bermandian di sungai seraya memandikan kerbaunya. Drastis. Duniaku berbalik seperti ini. Aku masih berada dalam tanya dan kecemasan, akankah kumampu memijaki dunia sekolahku lagi? Sungguh, aku merindukannya, aku ingin kembali ke sana.

Aku tertekan dengan kondisi ini. Aku tetap menuntut Pak Lek Darso memenuhi janjinya. Dulu, setelah pembagian buku rapor catur wulan pertama, Pak Lek begitu bangga melihat nila-nilaiku yang bagus.

“Kamu pintar, le.” katanya.

Dapet hadiah apa dari mamak?” Tanya Pak Lek Darso kemudian.

“Gak dapet apa-apa, Pak Lek. Tapi aku udah seneng banget kok.” Sahutku bersemangat.

“Gini, Pak Lek punya hadiah buat kamu. Tapi ada syaratnya.”

“Wah, yang bener?”

“Iyalah, Le… masak Pak Lek mau bohong.”

“Hadiah apa, Pak Lek?”

“Kerbau.”

“Wah… Kerbau? Iya, iya… aku mau deh, Pak Lek.”

“Tapi ada syaratnya ya.”

“Syarat itu apa, Pak Lek?”

“Syarat itu sesuatu yang harus kamu lakukan biar bisa dapet apa yang kamu mau. Jadi, kayak perjuangan. Kamu harus kerja keras kalo mau dapet kerbau dari Pak Lek.”

“Hmmm… siapa takut. Jadi aku harus ngapain, Pak Lek?”

“Gini, kamu harus gembalain kerbau-kerbau Pak Lek setiap pulang sekolah.”

“Loh, tapi kan rumah Pak Lek jauh… .”

“Iya, jadi kamu pindah aja sekolahnya di dekat rumah Pak Lek. Nanti Pak Lek sekolahin, tenang aja. Pulang sekolah kamu langsung gembalain kerbau. Nanti kalo kerbaunya udah punya anak dua, Pak Lek kasih satu kerbau ke kamu. Gimana?”

“Wah… hore…! Nanti aku punya kerbau sendiri. Hore…!” Sambutku riang, penuh kejujuran seorang anak kecil yang tak banyak pemahaman tentang hidup.

Aku, seorang anak berusia 9 tahun bernama Danu, begitu senang mendengar tawaran ini. Aku membayangkan bahwa aku akan menjadi seorang yang kaya dan pintar, karena selain sekolah aku juga akan punya kerbau. Aku akan bisa membiayai sekolah adik-adikku yang masih ada 4 orang lagi.

Lantas, aku segera meminta izin pada mamak. Mamak mengizinkanku. Bahkan mungkin mamak sebenarnya senang dengan kepergianku karena beban yang harus ditanggungnya berkurang satu. Mamak adalah seorang janda. Bapak telah meninggal dua tahun lalu karena sakit. Dua orang kakakku pun masih sekolah.

***

Di rumah Pak Lek, aku mengawali pagiku dengan membantunya di ladang terlebih dahulu. Beliau tak langsung mendaftarkanku sekolah. Mungkin menunggu waktu yang tepat. Dan sebagai anak baik-baik, aku pun sabar menunggunya.

Siang harinya, aku pulang ke rumah Pak Lek, makan dan istirahat sejenak, lalu menghampiri kerbau untuk kugembalakan di sawah belakang rumah Pak Lek. Terik dan angin yang tak henti menjelajahi ruang bumi, tak sedikit pun menarik peduli pada anak kecil sepertiku. Aku membawa sebuah buku tulis sekolahku dulu. Aku tak ingin lupa pada pelajaran-pelajaranku meski sudah beberapa hari belakangan ini aku tidak masuk sekolah.

Sambil membiarkan pasukan kerbau milik Pak Lek menikmati air lumpur mandinya, aku abaikan anak-anak seusiaku yang ramai bermain bersama di alam bebas. Aku tekuni halaman demi halaman buku tulis yang aku bawa. Aku sudah pernah belajar menulis beberapa jenis abjad dan angka. Aku sudah hafal. Sedikit-sedikit aku bisa menulis. Aku juga sudah bisa menulis namaku sendiri meski dengan bentuk huruf yang kacau.

Ketika sore datang, aku pulang membawa kerbau-kerbau yang aku gembalakan. Lantas mandi dan berangkat mengaji di mushola Al-Iklhas dekat rumah Pak Lek. Tak henti, semua kegiatan ini menjadi rutinitas tanpa rencana sampai dua minggu aku tinggal di sana. Sampai suatu malam aku beranikan diri menemui Pak Lek yang sedang duduk menikmati rokok dan kopi di bawah teduhnya sinar rembulan, di halaman rumah.

“Pak Lek.” Sapaku mendekati Pak Lek.

“Hmmm.” Jawab Pak Lek setengah menggumam dengan nada bentak.

Ada sedikit perasaan takut membersit di hatiku. Sejak tinggal di rumah Pak Lek, aku jarang berkomunikasi dengannya. Ia sibuk pergi entah ke mana. Jawaban yang setengah menggumam malam ini, membuatku khawatir ia akan marah jika aku mengatakan ingin minta sekolah. Entah mengapa perasaan ini timbul begitu saja.

“Pak Lek, kapan aku didaftarin sekolah?”

“Halah! Sekolah, sekolah! Kamu gembala kerbau aja belum bener minta sekolah segala!”

“Tapi kan Pak Lek udah janji mau sekolahin aku di sini. Aku pengen sekolah, Pak Lek.”

“Halah! Udah! Pak Lek capek. Masuk rumah sana. Tidur!”

Aku tak mengerti kenapa Pak Lek jadi seperti ini. Apakah aku melakukan sebuah kesalahan sampai Pak Lek marah begini? Ah. Entahlah. Aku tak peduli ia akan marah seperti apa pun. Aku hanya ingin bisa sekolah lagi, itu saja. Keesokan harinya, aku mencoba menemui istri Pak lek, yang sedang memetiki sayuran yang akan dimasak.

“Bulek, kok aku nggak didaftarin sekolah ya sampe sekarang? Aku udah empat bulan di sini, aku takut ketinggalan banyak pelajaran, Bulek, kalo lama-lama nggak sekolah.”

Bulek tak sedikit pun berpaling dari sayurannya. Kata-kataku mungkin ia cerna dalam lubuk fikirnya, akan tetapi respon tak juga kunjung datang. Ekspresinya datar. Sedikit senyum pun sama sekali tak menyungging sebagai simpulan di bibirnya. Seketika badanku melemas mengahadapi segala kondisi ini. Pak Lek dan Bulek rasanya tak mempedulikanku lagi. Entah apa sebabnya, aku tak tahu. Tapi mereka menjadi seperti sepasang suami istri yang sama dingin.

***

Pikirku masih memompa keras mesin peluncur ide dalam otak. Aku sungguh rindu dengan sekolah. Aku masih ingin menjadi anak pintar. Bahkan aku sudah lupa tentang janji hadiah seekor kerbau dari Pak Lek. Seperti tak penting lagi menjadi orang kaya gara-gara punya kerbau.

Ah, tapi Pak Lek dan Bulek tak dapat diharapkan saat itu. Lagi-lagi entah kenapa.

Sempat suatu kali aku coba dekati Pak Lek lagi. Aku fikir, mungkin Pak Lek lupa dengan janji lain bahwa aku akan disekolahkannya di sini, asal aku mau menggembalakan kerbau-kerbaunya. Ya, setiap hari aku sudah melakukan tugasku dengan baik. Bahkan aku berikan bonus sekaligus mencari kayu bakar untuk Bulek gunakan memasak di tungku.

“Pak Lek.” Ucapku berhati-hati seraya mendekati Pak Lek yang sedang berdiam diri di kursi rotan beranda rumah. Malam cerah dan meriah oleh tebaran bintang. Aku berharap kecerahan langit akan mencerahkan hati dan pikiran Pak Lek.

Jarum jam berpindah mengitari dua belas angka tanpa henti. Butir-butir detik menjadi satuan menit yang pula tak henti sampai lama yang dibahasakan manusia sebagai seperempat jam. Aku hanya diam. Sedangkan Pak Lek masih terus menghisap rokok lantas menghempaskannya, sambil sesekali membuang abunya ke dalam asbak tanah di atas meja. Tak ada jawaban dari Pak Lek. Tak ada sepatah kata pun mengalir di antara kebersamaan kami. Kelu. Hatiku semakin rapuh, meski aku sama sekali tak menyimpan dendam pada Pak Lek. Aku hanya berpikir, mungkin Pak Lek lupa bahwa ia akan menyekolahkanku.

Ingin rasanya aku mengingatkan Pak Lek tentang janji-janjinya. Tapi setiap kali aku temui, Pak Lek tak bisa diajak berkomunikasi. Ingin aku kembali pulang ke rumah mamak lalu minta disekolahkan lagi di sana, tapi aku tak tahu ke mana jalan pulang.

Rumah Pak Lek ada di sebuah daerah terpencil. Sama seperti derah rumah mamak, sebenarnya daerah ini adalah daerah transmigrasi yang masih penuh keterbatasan, termasuk keterbatasan penduduk.

Aku tak menemukan orang yang bisa kutanyai arah jika akan kembali ke rumah mamak. Sesekali aku bertanya pada teman-teman sepermainan ketika menggembala kerbau. Tapi jawaban mereka sulit membuat aku percaya.

Mereka bilang bahwa sebuah sungai yang mengalir di tempat kami menggembala ini sebenarnya melingkari dunia, melewati setiap sudut bumi. Pasti sungai ini juga melewati rumahku. Kalau ingin pulang, sebaiknya aku membuat rakit dari bambu, lalu menaikinya sampai rumah. Ah, tapi saat aku tanya kira-kira berapa lama, mereka bilang belum pasti, mungkin bertahun-tahun. “Tapi ini pasti menyenangkan, karna kamu bisa berpetualang seperti para penjajah yang akhirnya sampai di Indonesia.” Begitu imbuh mereka yang lebih beruntung bisa sekolah. Sesekali aku ingin mengikuti saran mereka. Tapi aku takut kelamaan di jalan sampai aku tua dan akhirnya tidak bisa sekolah. Namun, biar bagaimanapun tak ada sedikit pun curiga bahwa imajinasi anak seusia kami kerap terlalu tinggi.

Temanku yang lain menyarankan untuk naik kendaraan umum, travel namanya. Tapi biayanya cukup mahal, mereka juga belum tahu berapa rupiah. Yang ini rasanya lebih baik. Aku putuskan untuk pulang menggunakan kendaraan tersebut.

Puluhan kali aku putar otak, berpikir, bagaimana caranya mencari uang. Sampai akhirnya aku mendapatkan ide berjualan daun pisang ke pasar. Siang hari, sambil menggembalakan kerbau, aku memotongi daun pisang di kebun dekat lokasi penggembalaan itu. Lalu, kesokan harinya, pagi-pagi sebelum subuh, aku harus sudah berangkat ke pasar. Aku harus berjalan kaki jauh untuk mencapai pasar. Sampai di pasar, aku tawarkan daun pisang yang kubawa. Kebanyakan yang membeli daun pisang adalah ibu-ibu. Entah karena memang mereka membutuhkan atau hanya kasihan kepadaku. Kasihan melihat anak seusiaku membawa beban daun seberat itu, dan sudah datang pagi-pagi.

Melihat setiap pagi aku berada di pasar, seorang ibu langganan pembeli daunku bertanya, “Kok tiap pagi ada di pasar, Le? Nggak sekolah, tho, kamu?”

Aku merasa tak punya jawaban. Aku tersenyum meskipun tak seluruh bagian jiwa dan ragaku menghendakinya. Dari air mukanya, Ibu itu tampak benar-benar menanti jawabanku.

“Eee.. iya, Bu. Dulu udah pernah sekolah, tapi berhenti dulu.” Jawabku berhati-hati. Aku masih ingat pesan mamak agar tak terlalu banyak bicara dengan orang yang tidak aku kenal. Orang dewasa menyebutnya dengan orang asing. Aku juga tidak boleh menerima sembarang makanan dari orang yang tidak kukenal. Sehingga suatu pagi Ibu yang mungkin tampak kasihan kepadaku membawakan singkong rebus, tapi aku dengan tegas menolaknya meskipun sebenarnya lapar. Hmmm… Aku tetap harus berhati-hati. Kalau sampai aku diracuni atau diculik oleh orang asing itu, aku pasti nggak bisa sekolah. Begitu pikirku.

Tujuh bulan sudah aku bekerja keras menjadi pedagang daun pisang, dan terkadang sesekali juga menjual daun jati. Pak lek dan bulek rasanya tidak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan. Aku tengok jumlah rupiah dalam celengan bambuku. Meski dulu aku baru kelas satu, tapi sudah bisa mengenal satuan mata uang. Aku menghitung uangku sudah tiga puluh ribu dua ratus dua puluh lima rupiah. Jumlah ini kurasakan sangat banyak untuk hidup di masa itu, masa hidup di daerah yang belum banyak dirambahi teknologi dan penemuan-penemuan modern.

Aku meliburkan diri dari berjualan daun pisang. Lantas berjalan kaki menuju pangkalan travel yang jaraknya sekitar empat kilometer dari rumah Pak Lek. Ternyata biaya pergi ke rumah mamak adalah dua puluh lima ribu. Aku sontak, bahagia. Berarti aku sudah bisa pulang dan minta disekolahkan di sana.

Baju-baju aku kemasi. Sebelumnya, aku sempat berbicang dengan kerbau-kerbau yang biasanya aku gembalakan sepulang berjualan daun pisang. Aku sedih meninggalkan mereka yang walaupun hanyalah hewan, mereka telah menjadi bagian dari hidupku. Lantas aku mengambil celengan bambuku dari persembunyiannya, di bawah kolong lemari baju.

Dengan hati-hati aku mengambilnya menggunakan tangan kanan. Tanpa melihat langsung, aku sudah hafal di mana posisi bambu ini berada. Aku raba-raba lantai tanah di kolong lemari baju. Harapan yang terbersit adalah menemukan bambu ini, lalu aku bawa ke pangkalan travel untuk ongkos pulang.

Aku tak menemukan celengan bambu itu di posisi biasanya. Aku coba raba di posisi lain. Mungkin aku salah meletakkannya. Cukup lama aku mencari bambuku. Leherku terasa pegal. Tapi tak sia-sia aku melakukannya. Akhirnya celengan bambuku itu pun kutemukan.

Dengan hati riang aku akan menggunakan hasil kerja kerasku berjualan daun di pasar. Aku akan merobohkan dinding penantian yang tak kunjung sampai untuk bersekolah. Usia yang mungkin sudah terlalu tua tak menjadi penghalang untukku. Yang terpenting hanyalah aku bisa bersekolah. Aku sudah sangat rindu suasana sekolah.

Malang tak dapat dihadang. Celengan bambuku itu tidak berisi apa-apa lagi selain udara yang bergerak di dalamnya. Rupiah yang aku kumpulkan tak lagi ada dalam bambu itu. Aku tak percaya dan mencoba membelah bambu tersebut dengan belati. Namun nihil. Tak sepeser rupiah pun aku temukan. Aku coba meraba-raba lagi kolong lemari, berharap akan ada bambu lain yang berisi uang, atau mungkin uang-uang dalam celenganku jatuh di tanah. Tapi tetap tak ada. Aku kehilangan uangku. Aku kehilangan hasil kerja kerasku untuk pulang dan bersekolah di dekat rumah mamak.

Badanku panas dingin. Kecewa dan marah bercampur dalam satu orbit yang sama. Sakit, ibarat terjatuh dari gunung yang tinggi ke permukaan dataran rendah di sekitarnya. Aku jatuh dari tingginya gunung harapan bersekolah.

Lagi-lagi gagal. Aku belum bisa bersekolah. Aku menangis. Dadaku sesak. Pikiranku menyempit. Bayangan diri berseragam merah putih dan menjinjing buku-buku beserta alat tulis masih saja melintasi ruang pikirku. Tapi bayangan ini semakin jauh. Aku tak tahu kapan akan bisa kembali mengenakannya, kembali bersekolah dan belajar. Jiwaku kalut. Pintaku tak banyak. Aku hanya ingin sekolah.

Cerpen ini juga diterbitkan di http://annida-online.com/artikel-5028-celengen-bambu.html

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on February 9, 2012, in Creative, Fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: