Bab Pembelajar

“Aku memang belum ahli, tapi aku mau belajar”. Demikian prinsipku ketika akan menerima sebuah amanah atau tantangan baru. Sebab, jika tidak mulai belajar menerima, aku tak akan pernah merasakannya. Sedikit mengikuti kata filusuf (yang menurutku pemikirannya aneh bin agak miring, hehe, ups.). Namanya Parmenides. Menurutnya, tidak ada yang dapat muncul dari ketiadaan. Sesuatu itu memang sudah selayaknya ada, kekal, dan tidak ada perubahan aktual. Tidak ada yang bisa menjadi sesuatu yang berbeda dari keadaan sebelumnya. Dia memang sebenarnya merasakan perubahan dengan indra-indranya, namun dia lebih mempercayai apa yang dikatakan oleh akalnya ketimbang apa yang dirasakannya.  Hmmm,,…. sebenarnya aku juga gak sepaham dengan pemikirannya. Hanya saja, dalam hal ini, aku mengutip, tapi kemudian mempersepsikan dengan definisi lain. Tidak ada yang muncul dari ketiadaan yang kumaksud adalah “tidak ada hasil atau target yang akan dicapai dengan maksimal (sesuai harapan atau bahkan lebih) dengan ketiadaan usaha.

Belajar. Ya, aku suka mempelajari hal-hal baru. Seperti sekarang, entah kenapa, aku sedang mulai penasaran dengan filsafat. Ah… meskipun kata teman filsafat itu bisa bikin gila, tapi ya nggak ngaruh. Mungkin para pembelajar filsafat itu gila karena belum memiliki keimanan yang kuat. Semua sampe yang kecil-kecil dipikirin. Segala kenapa ada air, juga dipikirin. Kalo yang imannya kuat, just take it simple, karena Alloh menciptaknnya untuk kehidupan manusia, karena Allah maha pencipta dan mahakaya. Tapi malah ada filusuf yang sampai mengimajinasikan “Tuhan” dengan pemikirannya sendiri. Misalnya,Tuhan adalah akal (logos) seperti kata seorang filusuf juga, Haraclitus namanya.

Duh.. apa sih!!! kok jadi ngomongin filsafat mula yah? Hehe… maklum, lagi ‘in’ di hidupku,😀

Sebenarnya, aku hanya ingin membagi sedikit keluh di sudut hatiku, tentang belajar. Ya, langsung saja. Kadang, aku merasa bahwa kenyataan itu tidak adil. Aku berusaha keras belajar, mengerjakan tugas dengan baik, tapi tidka mendapat nilai yang lebih tinggi dari temanku yang mengerjakan tugas dalam waktu sekejap (read: kalah jenius). Kadang juga aku merasa sedih ketika menghafal Al-Quran, temanku, bahkan yang usianya lebih muda dari ku sudah lebih banyak hafalannya, temanku yang lain lebih baik tajwidnya. Aku bukan tak mau belajar, tapi aku baru mulai belajar dan mereka memang sudah lebih awal belajarnya. Ya Alloh… kenapa aku tidak belajar dari dulu? Kenapa aku kalah jenius dari temanku? kenap aku ….

Ahhhhhhh!!!!!! KENAPA????

Aku tau, aku mampu menjadi seperti mereka dengan seizin-Mu Ya Robb, tapi tantangan yang harus aku lalui ini teramat besar. Hingga malu aku mengatakannya, pada dunia, pada-Mu sekali pun.

Tapi, bukankah Kau lebih mementingkan proses daripada hasil? Bukankah urusanku sebagai hamba-Mu adalah berusaha sedangkan hasil adalah urusan-Mu Ya Allah?? Tapi kenapa hasil kerap kali dipermasalahkan oleh hamba-Mu di dunia?

Intinya, aku sedang terinspirasi untuk menjadi lebih jenius. Aku sedang terinspirasi untuk menyaingi. Tentu, yang harus aku lakukan adalah usaha. Ya, berusaha dengan sungguh-sungguh. Semoga Engkau meridhoi langkah hamba-Mu ini Ya Mujib…. Aamiin…

Tak akan kuhentikan langkah kaki ini memijaki lembar demi lembar halaman pembelajar. Mencoba memahami apa yang harus aku pelajari, dan apa yang harus aku ambil hikmahnya.

Sahalalloh.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on April 19, 2012, in anything, My World. Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: