Akal dan Nafsu

(Refleksi Perbedaan Karakter Manusia)

Seperti minyak dan air yang memiliki masa jenis berbeda, mereka kemudian tidak akan pernah bersatu. Kecuali, dengan zat basa semacam sabun yang dicampurkan kedalamnya. Ah, beda! Aku tak mampu menghentikan pikiran yang berlarian di sepanjang rute kehidupan jiwa ini, mengenai hal-hal “beda” yang cenderung menyebabkan sesuatu hal menjadi “terpisah”.

Ini bukan lagi tentang air dan minyak, dua benda mati itu. Tapi ini bahkan tentang manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai makhluk terbaik dengan kepemilikan akalnya. Ya, tapi akal pun tak mampu menghindari kecenderungan “terpisah” yang disebabkan oleh “beda” pada hablumminannas mereka. Kenapa? Kurasa karena, selain akal pun manusia memiliki nafsu yang jika pemiliknya tak mampu mengendalikan, maka akan menyebabkan ketidakbaikan pada diri sendiri maupun orang lain.

Akal tak akan mampu apa-apa ketika diri sendiri tak bisa mengendalikan nafsu yang membelenggu. Akal yang selama ini selalu dibangga-banggakan sebagai keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki seorang manusia masih akan kalah dengan hawa nafsu yang tidak terkendali. Di suatu sisi, nafsu memang lebih mudah dikembangbiakkan atau ditingkatkan dayanya ketimbang akal. Ah! Mungkin sebagian akan bertanya, “Kata siapa? Sumbernya mana? Resourcenya apa? Udah ada penelitian?”  Dengan tegas, aku akan menjawab, “Ya, saya sudah melakukan penelitian dalam kehidpan sehari-hari. Memang saat ini belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah apa pun, atau bahkan mungkin tak akan pernah. Tapi, cukup jurnal kehidupan dalam bab hikmah lah yang menerbitkannya. Hikmah, bukan asumsi belaka.

Kembali lagi pada akal dan nafsu. Akal berasal dari Bahasa Arab yang dengan sederhana diartikan dari segi etimologi, yaitu “pengikatan atau pemahaman terhadap sesuatu”. Sedangkan nafsu, atau lebih akrab disapa dengan “hawa nafsu” secara etimologi bermakna jiwa, dan secara terminologi berarti dorongan-dorongan alamiah dari jiwa manusia untuk memenuhi kebutuhannya.

Dalam Islam, akal tidak sekedar melingkupi pengikatan/pemahaman terhadap hal-hal akademik saja, akan tetapi juga pada jiwa manusia itu sendiri untuk dapat memilah mana yang baik atau buruk. Pemilihan baik dan buruk dalam kenyataan hidup kerap kali disertai oleh kehadiran hawa nafsu, dorongan untuk bisa memenuhi kebutuhan , yang jika pemiliknya (manusia) tidak mampu mengendalikan, maka akan menjerumuskan manusia itu kepada pilihan yang negatif. “Orang yang berakal adalah orang yang mampu mengikat dan mengendalikan hawa nafsunya” (duniabaca.com). Maka, untuk bisa mengambil pilihan yang baik kita harus berakal, harus memiliki kekuatan akal yang baik. Ya, karena kekuatan akal itu tidak sama, akan semakin sempurna akal seseorang jika ia termasuk orang yang Allah cintai. Seperti dikatakan oleh Imam Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir , “Ketika Allah menciptakan akal, Dia mengajaknya berbicara. Allah berkata, ‘Menghadaplah (kepada-Ku)!’ Maka, akalpun segera menghadap. Kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘ Demi kebesaran dan kemuliaan-Ku, tiada makhluk yang lebih Aku cintai daripada kamu. Dan tidak Aku sempurnakan kamu melainkan pada orang-orang yang Aku cintai. Kepadamulah Aku menyuruh, melarang, menyiksa, dan memberi pahala.’”

Akal tidak memiliki kekuatan yang mutlak. Tingkat kekuatannya berubah, bergantung pada kondisi ruhiyah kita yang bisa membuat Allah cinta kepada kita. Dan salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kondisi ruhiyah kita adalah dengan ibadah-ibadah sesuai syari’at Islam dan mengendalikan hawa nafsu. Ya, menurutku, Hawa nafsu adalah musuh abadi kejernihan hati. Sedangkan pengendalian nafsu adalah penyeimbang akal sehingga dalam penyelesaian segala konflik, kita, manusia, bisa memproduksi solusi yang baik. Misalnya, dalam menghadapi konflik perbedaan, seperti perbedaan kebiasaan dengan teman serumah yang membuat kesal, perbedaan karakter, dll. bisa dihadapi dengan solusi yang bijak sebagai hasil akal yang kuat mendekati sempurna. Bukan justru dengan menuruti hawa nafsu sehingga timbullah perpecahan atau perpisahan. Sungguh, perpecahan hanya akan menghambat amal jama’i yang amat dicintai Allah untuk dilakukan umat-Nya. Jadi, gunakan akal untuk mengikat hawa nafsu hingga ia tak menang untuk memengaruhi kita memutuskan pilihan yang tidak baik. Sebab, pengendalian hawa nafsu adalah penyeimbang akal kita. Wallohu a’lam bishowab.

Tanah Ibu Kota, dalam konflik perbedaan.
Mei 2012

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on May 31, 2012, in Creative, non-fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: