Kalau Cinta Tak Kemana

Tanggal 19 Juni 2012 lalu, tepatnya sore hari, ketika aku sedang bersama dengan teman-teman yang akan menjenguk salah satu saudara pasca kecelakaan, sebuah sms yang mengejutkan datang ke ponsel merah anggurku. Ada rasa senang yang tak sanggup aku gambarkan, bercampur dengan rasa bersalah ketika teringat satu janji yang belum terpenuhi sampai saat itu.

Kata-kata awalnya sangat memuka, bagiku. Kutipan salah satu ayat dari Surat Arrahman semakin mengingatku tentangnya, sosok yang sangat suka dengan kata-kata dalam ayat tersebut, Kak Asih. Menguatkan getar rindu pada seorang saudara seiman yang telah lama tak berjumpa. “Panjang sekali sms ini”, pikirku saat itu. Dan entah kenapa sebuah firasat memasuki ruang benakku tanpa izin. Ah, entah bagaimana caranya ia masuk dan meyakinkanku.

Assalamualaikum Wr, Wb

Bismillahirrohmaanirrohiim

“Fabiayyi alaa’i robbikumaa tukadzibaan…(QS. Arrohman)

Supaya tiada kufur diri kami untuk selalu mengingat bahwa tanpa kehendak-Nya, tak akan kami terikat dalam ikatan mitsaqon gholizhon..

Maha Suci Allah penguasa takdir, atas kemurahan hati-Mu ya Allah, melalui ikatan pernikahan.

Dengan mengurai syukur yang tak terhingga atas keberkahan yang tak hentinya Alloh berikan, tanpa mengurangi rasa hormat kami dan dengan memohon rahman dan rahiim serta ridho Alloh SWT izinkanlah kami mengundang rekan-rekan untuk menghadiri walimatul ‘usr kami :

Asih Supriatin

dengan

Teguh Ronal Setiawan

yang InsyaAllah diselenggarakan pada :

Hari/Tanggal : Minggu, 24 Juni 2012
Waktu : akad 09.00 WIB
resepsi 11.00 s.d 17.00 WIB
Tempat : Auditorium Gelanggang Remaja
Jl. Tanah Abang 1 Jakarta Pusat

Kesan mendalam dan bahagia akan terlukis dihati kami apabila bapak/ibu/saudara/i berkenan hadir untuk memberikan doa restu kepada kami
Wassalamualaikum Wr Wb,

Asih & Teguh

Ternyata firasat itu benar. Subhanalloh walhamdulillah… . Bahagia sekali mendengarnya. Namun aku ingat, aku punya satu janji untuk berkunjung ke rumah kak Asih dan aku ingin memenuhinya sebelum beliau menikah. Tapi ternyata terlambat. Ia akan segera menikah. Meski harusnya ketika itu aku masih memiliki waktu beberapa hari lagi sebelum tanggal 24 Juni, namun alasan dunia, sibuk kuliah dan lain sebagainya tetap saja menjadi penghalangku. Astaghfirulloh… . Semoga Kak Asih memaafkan aku, dan Allah pun mengampuniku, aamiin.

Lantas, aku hubungi beberapa teman yang potensial untuk aku ajak, tapi ternyata mereka tidak mengenal Kak Asih dan tidak bisa menemaniku ke walimah beliau. Ingin sekali menghubungi kakak-kakak akhwat PP KAMMI yang dulu kukenal dan juga kupastikan mengenal Kak Asih. Tapi beban mental atas ketidakbertanggungjawabanku di masa yang lalu membuatku untuk lebih memilih tidak menghubungi. Lebih baik datang sendiri. Padahal, datang ke walimah Kak Asih seorang diri akan menjadi tantangan yang akan terasa aneh. Aku belum pernah datang sendirian ke walimahan. Juga, aku sama sekali belum mengenal lokasi yang disebutkan di undangan. Hmm.

Namun, atas nama kecintaanku pada saudara seimanku yang sangat baik ini, aku beranikan diri. Dengan membawa bingkisan seadanya, aku menumpang metro mini 640 menuju Tanah Abang. Sepanjang jalan pikiranku bercampur aduk, entah apa saja. Rencananya ingin sambil membaca buku atau murojaah, tapi tidak konsen, ternyata.
Metro Mini 640 pun akhirnya berhenti. “Abis.. abis.. abis..” Ah. Tandanya udah mentok. Ini ujung dari rute metro mini ini. Sudah sampai tanah abang dan aku harus turun. Ya, turun di sebuah tempat yang benar-benar asing. Bahkan aku tak tau harus berjalan ke arah mana.

Aku berharap Allah akan menuntunku dan memudahkanku mencapai lokasi. Aku percaya bahwa Allah mendengar. Aku ikuti firasat dan berjalan ke arah yang aku mau. Lalu, sesaat ragu dan kemudian bertanya pada orang dimana saya harus menunggu angkot 08 menuju arah Kota. Orang tersebut pun menunjukkan arahnya. Alhamdulillah.

Setelah itu, aku naik angkot 08 dengan tujuan jalan tanah abang I. Entahlah di mana itu. Aku pun tak bisa mengatakan pada abang sopir untuk diberhentikan di jalan Tanah Abang I karena angkot penuh sesak dan aku duduk di ujung yang jauh dari sopir. Aku malas teriak-teriak meskipun khawatir akan tersasar. Tapi aku yakin Allah akan menolongku.

Kecemasanku meningkat ketika aku membaca sebuah nama jalan di sebelah kiri, “Jalan Tanah Abang II”. MasyaAllah… “sepertinya udah terlewat nih, tanah abang I nya.” Namun aku tak ingin turun, dan tetap tak ingin berteriak-teriak ke abang sopir. Aku tetap duduk dan berpikir harus menggunakan cara yang seperti apa agar orang-orang tidak sadar aku kesasar. Sampai akhirnya, angkot itu berhenti cukup lama di sebuah lampu merah. Aku masih tetap memikirkan hal yang sama dan akhirnya sadar ada tulisan “Jalan Tanah Abang I” di kiri jalan. Ketika itu angkot 08 yang kutumpangi sudah hampir berjalan dan aku baru mau bersuara, “Bang.. bang.. kiri bang.” Sambil beranjak turun dan menyerahkan uang dua ribu rupiah pada Si Abang Sopir.

Aku berjalan memasuki Jalan Tanah Abang I dan sebenarnya tanpa tau kepastian apakah jalan yang aku susuri tepat atau tidak. Aku berjalan saja sesuai kehendak hatiku. Di suatu titik, aku sempat khawatir kesasar dan aku pun lupa nama gedung tempat walimahnya. Lantas aku mencoba online dengan ponselku. Aku buka FB dan mencari informasi itu. Alhamdulillah, cukup mudah.

Setelah tau nama gedungnya, aku melanjutkan perjalanan dan hendak bertanya pada orang di mana lokasi gedung itu. Tapi, belum jadi bertanya, aku sudah melihat rangkaian janur kuning. Aku mendekati tempat tersebut. Rasanya itulah tempatnya. Di janur kuning itu tergantung tulisan ‘Asih & Teguh’. Namun sebenarnya aku masih ragu, siapa tau ada Asih dan Teguh lain yang sedang walimah di situ juga, bukan Kak Asih dan Kak Teguh yang aku maksud. Tapi aku masuk saja dan Alhamdulillah dalam rangkaian-rangkaian bunga aku menemukan semakin banyak tulisan nama lengkap dari orang yang kucari. Aku memasuki gedung. Dari kejauhan, aku melihat sosok Kak Asih.

Subhanallah wal hamdulillah… aku terus terkesan dengan kemudahan yang Allah berikan kepadaku meski harus datang kesana seorang diri dan belum tahu lokasinya sama sekali sebelumnya. Ya, ini memang karena cinta. Karena cintaku pada Kak Asih sebagai saudara seiman yang ingin sekali bersilaturahim, dan cinta Allah yang sempurna untuk selalu melindungi dan memudahkan hamba-Nya. Ya, sejauh apa pun pasti ketemu, karena, kalau cinta, memang tak kemana🙂.
Selamat menempuh hidup baru kak Asih…🙂 Semoga Sakinah, mawaddah, warohmah.. aamiin… .

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on June 25, 2012, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: