Amanah “Nafas”

(Kejadian 26 Maret 2012 lalu. Ingin share di sini. Semoga membuat teman2 lebih berhati-hati ketika menyebrang. Hehe🙂 )

Bulan April, tanggal 20-an, sekitar enam tahun yang lalu, “hal ini” terjadi. Hari ini pun terulang kembali. Aku teramat kagum dengan kuasa Allah Azza Wajalla yang masih tetap mengamanahkan nafas ini untukku meski mungkin aku telah tidak berhati-hati menjaganya. Terima kasih Ya Salam, Ya Azis, Ya Rahman Ya Rahiim… .

Senin pagi ini adalah hari seperti bagaimana biasanya Senin yang berlaku sejak semester baru. Aku harus sampai di kampus pukul 08.00 untuk mengikuti kuliah Teaching English as Foreign Language di ruang sembilan. Dan hari ini lagi-lagi aku terjebak dalam kebiasaan burukku yang suka “mepet-mepet” pergi ke kampus. Aku berangkat sekitar lima menit sebelum jam delapan, padahal untuk berjalan sampai ke kampus aku butuh sepuluh menit. Aku perkirakan akan terlambat lima menit. Ah, tak apa. Toleransi keterlambatan sampai lima belas menit kok.

Jalan yang aku lalui juga masih jalan yang biasa. Mengambil pintas dekat penjual bubur, lantas menyusuri gang tikus di daerah Cikoko, sampai tembus di jalan utama perdatam-MT Haryono. Jalanan ini juga masih seperti biasa, ektra macet. Mobil-mobil pribadi berderet merayap di bagian kanan dan jalan yang tersisa digunakan untuk motor bermanuver, berlalu-lalang. Semua gerak kehidupan masih terasa seperti biasanya, termasuk aktivitas pedagang makanan di sepanjang jalanan itu.

Namun, sampai di suatu titik, semua ini menjadi tidak biasa. Entah kenapa aku merasa perlu untuk buru-buru. Aku percepat langkah dan mencari-cari sela menyebrang meski banyak sepeda motor dari dua arah yang saling bertemu. Aku berhenti di titik yang tanpa rumus aku tentukan. Aku tengok kanan, kurasa aman. Aku tengok kiri, masih sangat aman. “Ya, inilah saat yang tepat aku menyebrang.” Aku sedikit berlari.

Entah setelah langkah yang keberapa, aku termotovasi untuk menengok ke arah kanan. Aku terkejut. Seperti di sinetron. Sebuah sepeda motor berjalan dengan kekuatan kencang dari arah itu. Jalanan aspal seperti mengandung magnet bagi kakiku hinga tak mampu bergerak menghindarinya. Dan naas. Brakkkkk!!!!!!! Aku ditabrak.

Sepeda motor itu mendorong dan membuat tubuhku jatuh tersungkur di atas jalanan aspal yang biasa aku pijaki setiap hari. Setelah beberapa detik tak sadarkan diri, Alhamdulillah aku mampu menguasai kondisi. Ya, aku sudah ditabrak motor.

Hal pertama yang melintas dalam pikirku waktu itu adalah “Ya Alloh, masih hidupkah aku?” Dan kemudian aku pun bangkit. Alhamdulillah, masih benar-benar hidup.

Aku merasakan perih di bagian kaki kiri. Kaos kakiku yang masih agak baru sudah bolong-bolong dan sobek hingga jemariku keluar dari perlindungannya. Aku segera membenahinya agar tetap secara maksimal menutup aurat ini. Lantas, aku sadari bahwa sepatu yang kukenakan dan mulai menipis itu kini telah robek. MasyaAllah… .

Ketika tengah sibuk membenahi diri, Bapak pengendara motor yang menabrak menanyakan keadaanku dan meminta maaf. Aku jawab bahwa aku tidak apa-apa dan aku juga meminta maaf. Aku sadar, aku juga salah dalam hal ini.

Hal kedua yang ada dalam benakku adalah “malu” pada orang-orang yang menyaksikan kejadian ini. Aku merasa telah menjadi pusat perhatian. Aku khawatir terkenal. (hehe). Oleh karena itu aku segera melanjutkan perjalanan meski kaki kiriku terasa semakin sakit tertekan sepatu.

Memasuki gerbang kampus, aku menelepon teman serumah, Nunu dan Desy. Kukabari mereka bahwa aku ditabrak motor dan minta dibawakan kaos kaki, betadin, dan plaster. Alhamdulillah, aku memiliki teman-teman sebaik mereka.

Kejadian ini tidak bisa dirahasiakan ternyata. Kaki yang terluka membuat jalanku berbeda. Di kelas, aku coba buka kaos kaki dan kudapati darah mengalir malu-malu. Memakai kaos kaki ganti ternyata sangat menyakitkan. Apa lagi jika harus memakai sepatu, perihnya bahkan lebih dari ketika harus diolesi betadin dan minyak tawon oleh Nunu.

Dampak dari kejadian ini, aku harus merepotkan Desy dan Nunu. Aku juga harus merepotkan Rita yang mengantarku sampai rumah usai mengerjakan tugas bersama, dan bahkan Anais harus meminjamkan sendalnya. Mungkin ada juga pihak yang aku repotkan dan tidak bisa disebut di sini. Terima kasih kawan-kawan.

Yang aku bingungkan sekarang adalah, bagaimana besok aku ke kampus? Rasanya masih sakit untuk berjalan. Sakit sekali. Perihnya menjajahi diriku. Membuat aktivitas yang biasa kulakukan jadi berbeda.

Entahlah ini murni musibah atau semata efek dari ketidakhati-hatianku. Yang jelas, kejadian ini menuntutku untuk lebih berhati-hati menjaga amanah nafas ini. Semoga  sakit ini menggugurkan dosa-dosaku. Semoga ujian ini semakin mendekatkanku dengan-Nya. Allohummaghfirli… . Allohumma aamiin.

Gambar yang sempat dipotret sebelum dibuang ke kotak sampah😀

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on July 13, 2012, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: