Atmosfir Zuhur di Wisma Bakrie

Kalau bukan karena amanah (hal yang mungkin selama ini masih kerap saya sepelekan dan Alhamdulillah telah diingatkan oleh kakak managing director), mungkin saya belum juga sampai ke salah satu gedung megah di kawasan Rasuna Said ini. Ya, Wisma Bakrie namanya.

“Wisma Bakrie” memang dengan mudah membawa kita untuk teringat pada pemiliknya, seorang tokoh nasional alias politisi dari salah satu partai politik di Indonesia, Abu Rizal Bakrie yang akrab disapa Ical. Tapi, kali ini saya bukan akan berbagi tentang Pak Bakrie lantaran profil beliau sebagai politisi, businessman, apa lagi sebagai sesama orang Lampung :p. Hmmm. Sama sekali bukan tentang Pak Bakrie, tapi, wisma Bakrie.

Siang itu, saya datang ke Wisma Bakrie, tepatnya PT Bakrie Telecom (ESIA), untuk menemui pihak tertentu guna kepentingan marketing Beewhite Management. Saya harus menunggu. Lama? Ya. Sangat lama. Berhasil ketemu? Tidak, saya tidak bertemu dengan orang yang saya tuju hari itu.

Ah, namun, dalam penantian, saya tak henti mengagumi kehebatan Allah Azza Wajalla yang telah membuat scenario ini. Alur cerita yang benar-benar unik bagi saya.

Berawal dari 4 Juni 2012. Ada dua target sekolah yang saya prioritaskan, yaitu Yayasan Abdul Mughni KH di Kuningan dan Darul Quran Tebet, guna memenuhi amanah di Beewhite. Menimang dengan bertanya dalam hati, “Ya Allah, harus kemana dulu hambamu ini?” Dan akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada sekolah yang terletak di Kuningan dengan pertimbangan saya sudah lebih mengenal daerah Kuningan ketimbang Tebet. Saya pikir, karena sudah cukup mengenali daerah Kuningan, saya akan membutuhkan waktu yang lebih singkat karena saya masih harus segera kembali ke Kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Hmm.

Saya sudah mencari alamat Al Mughni di internet. Katanya, sih, di Setia Budi. Saya pun naik Trans Jakarta dan turun di halte Setia Budi. Tapi saya cari-cari di pinggir jalan dan tidak bertemu dengan tempat yang saya maksud. Beberapa satpam gedung-gedung yang berderet di sana juga saya tanyai. Semua menjawab tak ada yayasan yang saya maksud di sekitar sana. Lalu, ada yang memberi saya saran untuk kembali ke arah yang sudah saya lewati dan menunjuk sebuah titik kawasan tertentu karena di sana ada yayasan yang cirinya seperti yang saya jelaskan.

Saya pun berjalan kaki menuruti arahan salah satu Bapak satpam itu. Belum juga ketemu. Ah, saya kesasar, deh kayaknya.

Dalam lelah, pandangan saya terjatuh pada tulisan nama sebuah gedung ‘Wisma Bakrie’ dan promosi ESIA. Saya langsung berpikiran, “ah, daripada sekolah di Yayasan Al-Mughni nya ngga ketemu-ketemu, mending coba-coba ke ESIA aja deh.”

Saking semangatnya, saya berjalan sambil terus memandangi tulisan promo ESIA itu. Saya merasa ada cahaya optimisme yang bersinar lebih terang dari sebelumnya. Saya sedikit tersenyum dan masih merasa optimis sampai akhirnya bapak satpam Wisma Bakrie memecah balon-balon pikiran saya yang tengah melayang-layang di angkasa, eh, di udara. Hehe.

“Mau kemana, mbak?” Tanya Pak satpam seraya melotot tak senang dengan tindakan saya. Seram.

Saya menyadari hal apa yang telah saya lakukan. “Eh, mau kesana, Pak.” Saya memaksakan senyum dan langsung kabur. Ternyata keoptimisan dan semangat saya yang berlebihan ketika memandangi promo ESIA itu membuat saya tanpa sengaja menginjak-injak salah satu bagian trotoar di dekat gerbang Wisma Bakrie yang sedang diperbaiki dan semennya pun masih basah. Si Bapak satpam tampak jengkel. Saya juga merasa malu. Lalu, saya urungkan niat untuk mampir ke Wisma Bakrie. Hehehe… rasa malu yang super besar juga gak ketinggalan tetap membayangi langkah saya.

Namun, saya tidak membiarkan rasa malu ini membunuh semangat dan optimisme yang tadi sudah membara-bara. Saya ingat, ada gedung ESIA di belakang kampus. Coba dulu saja yang di sana, siapa tahu bisa. Lantas saya hubungi Kak Frisa dan bertanya siapa yang harus saya temui untuk bermarketing di perusahaan. Jawaban beliau cukup mencerahkan.

Beberapa hari kemudian, saya datang ke gedung ESIA yang ada di belakang kampus. Ah, ternyata saya malah disuruh datang ke kantor pusatnya langsung. Ya itu, loh, yang di Wisma Bakrie itu.😀

Senin selanjutnya saya datang lagi ke Wisma Bakrie. Saya berharap Bapak satpam yang waktu itu menegur karena saya berulah aneh, sudah lupa sama saya. Alhamdulillah. Tampaknya Bapak satpamnya sudah lupa, atau setidaknya tidak bertanya, “Eh, mbak yang waktu itu, ya?” Ehehe.

Ya, begitu cerita awal mulanya saya sampai ke lantai 4 Wisma Bakrie dan menunggu seorang dari pihak ESIA untuk bersilaturahim dan sharing program. Lama sekali saya harus menunggu. Sesekali saya merasa ada suara-suara lembut bacaan Quran menyusupi ruang dengar. Menenangkan syaraf-syaraf yang sempat menegang. Subhanallah… masih ada yang sempat tilawah di kantor ini saat zuhur begini.

Meskipun hari itu saya hanya meninggalkan profil Anak Baik Indonesia_Beewhite dan tidak bertemu langsung dengan pihak yang saya tuju, namun, setelah berulangkali menelepon dan berulangkali pula tidak diangkat atau tidak bisa bicara karena beliau rapat, akhirnya berhasil juga bertemu langsung dengan beliau. Subhanallah walhamdulillah…. Beliau tertarik dan komunikasi kami pun semakin mudah. Saya sempat bertanya beberapa hal pada beliau dan mendapatkan banyak pelajaran berharga.

Ternyata, suara para muslimah membaca Al-Quran memang selalu terdengar ketika zuhur di setiap hari kerja. Mereka tengah mengadakan tahsin. Syahdu sekali rasanya. Ketika saya mencoba sholat di mushola kantor, subhanallah, tenang sekali berada di sana. Saya ingin berlama-lama, tapi teringat harus segera kembali menemui beliau.

Hmmm… beberapa kali saya datang ke kantor ESIA di Wisma Bakrie, selalu saja saat Zuhur (jam makan siang, atau kisaran pukul 12.00-14.00), dan selalu mendapati atmosfir yang memukau di sana. Dakwah di kantor ini pun hidup. Semakin menguatkan keyakinan bahwa dakwah bukan sekedar bagian mahasiswa kampus, tapi juga semua elemen masyarakat di segala lapisan tempat.

picture: http://rakyatsulsel.com/esia-ramaikan-pasar-blackberry.html

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on July 13, 2012, in Experience, My World. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. jadi inget ini:
    http://www.dakwahkantor.com/

    ESIA masuk dari bagiannya kah?

  2. Wah, aku belum tanya lebih lanjut ke Bapak “Esia”nya, Faiz. Tapi yang jelas ketua rohis Esia itu berusaha banget menghidupkan dakwah di sana,… Kalo PT Unilever nah iya tergabung dalam itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: