Islamic Kids Adventure Rohis Lintasarta Cetak Genarasi Penghafal Qur’an

This slideshow requires JavaScript.

Salah satu kewajiban umat Islam terhadap kitab sucinya, Al-Qur’an, adalah menghafalkan. Kewajiban ini pada dasarnya bukanlah sekedar sebuah media untuk mendapatkan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah SWT sebagai penghafal Qur’an seperti akan menempati tingkatan tertinggi dalam syurga kelak. Namun, juga bahkan banyak manfaat lain yang bisa dirasakan di dunia dengan menghafalkan Al-Quran, seperti peningkatan kecerdasan dan kesehatan jiwa sebagaimana telah dibuktikan dalam beberapa penelitian. Oleh karena itu, tak ada lagi alasan untuk tidak menghafalkan Al-Quran bagi seluruh muslim di dunia.

Menghafal memang bukan kemampuan yang mutlak dimiliki oleh setiap insan. Sebagian orang memerlukan latihan yang cukup intensif untuk mampu menghafal. Pelatihan keterampilan tersebut, khususnya dalam menghafalkan Al-Quran, akan lebih baik lagi jika dimulai sejak usia kanak-kanak sebab pada masa itulah manusia berada pada fase usia emas (golden ages). Dalam fase ini anak-anak akan sangat mudah menerima input sehingga mereka pun akan lebih mudah dalam menghafalkan Al-Quran.

PT. Aplikanusa Lintasarta bekerjasama dengan Beewhite Management menggelar sebuah kegiatan bertajuk ‘Islamic Kids Adventure’ pada Sabtu-Ahad, 7-8 Juli 2012 lalu. Kegiatan yang diadakan di Bumi Perkemahan Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, ini menitikberatkan target untuk membiasakan perbuatan-perbuatan baik bagi peserta dalam kehidupan sehari-hari dan memicu semangat mereka dalam menghafalkan Al-Quran.

Pemandu acara dari pihak Beewhite Management, Jay Nurzaman yang akrab disapa Kak Jay, tampil total mengkondisikan para peserta dalam kegiatan ini. Segala macam ice breaking mulai dari tepuk, teriak hingga loncat pun diterapkan. Tak jarang, 60 peserta yang terdiri dari anak-anak usia kelas 1-6 sekolah dasar (SD) ini juga terbahak-bahak lantaran ulah dan tutur Kak Jay. Uniknya, yang membuat mereka tertawa bukanlah banyolan biasa, melainkan cerita-cerita pendukung contoh dari materi (kebaikan sehari-hari sebagai anak muslim seperti saling menolong, menebar salam, ibadah, dll.) yang tengah dipaparkan. Hal tersebut memang dapat berfungsi untuk menjaga kondisi anak tetap rileks sehingga tetap fokus dalam menerima materi.

Selain berkumpul dan menerima materi, para peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok juga dilatih untuk memiliki keberanian dan kecerdasan dalam berstrategi melalui games dan ekspedisi alam di sekitar perkemahan. Semua games yang menantang ternyata tidak sekedar melatih keberanian anak secara individu, namun juga memicu anak untuk meyakinkan teman-teman sekelompok agar berani melalui tantangan dalam games tersebut. Klu yang diberikan sebagai reward setelah mereka berhasil melewati tantangan berupa ayat-ayat Al-Quran mengarahkan peserta dalam target utama acara yaitu membiasakan mereka untuk menghafalkan Al-Quran. Ekspedisi alam yang melalui rute-rute manantang juga membuat mereka saling peduli dan menjaga. Kedua sekmen kegiatan itu, games dan ekspedisi alam, yang dilakukan terpisah pada hari pertama dan hari kedua ini juga melatih para peserta untuk bekerja sama, ber-hablumminannas, dalam kehidupan berjamaah.

Kekreativitasan peserta juga dilatih melalui pentas seni. Mereka menampilkan kebolehan dalam berkreasi seperti berpuisi, bernyanyi, dan main drama dengan dibantu oleh kakak fasilitator masing-masing kelompok. Setiap kelompok menampilkan keunikannya masing-masing. Para anggota dari aalah satu kelompok pun tampak sangat menghayati peran masing-masing dalam drama seperti menjadi enyak, babe, preman, anak jahat, dan anak baik dalam drama. Suasana pensi yang melingkari api unggun malam itu sangat renyah.

Para peserta semakin antusias dengan kehadiran Kak Toyib, tokoh aktivis anak yang jago mendongeng. Mereka banyak mendapatkan pelajaran yang juga dikemas dengan menarik sehingga mudah diterima. Selain itu, mereka kedatangan bintang tamu yang usianya tidak jauh berbeda, yaitu: Namira, Habib dan Fahmi yang merupakan hafidz (penghafal Al-Quran) cilik. Selain berbagi dan menginspirasi, mereka bertiga juga membantu para peserta untuk membuat target hafalan Al-Quran dalam sebulan kedepan. Target hafalan yang mereka buat ini akan difollow up pada kegiatan lanjutan, yaitu pesantren kilat keluarga tanggal 4 Agustus mendatang.

Target yang mereka buat bervariasi. Sebagian dari mereka melanjutkan hafalan surat-surat di juz 30, dan sebagian lain sudah beranjak dari juz 30, seperti Zahra, siswi kelas 2 SD yang mentargetkan dirinya untuk mampu menghafal Surat Al-Baqoroh sampai ayat ke-50 setelah sebelumnya ia sudah hafal 20 ayat. Pembuatan target ini diharapakan akan semakin membuat para peserta terarah dalam menghafalkan Al-Quran. Mereka pun tampak saling menginspirasi dan menyemangati satu sama lain ketika membuat target.

Sebelum kembali ke Jakarta, para peserta diajak membuat surat cinta untuk orang tua mereka. Panitia penyelenggara yang terdiri dari Rohis Lintasarta dan Beewhite Management, yang selama kegiatan berlangsung telah membina para peserta, kali ini mengarahkan mereka untuk bebas menuliskan apa pun yang merujuk pada ungkapan cinta terhadap kedua orang tuanya. Setelah itu, kegiatan di perkemahan ditutup dengan muhasabah yang melunakkan hati para peserta dan mengajak mereka untuk terus menjaga dan meningkatkan perbuatan baik yang telah mereka biasakan serta materi yang mereka pelajari selama dua hari ini. Lantas, mereka kembali ke Jakarta.

Menjelang maghrib, peserta dan panitia tiba di Jakarta, tepatnya di PT. Aplikanusa Lintasarta T.B. Simatupang. Mereka disambut oleh para orang tua yang telah menanti kedatangan putra-putri tercintanya. Haru rasanya menyaksikan anak-anak yang begitu senang dapat kembali bertemu dengan orang tua mereka. Keluh kesah dan berbagai cerita menarik dari anak kepada orang tuanya sudah mulai mengalir dalam perjumpaan ini. Terbaca jelas nada-nada kerinduan dari masing-masing anggota keluarga yang ada di sana.

Tak lama kemudian, para peserta, orang tua, dan panitia berkumpul di auditorium lantai 5 untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah dan mengadakan penutupan acara. Kak Fauzul, salah satu fasilitator dari Beewhite Management memandu acara penutupan ini. Ia menunjuk salah satu peserta, Amanda, untuk membacakan surat cinta kepada orang tuanya. Amanda pun dengan percaya diri maju ke pentas dan membaca surat cinta yang ia buat. Suasana yang mulanya ceria berubah haru seketika. Amanda di seperempat suratnya mulai terisak. Ia serasa tak kuasa menahan tangis ketika mengakui banyak kesalahan terhadap bundanya. Iya juga sadar bahwa ketika bundanya marah, itu adalah karena kasih sayang bundanya yang tak terkira kepadanya. Ia meminta maaf dan menyatakan cintanya kepada bunda dengan ledakan tangis yang tak terbendung lagi. Kepiluan Amanda bertebaran melapisi atmosfir ruangan itu. Semua yang hadir, terutama para ibu, turut menangis.

Kak Fauzul mulai menguasai kondisi acara dan suasana haru pun pecah seketika saat seorang ayah berceletuk, “Nah, iya, cuma sama buunda. Kalo sama ayahnya gak ada salah, ya… .” sambil tertawa. Semua pun ikut tertawa. Ya, surat yang Amanda buat memang hanya tertuju kepada ibundanya saja. Para ayah tampak cemburu dengan ini. Lucu sekali, memang.

Dalam acara penutupan, diumumkan kelompok dan peserta terbaik. Terpilih Kelompok Tangguh sebagai kelompok terbaik, Zarvan sebagai peserta terbaik ikhwan dan Putri sebagai peserta terbaik akhwat.

Kegiatan ini berakhir dengan penuh keceriaan. Afiah, salah satu peserta, mengaku senang dan tak sabar ingin mengikuti acara semacam ini lagi. Gendis, juga salah satu peserta, ketika ditanya kegiatan yang paling menyenangkan selama dua hari ini menjawab, “Semuanya menyenangkan. Tapi lebih senang yang ke air terjun (ekspedisi alam), games, sama yang waktu ada Kak Namira (hafalan Al-Quran).” Ia lantas mengulangi salah satu surat Al-Quran, Ar-Rahman, yang mulai dihafalkannya setelah dibantu oleh ketiga hafidz cilik.

Kegiatan ini belum usai sepenuhnya, sebab, akan ada kegiatan lanjutan, InsyaAllah, pada 4 Agustus mendatang dimana para peserta akan melaporkan perkembangan hafalan Quran mereka di hadapan orang tua masing-masing. Semoga, dengan langkah memicu para peserta untuk menghafalkan Al-Quran dengan keterlibatan orang tua dan kemasan kegiatan yang fun, fresh, focus dan friendly ini dapat mencetak generasi muda penghafal Al-Quran yang akan memiliki kecerdasan luar biasa dan kebiasaan baik sebagai muslim sekaligus anak baik Indonesia.

Tulisan serupa juga ada di:

http://regional.kompasiana.com/2012/07/13/islamic-kids-adventure-rohis-lintasarta-cetak-genarasi-penghafal-qur%E2%80%99an/

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on July 13, 2012, in Bee White Management, Creative, News. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: