The Begining of Ramadhan 1433 H

Soal kapan mulai puasa Ramadhan, lagi-lagi sebagian besar muslim Indonesia menggalau lantaran keputusan pemerintah tak kunjung ada sampai Isya’ (19 Juli 2012). Padahal, beberapa ormas seperti Muhamadiyah sudah memutuskan untuk memulai puasa 20 Juli. Meski hanya mendengar dari balik tembok, tapi rasanya sidang isbat kali ini seru juga. Ada pendapat yang menarik, menurutku. Namun, entah siapa yang menyampaikan. Menurut beliau, metode penetapan 1 Ramadhan dan 1 syawal yang digunakan pemerintah Indonesia kurang praktis bagi masyarakat. Masyarakat seperti kerap diposisikan dalam ketidakpastian. Misalnya saja, menjelang syawal tahun lalu, ketika lebaran belum juga pasti kapan tibanya, puasa belum pasti 29 atau 30 hari, akhirnya masyarakat (terutama ibu-ibu) banyak yang merasa tertipu. Mereka sudah terlanjur memasak daging karena memperkirakan keesokan harinya akan lebaran. Tapi ternyata di malam harinya pemerintah memutuskan bahwa lebaran jatuh di esok lusanya. Nah, jadilah masyarakat banyak yang berteriak, “Owalah.. lebarannya batal. Padahal ini daging udah dimasak buat lebaran.” Hmmmm. Dari puasa kok malah sampai ke daging ya. Hehe. Yang jelas, aku juga sependapat bahwa metode yang digunakan itu kurang prakstis. Namun, biar bagaimana pun, mereka, para ulil amri punya kuasa, dan kita yang awam hendaknya patuh (jika memang merasa sepakat. Yang tidak, silakan berpegang pada keyakinannya asalkan tetap menjaga ketertiban dan perdamaian)😀.

Tak ada banyak hal yang bisa aku bahas mengenai sidang isbat karena memang tidak benar-benar menonton, hanya menguping di balik tembok dan sesaat pula. Hari ini (20/7) keluargaku di Lampung sudah mulai berpuasa. Beberapa teman di Jakarta juga sudah muali berpuasa. Aku merasakan suasana yang luar biasa dan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ah,.. lebai lagi.

Untuk kesekian kalinya aku tak melalui awal Ramadhan bersama keluarga di Lampung. Aku merasa tak sanggup melanjutkan tulisan ini setelah ingat kejadian tadi, saat tarawih. Seorang ibu di sampingku menceritakan anaknya dengan begitu haru dan bangga. Aku ingat ibu, ingat keluarga di rumah. Dan aku tak sanggup melanjutkan tulisan ini.

Permohonan terbaikku pada Rabb-ku akan selalu terlantun, teruntukmu ibu, ayah, dan keluargaku.

Selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan 1433 H.🙂

Semoga kita senantiasa diberi rahmat oleh Allah SWT. Allohumma aamiin.

Catatan Ramadhan 1433 H, Tanah Ibu Kota,

20 Juli 2012.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on July 23, 2012, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: