Catatan Harga Jilbab dalam Hijab I’m in Love

Siang hari, setelah usai kudirikan sholat Zuhur, abang (anak ibu kos) memanggil-manggil. Ternyata ada petugas TIKI yang datang untuk mengantarkan paket buku padaku. Hmmm… cepat juga ya, baru kemarin teh Indah kirim dari Bandung, hari ini sudah sampai di Pengadegan (7 Agustus 2012). Aku segera membuka bungkusnya, plastik TIKI dan sampul coklat. Segera aku telusuri lembar-lembar awal halaman buku yang berjudul ‘Hijab I’m in Love’ ini, sebuah buku yang berisi kumpulan 30 tulisan terbaik dari writing competition IMSS (FSLDKN XVI) yang digelar di ITB bulan lalu. Aku sampai pada halaman daftar isi, aku cari judul ‘Catatan Harga Jilbab’. Oh, ternyata ada di halaman 131, angka yang cantik. Hehehe. Segera aku baca.

Nah, berikut aku coba share, ya, semoga bermanfaat🙂

Catatan Harga Jilbab

oleh: Endang Sriwahyuni

Harga jilbab bagiku menjadi jauh lebih mahal. Karena Berjilbab adalah perintah Allah, perintah pemilik cinta yang kekal. Melaksanakannya berarti ibadah. Hingga harga jilbab bagiku pun kini senilai perjuangan cinta untuk meraih keridhoan Allah Azza Wajalla.

Usai kueja deretan huruf yang memfrasakan sebuah nama berkiblat ke-Jawaan yang hingga kini melekat pada identitasku. Tak perlu berpikir lagi, karena itu memang namaku. Ya, itu namaku.

Ketika itu fajar telah singgah di peraduan pagi. Aku telah siap dengan pakaian rapi hendak beraktivitas. Kusempatkan membenahi rupa jilbab  hijau toska yang kukenakan. Cantik sekali warnanya. Kurasa, sentuhan warna itu kepada kulitkulah yang menyebabkan wajah ini terlihat manis. Tersenyumlah aku. Narsis!

Kupatut lagi penampilan di hadapan cermin lemari yang menangkap utuh bagian depan bayanganku dari kaki hingga kepala. Aku melangkah menjauh dari cermin agar lebih jelas paduan rok hitam dengan baju hijau senada jilbab ini dapat kutatap. Lagi, inilah aku, dengan namaku, dengan gaya berpakaianku, dan dengan jilbabku.

Ah, jilbab. Aku tersenyum. Malu, merasa lucu, dan merasa bodoh jika kata jilbab membawaku pada memori beberapa tahun yang lalu. Sebuah memori kebodohan, (atau apalah namanya), yang sulit diuapkan ke angkasa hingga tanpa bekas. Memori itu tak bisa dilupakan! Sayang! Aku ingat lagi!

Pertengahan 2003 aku membuka lembaran baru untuk menulis kehidupan yang kujalani. Bukan sekedar apa yang telah terjadi, melainkan juga mengenai beragam keputusan yang harus kuambil dalam memenuhi sebuah ruang bernama kehidupan. Saat itu, aku berganti gelar, dari anak SD (Sekolah Dasar) menjadi anak SMP (Sekolah Menengah Pertama). Yah, kalo istilah lebainya sih, pasukan putih biru. Hmmm.

Sejak itu, aku memakai jilbab ke sekolah. Senang. Sebenarnya sudah lama ingin memakai jilbab, tapi di SD dulu nggak diizinkan ke sekolah memakai jilbab. Jadi, begitu diterima di sebuah SMP Negeri yang memperbolehkan pengenaan jilbab, aku langsung ambil kesempatan ini.

“Loe punya sodara kembar, ya?” Tanya seorang kakak kelas yang beru kukenal.

“Enggak.” Jawabku.

“Ah. Masa sih. Orang kemaren gue ngeliat kembaran loe. Mirip banget. Sumpah. Tapi dia pake jilbab.” Genah sang kakak kelas berambisi.

“Ah, dia pasti ngeliat gue di hari Jumat sama Sabtu.” Ucapku dalam hati, kilat, tak terlahirkan. Aku sekedar menanggapinya dengan tertawa renyah, lalu mengalihkan pembicaraan.

Tidak ada yang kembar. Yang dilihat oleh kakak kelasku itu ya aku. Tepatnya, aku di hari Jumat dan Sabtu. Itu saja. Bingung? Baik, akan kukenangkan lagi kisah yang membuatku sering merasa malu. Tentang jilbab.

Begini ceritanya. Sebagai anak baru, aku juga harus membeli seragam baru. Sekolahku mensyaratkan anak-anak kelas VII (satu SMP) untuk membeli seragam putih biru dari sekolah agar dapar memenuhi standar seragam yang sama. Tapi, untuk seragam pramuka diminta untuk membeli sendiri di luar sekolah.

Membeli seragam putih biru di sekolah tidak langsung jadi. Metodenya pesan dulu, lalu nunggu konveksi menyelesaikan jahitannya, dan biasanya akan dibagikan kepada setiap siswa di bulan Agustus sebelum tanggal 17 untuk upacara HUT RI. Jadi, sejak awal masuk, sekitar pertengahan Juli, anak-anak kelas VII masih harus mengenakan seragam merah putih (SD). Nah, karena seragam itu dipakai hari Senin sampai Kamis, dan seragam SD ku bukan busana muslim, maka aku tidak berjilbab. Lalu, karena sudah tidak sabar lagi ingin memakai seragam pramuka baru yang dibelikan oleh ibu, aku pun memakainya pada hari Jumat dan Sabtu. Seragam Pramuka ku adalah busana muslim sehingga aku pun mengenakan jilbab. Itulah sebabnya aku hanya memakai jilbab pada Jumat dan Sabtu, Senin sampai Kamis tidak. Jadi, nggak ada yang kembar😀 (Hihihi).

Kuakui, aku memang senang dan sudah lama ingin mengenakan jilab. Mungkin, alasanku sangat berbeda dengan muslimah lain yang mengatakan dirinya ‘Alhamdulillah telah mendapatkan hidayah dan dorongan kuat untuk berjilbab’. Sedangkan aku tidak begitu. Aku memakai jilbab karena merasa nyaman. Busana muslim (panjang-panjang plus jilbab) adalah jenis busana yang paling aku favoritkan. Enak dan tampak sopan. Begitu kesanku dulu. Ya, aku sangat menjunjung tinggi kesopanan. Harga jilbab bagiku saat itu senilai kesopanan dan fashion (gaya berpakaian yang khas aku banget-berhubung gaya pakaian, maka sesekali bisa aku ganti) saja.

Aku sempat iri kenapa Allah tidak memberiku hidayah ketika aku akan memakai jilbab. Maksudnya, biar jawabanku jadi keren kalau ada yang bertanya kenapa memakai jilbab. “Ya, Alhamdulillah, dapet hidayah dari Allah.” Harusnya aku jawab begitu. Tapi aku memang tidak merasa menerima sebuah hidayah dari Allah ketika mulai mengenakan jilbab di awal masuk SMP. Tanpa tahu, apa sebenarnya arti hidayah itu. Hmmm. Konyol.

Aku termasuk anak berjilbab yang paling aktif di eskul, terutama Pramuka. Suatu hari, aku akan mengikuti lomba lintas alam dan halang rintang tingkat provinsi. Lombanya kelompok, dan aku adalah ketua kelompok. Kakak kelasku bilang, dalam lomba semacam ini, kekompakan termasuk kekompakan pakaian menjadi penilaian. Karena kelompokku tak ada yang berjilbab selain aku, maka aku sebaiknya mengalah untuk melepas jilbab biar jadi seragam. Kamus diri masa itu mengartikan kata kompak dengan kata “sama”. Pakaian yang kompak, berarti pakaian yang sama. Jika aku berjilbab dan yang lain tidak, maka itu tidak kompak.

Demi prestasi, aku turuti kata kakak kelas itu. Aku kerahkan segala potensi yang aku miliki. Perlombaan tersebut ternyata sangat menyenangkan. Kelompokku meraih juara satu. Aku merasa tidak rugi telah melepaskan jilbabku. Bahkan, saat itu aku sama sekali tidak menjadikan kasus melepas jilbab sebagai hal besar meskipun aku mulai bingung kenapa teman-teman di sekolah banyak membicarakan hal ini. Ah, bodohnya, aku malah berpikir karena mereka kagum kepadaku. Allohummaghfili… .

Sampai pada tahun kedua, semakin banyak prestasi yang aku cetak di Pramuka. Berarti, semakin seringlah aku melepaskan jilbab. Kemudian, aku terpilih untuk mewakili sekolah di sebuah kegiatan Pramuka yang bergengsi. Aku tak ingin kalah. Dan tentu, aku harus melepas jilbab lagi.

Kali ini aku bukan melepas jilbab karena harus berseragam dalam kelompok, melainkan karena selama ini aku memenangkan lomba-lomba Pramuka (yang terjun ke alam) jika melepaskan jilbab. Aku lantas berkesimpulan bahwa para juri itu akan cenderung memberikan nilai yang baik pada yang tidak berjilbab. Sebab, tampak lebih Indonesia, lebih nasionalis dan tidak berpihak pada satu agama tertentu. Astaghfirulloh. Kala itu aku sudah berpikir seperti itu. Padahal berjilbab bukan berarti tidak Indonesia. Nasionalis tidak diukur dengan pakaian saja, kurasa.

Kepopuleranku naik. Selain karena prestasi di bidang Pramuka, lomba-lomba Bahasa Inggris, dan peringkat akademik, aku juga seorang ketua OSIS. Pembimbing OSIS yang menurutku adalah guru paling bijak, mengetahui aku melepas jilbab untuk kegiatan pramuka bergengsi itu. Sepulang dari kegiatan, beliau memarahiku habis-habisan. Aku dibilang tidak berpendirian. Harusnya aku bisa mempertahankan jilbabku sekaligus tetap bisa berprestasi. Tidak mengorbankan jilbab demi prestasi. Beliau benar-benar marah. Beliau mengancam akan memukuliku jika aku melakukan hal itu lagi.

Aku menangis. Tapi kupastikan bukan karena sesal telah melepas jilbab, melainkan aku ini orangnya mudah menangis kalau dimarahi (Upz…). Aku tidak suka bentakan meskipun di Pramuka sering dibentak-bentak (aku tau bentakan kakak senior pramuka itu 99% palsu, hihi). Selain itu, teman-teman di sekolah juga menghujatku macam-macam. Untuk posisiku sebagai ketua OSIS saat itu, aku tidak hanya telah mencoreng nama baik diri sendiri tapi juga menjatuhkan kepribadian organisasi lantaran telah melepas jilbab. Tak ada yang berpihak kepadaku. Semua menganggap aku begitu berdosa sehingga mungkin aku tak pantas lagi untuk ditemani. Aku seperti hidup sendiri. Ah, Ya Allah… kasihan sekali aku😦.

Aku cerna kata-kata Bapak Pembina Osis dalam rangkaian kemarahannya. Yang aku tangkap adalah, sekali aku memutuskan untuk memakai jilbab, harusnya aku mampu mempertahankannya. Baik itu di Pramuka, maupun di tempat-tempat umum. Jilbab itu bukan sekedar pelengkap pakaian, melainkan simbol kehormatan wanita. Karena dengan jilbab (dan pakaian muslimah) yang baik wanita akan terjaga. Aku simpan kepahamanku atas jilbab ini baik-baik pada ruang memori yang paling mudah untuk dipanggil kembali.

Sampai di tahun ketiga SMP, aku tak lagi membuka jilbab untuk membeli prestasi. Harga jilbab di mataku sudah semakin mahal sebagai simbol kehormatan wanita yang harus dijaga dengan baik. Pun, ternyata dengan jilbab aku masih mampu berprestasi. Alhamdulillah🙂. Harga jilbab itu lebih mahal daripada prestasi. Rugi kalo beli prestasi dengan jilbab.

Setelah lulus SMP, aku melanjutkan sekolah di sebuah SMA Negeri yang termasuk unggul sekabupaten. Di sana, nuansa kehidupan Islaminya sudah lebih terkondisikan. Setiap Jumat, ada kajian untuk siswi (muslimah) ketika para siswa sholat Jumat. Ya, aku mulai mengaji lagi di SMA. Selama SMP, aku sangat jarang sampai akhirnya berhenti mengaji lantaran kesibukan lain. (Ataghfirulloh….).

Dari kajian muslimah itu, aku mendapati pemahaman baru tentang jilbab. Ternyata, berjilbab adalah perintah Allah di Al Quran surat An-Nur ayat 31. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, …” (Ayo baca lanjutannya ^.^).

Ayat ini membuka cakrawala pemahamanku tentang jilbab meskipun sayang, baru aku ketahui setelah masuk SMA, setelah tiga tahun aku berusaha memakai jilbab. Harga jilbab bagiku menjadi jauh lebih mahal. Karena Berjilbab adalah perintah Allah, perintah pemilik cinta yang kekal. Melaksanakannya berarti ibadah. Hingga harga jilbab bagiku pun kini senilai perjuangan cinta untuk meraih keridhoan Allah Azza Wajalla. Karena hanya cinta-Nyalah yang kekal dan sejati, yang menghidupkan kehidupanku, kehidupan kita. Bahkan cinta-Nya jua yang membuat kita mampu meraih prestasi, tanpa harus mengorbankan jilbab. Bahkan, bagiku kini, mempertahankan jilbab pun adalah prestasi (dalam ibadah ^.^).

Sedikit banyak aku telah mengerti arti hidayah. Sempat aku katakan, sering iri pada teman yang berkata telah mendapat hidayah sebagai alasan berjilbab, sedangkan aku tidak. Namun, hidayah itu bukan ditunggu, melainkan juga harus dicari. Dan kupercaya kesempurnaan Allah memungkinkan-Nya memberikan hidayah dengan ribuan cara kepada siapa pun, termasuk yang berjuang mendapatkannya. Yang jelas, hidayah itu hanya dapat dirasakan dengan kejernihan hati, bukan jangkauan mata maupun sentuhan indra peraba.

Pandanganku kembali pada cermin, pada kepala yang kini berbalut jilbab hijau toska. Senyum di sela tarikan nafas mengisyaratkan rasa syukur tak terkira. Jilbab kini seperti nama yang telah menjadi identitasku. Jilbab pun adalah perjuanganku. Catatan harga jilbab ini, kurasa adalah sebuah perjuangan mencari hidayah-Nya. Dari mulanya, bagiku, harga jilbab senilai kesopanan dan gaya busana (fashion) saja, simbol kehormatan wanita yang harus dijaga, hingga kini senilai perjuangan cinta meraih ridho-Nya.

Untuk memakai jilbab, tidak harus menunggu mendapat hidayah dulu. Juga tidak perlu menunggu menjilbabpi hati dulu. Karena kita tak akan tahu sampai kapan kita punya waktu untuk menunggu dengan lamanya kemampuan amanah nafas untuk berhembus. Berjilbablah sekarang, ketika nurani sudah memanggil-manggilimu. Atas namakan Allah sebagai tujuanmu. Wallohu a’lam bishowab.

Tanah Ibu Kota, 26 April 2012 Pagi.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on August 8, 2012, in Creative, Experience, Fiction, My World, non-fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: