Lelah Guru

 
Seperti pada semester-semester sebelumnya, Sampoerna School of Education (SSE), mengirimkan mahasiswanya ke sekolah-sekolah untuk melakukan program school experience. Semester 7 ini, saya melakukan program tersebut di SMP 115 (SMABEL) Jakarta. Ya, datang ke sekolah dan kemudian mengajar adalah hal biasa, sebenarnya. Namun, kali ini saya harus mengajar 3 kelas yang dalam satu minggunya masing-masing terdiri dari 6 jam pelajaran. Dua kelas adalah kelas VII dan satu kelas lainnya kelas IX.
Terkesan sedikit, hanya 3 kelas, remeh.  Tapi, saya justru semakin merasakan betapa tidak remehnya sebuah kegiatan mengajar itu (jika akan benar-benar mengaplikasikan apa yang sudah saya pelajari di SSE). Pasalnya, saya harus bisa mengakomodir kebutuhan siswa di 3 kelas tersebut yang, tentu saja, masing-masing berbeda. Mempersiapkan tetek bengeknya macam lesson plan (yang bisa membuat peserta didik tertarik untuk melibatkan diri dalam pembelajaran), kualitas konten yang baik, properti atau resources, assessment, dll. Belum lagi energi yang harus digunakan untuk mengajar itu sendiri. Ketambah lagi, harus berangkat pagi-pagi untuk sampai di sekolah pukul 6.20 dan pulang harus bertarung dengan lelah menghadapi macetnya Jakarta. Rutinitas ini sungguh-sungguh terasa menggerogoti kesehatan badan. Paling tidak, menebarkan rasa lelah dengan amat sempurna ke seluruh bagian badan.
Memang, kelelahan ini terbayar lebih ketika anak-anak di kelas berantusias untuk belajar, ketika mereka bercanda, dan ketika pada akhirnya mereka mendapat apa yang kita targetkan (atau bahkan lebih). Akan tetapi lelah badan tetap tak bisa dibohongi.
Saya hanya mulai terpikir tentang betapa beratnya menjadi seorang guru, pendidik. Begitu saja terus. Tapi, setelah beberapa kali mengajar di kelas, saya justru mulai ketagihan. Seru sekali. Dan saya justru mulai tertarik untuk mengajar anak SMP di kemudian hari.😀 Mungkin, kelelahan dan keluhan saya di beberapa hari pertama itu hanya karena belum terbiasa. Kerja apa pun, pasti lelah. Tapi passion, rasanya, mampu mengalahkan apa pun, termasuk kelelahan.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on October 15, 2012, in anything, My World. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. kelelahan kita sebagai guru juga akan terbayar dengan pahala yang terus mengalir sampai kiamat selama ilmu yang ajarkan bermanfaat bagi siswa siswa kita..🙂
    insyaAllah, Aaamiin..
    semangat bu guru!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: