Kebodohan yang Indah

Kata orang bijak, seseorang yang sengaja melakukan sesuatu yang sudah jelas salah adalah orang yang bodoh. Ya iyalah. Udah tau salah, eh, masih aja dilakukan. Boleh lah kalau dibilang bodoh. Hmmm… sayangnya, itulah yang baru saja aku lakukan. Sesuatu yang telah sangat aku yakini salah, tapi tetap saja aku lakukan. Kalaupun termasuk diriku ini bodoh lantaran hal tersebut, maka kuanggap ini adalah sebuah kebodohan yang indah.

Sudah tau salah, kenapa dilakukan?
Tentu bukan tanpa pertimbangan. Segala risiko di berbagai segi telah secara paripurna aku pikirkan. Tapi, memang, baru dipikirkan. Belum dikaitkan dengan solusi serius yang harus dilakukan. Hmmm… tapi juga tak berarti aku tidak memikirkan solusi, sudah, kok, hanya belum terlalu serius.

Yang jelas, aku sangat yakin bahwa hal yang (mungkin) termasuk ‘bodoh’ itu harus segera dilakukan. Harapanku, si target dari ‘tindakan bodoh’ tersebut mau segera berintrospeksi diri. Mau, setidaknya, berpikir atau menanyakan kenapa aku melakukan hal tersebut. Aku bukan berarti tidak bisa mengubah keputusan asalkan saat aku utarakan ‘tindakan bodoh’ itu, ia menunjukkan perubahan. Sayangnya tidak. Ah. Bahkan, setelah ‘tindakan bodoh’ itu aku lakukan, dia marah (memang seperti yang aku sangka), bercerita pada teman-teman yang lain dengan posisi aku bersalah (juga sudah aku pikirkan sebelumnya), dan parahnya lagi, si target pun tetap melakukan “hal itu”, suatu hal yang membuatku tak nyaman dan akhirnya menyebabkan aku mengambil keputusan melakukan si ‘tindakan bodoh’.

Biar, kubeli kenyamananku dengan harga yang sedikit lebih mahal, sekaligus lebih sederhana daripada terus berselimut ketidaknyamanan di tengah kemewahan (yang sebenarnya juga tidak aku rasakan dengan sempurna).

Biar, orang akan menilai bagaimana. Kurasa juga tak penting untuk mengklarifikasi apa-apa.

Biar, kulakukan kesalahan yang telah dengan jelas aku tau salah, yang telah terlanjur menyakiti hati banyak orang, yang telah membuatku semakin tidak bijak, yang telah membuatku belajar bahwa hal ini tidak untuk diulangi lagi.

Biar, jika tindakan ini tergolong bodoh, sekali lagi aku pertegas, bahwa ini adalah kebodohan terindah yang pernah aku lakukan.

🙂

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on October 28, 2012, in anything, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: