Luka itu Mengusik Lagi

“Pagi ini aku terusik lagi. Terusik oleh luka yang dulu sempat membuatku terombang-ambing, merasakan sakit kritis seorang diri, merasa tak lagi memiliki siapa-siapa untuk berbagi. Ya. Luka yang saat itu membuatku seolah tak memiliki guna diri, nyaris tak ingin lagi ada di Jakarta ini. Pagi ini, tepat pada sebuah pagi ketika aku memutuskan untuk berjalan sendiri dengan barisan lain dan tak mengingat lagi luka yang kualami di barisan yang lama, dua saudariku justru datang untuk membuatku mengenang semua kenangan indah dan kesakitan atas luka yang kualami. Salah satu dari mereka menangis oleh sebab yang sama seperti yang dulu aku rasakan setelah memutuskan mundur dari “kawasan itu”. Ia mencemaskan hal yang kurang lebih sama seperti apa yang dulu aku cemaskan. Dia merasakan kebingungan yang nyaris sama dengan apa yang dulu aku bingungkan. Tak mudah, sungguh, dalam kondisi seperti itu. Tapi aku pun ternyata tak mampu memberikan apa-apa untuknya meski telah pernah mengalami lebih dulu daripada dia. Pikiranku kembali kalut kemana-mana. Luka yang aku rasakan teramat sakit, pagi ini mengusik lagi.”

Aku paham benar bahwa menyalahkan luka itu adalah sama dengan keangkuhan tingkat langit yang tak pantas aku lakukan. Tak bisa dipungkiri bahwa aku pun berperan menyebabkan luka itu terasa semakin perih dalam diriku. Andai dulu aku sedikit lebih bijak menghadapi semuanya,mungkin aku akan memilih jalan yang lebih baik. Andai dulu aku mampu bersikap sedikit lebih dewasa, mungkin aku tak akan pernah merasa sendiri dan merasa luka ini semakin sakit. Ah. Tak guna untuk tetap berandai. Kesalahan ini, konekuensi atas keputusan tak bijak yang kubuat, telah mutlak tercetak dalam sejarah hidupku.
Hhhhhhh…… Astaghfirulloh…. Astaghfirulloh…. Astaghfirulloh……
Hhhhhhhh……
Jika nasi sudah menjadi bubur, dan kau tak hendak memakan bubur yang sebenarnya hanyalah nasi yang terlalu lembek, maka carilah bumbu, ayam, dan segala penyedap bubur itu agar kau tertarik untuk memakannya. Perumpamaan ini dinggap benar oleh banyak orang. Aku pun tak menyalahkan. Hanya saja, dalam kasus ini, kasus luka yang mengusik hidupku lagi, ego membuatku enggan untuk pergi mencari bumbu-bumbu dan penyedap itu.
Dari dulu, ahhhh, selalu saja “kawasan itu”, “kawasan” dimana luka itu aku dapatkan, selalu menjadi peraih juara satu dalam nominasi penyebab kegalauanku. Galau.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on November 9, 2012, in anything, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: