Ringkasan Pendidikan Indonesia

Sekolah negeri dan swasta yang telah mendapat pengakuan pemerintah dan publik dewasa ini semakin gencar meningkatkan kualitas dan reputasinya dengan banyak cara seperti menjadi RSBI/SBI, nasional plus, menggunakan guru dari luar negeri, dan lainnya hingga menciptakan kesan “wah” pada sekolah-sekolah tersebut. Sepaham dengan prinsip Jawa, “Rego nggowo rupo” (Harga memengaruhi tampilan), maka tak ayal jika peningkatan kualitas dan reputasi itu pun akhirnya berdampak pada semakin mahalnya biaya pendidikan yang harus dibayar oleh masyarakat. Keluhan tak henti mengalir dari beragam lapisan warga. Akan tetapi, bagi warga yang berada,  keluhan tersebut hanyalah sebatas keluhan dan tak menghalangi mereka untuk tetap menyekolahkan anaknya. Bahkan, sebagian orang justru bangga jika mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal karena berpandangan bahwa harga tinggi yang ia bayarkan akan lebih menjamin prestasi dan kesuksesan putra-putrinya.

Hal tersebut menampilkan gambaran tentang sebuah kabar yang baik, bahwasannya kualitas sekolah-sekolah di negeri ini semakin membaik dan warga tetap mampu menyekolahkan anaknya. Namun, gambaran tersebut hanya terpajang di sebagian sudut Indonesia saja. Sedangkan di sudut lain negeri ini, masih banyak anak yang tidak bisa bersekolah. Kebanggaan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah mahal dan berkualitas  seolah menjadi agenda yang tak sempat terpikirkan bagi kalangan ini, masyarakat yang tak mampu. Waktu untuk bersekolah pun dirasa jauh lebih baik jika digunakan untuk bekerja; mengamen, berjualan, dll. Sebagian anak tak ingin bersekolah lantaran sekolah hanya menghabiskan uang sedangkan dengan mengamen saja mereka mampu, paling tidak, mendapatkan uang sekitar dua ratus ribu rupiah perharinya.

Sekilas, pilihan anak-anak itu untuk bekerja saja memang tampak mulia dan mandiri. Mereka seperti sudah memiliki tekad untuk tidak merepotkan orang tua dengan biaya sekolah yang mahal. Mereka justru membantu meringankan beban kebutuhan hidup keluarga dengan bekerja.

Namun, memikirkan usia anak-anak tersebut yang masih harus menempuh pendidikan dasar wajib (9 tahun), pikiran kita akan berubah. Anak-anak itu harus sekolah dan mendapatkan haknya dalam masa pedidikan dasar; membaca, menulis, ilmu pengetahun sosial, ilmu pengetahuan alam, dan beberpa pelajaran dasar lainnya. Sayangnya, jika kembali lagi soal biaya dan tetek bengeknya, mereka memang kesulitan untuk medapatkan akses pendidikan dasar itu.

Membuka sekolah gratis dapat menjadi solusi dari masalah tersebut. Namun, tak henti hanya dengan menyerahkan semuanya pada pemerintah. Masyarakat dan pemuda harus mengambil andil dalam hal ini sebagai pendiri sekolah, pengajar, dan pengupaya agar sekolah dapat diakui keberadaannya oleh pemerintah dan masyarakat.

Salah satu contoh sekolah gratis adalah SMP Ibu Pertiwi yang terletak di kawasan Pancoran Jakarta Selatan. Sekolah yang dikelola oleh Ibu Ade ini memiliki siswa sekitar 20 orang dari kelas tujuh dampai dengan kelas Sembilan. Meskipun dengan kuantitas peserta didik yang terbatas, namun Ibu Ade mengupayakan pemberian akses pendidikan yang tanpa batas kepada mereka.

Siswa siswi SMP Ibu Pertiwi, selain mempelajari bidang-bidang akademik, juga mendapatkan fasilitas untuk melatih keterampilan seperti komputer, menjahit, dan berbagai kerajinan tangan. Hal tersebut diharapkan akan bisa menjadi bekal bagi para siswa dan siswi SMP Ibu Pertiwi dalam mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Sekolah gratis seperti SMP Ibu Pertiwi ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi anak-anak yang tidak bersekolah lantaran ketidakmampuan membayar biaya sekolah. Tetunya, program seperti ini memerlukan penanganan serius dan jiwa sosial yang tinggi. Sebab, dari program ini, tentu kita tidak bisa mendapatkan profit yang akan menambah penghasilan bulanan, justru harus lebih banyak melakukan pengorbanan seperti memberikan pengajaran gratis, mengupayakan banyak hal seperti merekrut anak-anak yang tidak bersekolah agar mau bersekolah, mencari donatur dari pihak swasta dan pemerintah, dll. Diperlukan kerja sama yang baik untuk mencapai keberhasilan dan memberantas angka kebodohan di Negara ini.

Dengan demikian, jika diringkas, pada dasarnya pendidikan di Inonesia memiliki dua wajah. Di satu sisi, terliht begitu memukau dengan peningkatan di sana-sini demi memfasilitasi anak bangsa dengan kualitas pendidikan yang baik. Sedangkan di sisi lain, masih banyak anak-anak yang tidak mampu mendapatkan akses pendidikan formal sama sekali, baik yang berkualitas baik maupun tidak. Diperlukan tindakan agar mereka pun bisa bersekolah, paling tidak, pendidikan dasar sembilan tahun. Sekolah gratis dengan didukung oleh berbagai pihak dan kurikulum yang memfasilitasi siswa-siswinya mendapatkan ilmu akademik dan non akademik akan dapat menjadi solusi alternatif bagi permasalahan yang tampak dalam ringksan pendidikan Indonesia itu.

 

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on November 12, 2012, in Creative, non-fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: