Mampir (lagi) ke Kawasan Terlarang

Sudah pernah kutekadkan untuk tidak lagi berjalan di kawasan terlarang itu, kawasan dimana aku telah terusir darinya. Bahkan, sebisa mungkin tak mendekat sedikit pun. Namun satu sisi sikap terlalu santai yang bercokol dalam diri akhirnya mengganggu tekad itu. Untuk kedua kalinya aku mampir lagi ke kawasan itu. Waktu itu, yang pertama, sedikit sengaja dan terencana. Tapi, yang kedua ini, sungguh terjebak.

Sekitar seminggu yang lalu aku dihubungi oleh salah satu penguasa kawasan itu. Ia mengajakku untuk berkunjung kesana, membantu membereskan sesuatu di sana (anggap saja). Aku jelas menolak karena itu bukan lagi kawasanku. Aku utarakan beragam pertimbangan. Namun, ya, lagi-lagi, sikap terlalu santai ini membuatku tak bisa menolak. Apa lagi setelah sang penguasa itu mengatakan bahwa ini hanya untuk sebagian peghuni khusus, tidak semua, tidak pula termasuk pada salah satu penghuni yang amat aku hindari. Aku fikir, tak ada salahnya membantu.

Aku terus terag saja bahwa di empat hari yang diminta itu tidak bisa full di sana. Menurut mereka itu tidak masalah. Ya sudah. Aku datang saja di sela-sela aku bisa. Tapi sungguh, itu pun bukan tanpa perjuagan. Banyak juga pengorbanan yang aku lakukan.

Sampai malam ini, usai syuro Fabee aku sempatkan datang ke sana. Sampai di lokasi sekitar pukul 21.30an. Ternyata kamar panitia masih dikunci lantaran semua penghuni sedang mengikuti sebuah acara di satu titik perkumpulan. Aku terlalu lelah rasanya setelah mobile hari ini. Malas untuk menyusul siapa-siapa di titik tersebut. Apalagi jika ingat kekagetanku tadi pagi. Ya, aku kaget karena semua pnghuni ada di sana, termasuk yang aku hindari. Jadi bukan khusus untuk sebagian penghuni saja. Okay. Aku putuskan untuk duduk saja menunggu semua selesai di depan kamar. Jika pun aku ikut, rasanya malas menjawab pertanyaan para penghuni kawasan terlarang bagiku itu. Meskipun aneh, tapi kurasa ini lebih baik.

Tapi kemudian aku jadi berpikir. Ketidakbisaanku hadir full di sana membuat kerja yang menjadi bagianku terbengkalai. Aku tidak maksimal. Sebuah sms yang masuk dari salah satu tangan kanan sang penguasa (yang mengajakku kunjung ke sana tadi) membuatku tertegun. Menamparku, mengingatkan bahwa aku bukan lagi bagian dari kawasan ini dan percuma aku di sini jika aku tidak berarti. Begitu, murni pikiranku sendiri. Sang tangan kanan itu baik, tak akan mungkin bicara begitu padaku.

>>>>hhhhhmmmm….

Harusnya aku bisa lebih TEGAS lagi menghadapi ini. TEGAS. Jangan terlalu sering nggak enakan. Dan untuk kasus kawasan terlarang ini, meskipun susah untuk benar-benar melepaskan diri, tapi, percayalah, bahwa jalan yang kini kupilih adalah benar jika tetap melibatkan Allah. Jadi, tidak ada alasan untuk sulit lagi melepaskan diri benar-benar dari kawasan itu. Semoga silaturahim dengan warga kawasan terlarang itu tetap baik dan semog ini kunjungan terakhirku ^.^.

Terima kasih Ya Allah, atas pelajaran ini.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on November 29, 2012, in anything, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: