Lampung: “Mulai Tahun ini Aku Pantang Murung.”

peta lampung-glo

Lampung mendidih menjelang penghujung tahun lalu. Bentrok maut antarsuku terjadi ibarat tumbal yang meminta korban nyawa sekaligus harta. Beban pilu yang menyiksa akibat kehilangan sanak saudara harus bertambah-tambah dengan kebutuhan membenahi tempat tinggal yang rusak dan pengobatan luka-luka, yang juga akibat bentrokan maut tersebut. Bentrokan antarsuku ini tercatat sebagai bentrokan terparah di sepanjang catatan sejarah masyarakat Lampung. Sebuah catatan sejarah yang panjang hingga melahirkan prasangka mutlak antarsuku yang terwariskan dengan sangat baik dari generasi ke generasi. Warisan prasangka tua yang tetap tumbuh dan terjaga hingga masa kini.

Pada dasarnya, perselisihan dan bentrokan antara suku yang tinggal sebagai warga Lampung adalah tragedi yang kerap terjadi dan berulang. Dendam yang tak kunjung tuntas membuat mereka lantas dengan kilat mengambil tindakan brutal untuk menyerang satu sama lain. Bahkan, ketika permasalahannya belum jelas atau sepele sekalipun.

Tak hanya antara suku Lampung dengan Bali seperti yang pecah pada tanggal 28 Oktober 2012 lalu, bentrokan semacam itu juga pernah terjadi antara suku Lampung dengan Jawa dan bahkan Bali dengan Jawa. Bentrokan yang terjadi, meski akhirnya didamaikan, tetap saja tak mematikan warisan prasangka antar suku yang ada.

Warga yang bersuku Lampung asli menganggap para pendatang (orang-orang bersuku Jawa, Bali, Sunda, dll.), khususnya dari program transmigrasi, adalah koloni (penjajah). Kedatangan mereka yang mulanya diorganisir oleh pemerintah dirasakan tidak adil. Warga asli Lampung yang dahulu memiliki tanah atau lahan yang sangat luas harus merelakannya untuk dikavling-kavling dan kemudian secara cuma-cuma ditempati oleh pendatang. Ketidakadilan versi warga Lampung asli ini menyulut api prasangka membesar bahwa kehadiran warga pendatang adalah pengancam kenyamanan hidup mereka.

Namun, warga Lampung asli memiliki tata adab pergaulan yang baik seperti yang tertulis dalam Piil Pesanggiri. Piil Pesanggiri adalah sepuluh karakter hidup bermasyarakat bagi suku Lampung, yang salah satunya adalah “Nemui Nyimah” (ramah dan terbuka terhadap orang lain). Oleh karena itu, mereka tetap berusaha dengan baik untuk menerima kedatangan para koloni yang sebenarnya adalah saudara setanah air sendiri.

Sayangnya, para warga pendatang tidak membawa bekal kesadaran untuk turut mempelajari kebudayaan Lampung, dan sebaliknya, kurang ada upaya progresif dari warga Lampung asli dalam memperkenalkan budayanya. Dampaknya, warga bersuku Lampung dan suku-suku pendatang lainnya seperti hidup dan bertumbuh sendiri-sendiri. Hal ini menimbulkan adanya kebanggaan berlebih pada suku masing-masing yang menjurus pada paham sukuisme dan anggapan negatif terhadap suku lain.

Selain suku Lampung yang menganggap pendatang sebagai koloni, warga pendatang yang kini jumlahnya mengalahkan populasi suku Lampung asli pun mewariskan persepsi bahwa orang bersuku Lampung (sering disebut pribumi) itu kasar dan suka mencari masalah. Pun, prasagka ini diwariskan kepada generasinya dengan amat baik hingga hidup sampai sekarang. Maka selisih dan bentrokan antarsuku pun kerap terjadi akibat warisan prasangka-prasangka yang ada. Setiap ada permasalahan, latar belakang suku selalu dipersoalkan. Padahal, kesalahan yang dilakukan manusia adalah kondisi wajarnya sebagai orang tak sempurna yang harusnya justru dibuat menjadi ruang pembelajaran untuk menjadi lebih baik. Baik dan buruknya manusia pun bukan bergantung pada jenis suku, melainkan karakter dan kemampuan pengendalian diri sendiri yang kemudian didukung oleh lingkungan yang positif. Lingkungan positif juga hanya akan tercipta dari sikap postitif dari setiap individu yang ada di dalamnya.

Mungkin, Lampung murung ketika harus terus menanggapi permasalahan menahun akibat prasangka negatif antarsuku di buminya. Merintih, seperti Ibu Pertiwi* yang bersedih hati, menyesali putra-putrinya yang tidak akur dan budayanya yang kian jauh menghilang tak terukur. Namun, pada dasarnya, putra-putri Lampung, warga Lampung, memiliki peluang yang amat besar untuk membuat Lampung tak lagi murung. Kendali utamanya adalah pada masing-masing pribadi untuk memusnahkan prasangka antarsuku yang selama ini telah terwariskan. Lantas, menuliskan dalam mindset masing-masing bahwasannya baik dan buruknya seseorang tidak bergantung pada jenis sukunya. Momentum tahun baru yang identik dengan membuka lembaran kehidupan baru dengan semangat perbaikan yang tinggi ini akan menjadi sangat baik untuk memulai sebuah perubahan. Sudah saatnya warisan baru ini ditanamkan pada warga Lampung, terutama generasi mudanya, agar kelak tumbuh dengan persepsi yang lebih sehat. Tak ada koloni dan pribumi, yang ada adalah warga Lampung yang bersatu dan harmonis. Hingga jika dapat berbicara, tahun ini Lampung akan bertekad untuk pantang murung. (*Lagu Nasional berjudul “Ibu Pertiwi”).

Gambar: Peta Lampung diunduh dari sailiwa.blogspot.com

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on January 23, 2013, in Creative, non-fiction. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: