Para Pendaki Malam (Part 1)

decision3

           Belakangan, mesin pembuat keputusanku seperti ogah-ogahan bekerja. Ia kalap dengan ribuan kerjaan berturut yang berat. Berat masing-masing keputusan yang harus diproduksi kira-kira seberat besi yang harus diangkat oleh sang lifter asal Lampung (Eko Yuli Irawan) yang berhasil meraih perunggu di Olimpiade London 2012 lalu. Hehe.. itu jelas ngasal. Tapi, keputusan-keputusan berat dan sulit memang harus aku buat dan tidak boleh ngasal. Apa dapat dikata. Sesulit apa pun, tak mungkin aku menolak untuk membuat keputusan. Sudah merupakan konsekuensi manusia jika harus selalu memilih dan memutuskan.

Sebenarnya, bobot pertimbangan setiap hal yang harus diputuskan mungkin tak akan terlalu berat jika masalah dompet dan ATM tidak ikut-ikutan. Biasa…, lugasnya ini soal uang. Lebih jujurnya, ruang-ruang dompet sudah mulai hampa tanpa asupan uang dan nilai 0 di ATM tak juga kunjung pecah. Singkatnya, uang di dompet sudah nyaris habis dan uang beasiswa (living allowance)  bulan ini belum dikirimkan. Haha… ribet, ya? Intinya, sih,bingung, ga punya uang. Padahal banyak keputusan penting yang harus dibuat yang hanya bisa diiyakan jika punya uang. 

cover Salah satu keputusan penting itu adalah diklatsar yang wajib diikuti oleh semua fasilitator Beewhite. Tentu aku sangat tertarik untuk mengikuti acara ini, tapi sempat ragu karena keterbatasan dana yang aku punya. Memang tidak ada uang registrasi segala macam, tapi pastilah tetap perlu uang untuk ongkos ke lokasi dan pulang lagi ke Jakarta plus membeli perlengkapan seperti lilin, korek, garam, makanan ringan, dll. Hmmmm… nggak salah, kok, kalo kamu bilang “Ah, itukan murah.” Memang, semua itu murah, tapi bergantung pada siapa yang ngomong. Kalau yang ngomong orang yang statusnya lagi kanker (read: kantong kering) ya jadi super mahal. Haha… mau beli makan aja sampe mikir “Laper beneran, ga ya?”😀.

Sempat dua kali hampir memutuskan untuk tidak ikut saja dengan pertimbangan presentasi mata kuliah Discourse Analysis dan bimbingan skripsi penting. Tapi mungkin memang dasarnya aku pengen banget ikut, jadi Allah kasih jalan. Soal biaya, akhirnya aku pinjam sama adik tingkat yang living allowance nya sudah keluar. Hehe… *selamat ya dek, kamu terpilih buat kakak pinjem uangnya :p.

Dan soal dua kendala yang menyebabkan hampir ga ikut, alhamdulillah bisa diselesaikan dengan baik. Presentasi bisa diganti di hari lain. Bimbingan skripsi tetap jalan di hari yang ditetapkan hingga konsekuensinya aku harus berangkat sendiri (read: nyusul) ke lokasi acara.

Ketika itu, nggak ada perasaan keberatan untuk berangkat sendiri, tidak bersama robongan. “Toh, aku sudah biasa kemana-mana sendiri dan punya kemampuan spasial yang lumayan bagus (*narsis). Jadi gak masalah lah, asalkan arahan rutenya jelas.” Begitu pikirku.

Namun, sesaat kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselku. Ternyata dari rekan seperjuangan, sama-sama fasilitator Beewhite. Dia juga harus berangkat ke lokasi menyusul dan mengajakku untuk bareng saja. Ya sudahlah, aku iyakan. Tak ada buruknya kok kalau berangkat berjamaah.🙂

**********

                Sampai pada hari yang dinanti, Rabu, 16 Januari 2013. Sekitar menjelang Ashar, aku bertemu dengan dia di Terminal Kampung Rambutan. Kak Imas, begitu biasa aku memanggilnya. Ternyata, di sana juga sudah ada fasilitator lain yang akan berangkat bersama, Kak Uni. Kami bertiga memutuskan untuk berangkat ba’da Ashar saja.

Terminal Kampung Rambutan

Pertemuan dengan mereka membuatku sangat bahagia dan antusias untuk segera ke lokasi. Diantara kami bertiga, hanya aku yang baru pertama kali ke sana. Mereka berdua sudah pernah beberapa kali berkegiatan di sana bersama teman-teman kampus dan organisasi. Mereka bilang, setelah turun dari bus, kami harus mendaki gunung selama kurang-lebih dua jam. Wah, dasar nggak punya background knowledge tentang ini, aku tenang-tenang saja dan semakin antusias.

Setelah sholat Ashar, sekitar pukul 15.30, kami naik bus ke arah Cisarua. Wajahku sumringah, tersenyum penuh arti. Arti apa? Arti kekhawatiran kali ya? Hehe. Meski sudah pinjam uang, tapi sebagian sudah aku gunakan untuk belanja perlengkapan. Aku sedikit khawatir kalau sampai uang yang aku punya ini kurang. Tapi dalam hati aku terus memohon pada Allah agar bagaimana pun cara-Nya, kami dilancarkan sampai tujuan dengan selamat.

Di Bus, aku memilih posisi duduk yang strategis. Kak Imas duduk bersama kak Uni. Aku duduk di bangku yang sederet dengan bangku mereka. Seperti biasa, aku cenderung untuk selalu duduk di dekat jendela dan atau mojok  (bawaan darah O nih kayaknya, :p). Sepanjang perjalanan, aku berkutat dengan Takagi Fujimaru (nama netbook ku, nama pemberian atau lebih tepatnya paksaan dari salah satu sahabatku, seorang chef dari lahirnya, hehe).

Jangan su’uzon, dulu. Berkutat dengan netbook bukan karena sombong alias pamer. Justru ini juga agak terpaksa karena tuntutan peran. Haha. Maksudnya peran mahasiswa yang sudah terlanjur dicitrakan sebagai mahasiswa baik-baik, gitu😀. Apa lagi? Ya sudah tentulah aku sibuk mengerjakan tugas critical analysis paper untuk matkul TEYL. Tugas itu harus dikumpulkan besok, jadi aku pikir dalam perjalanan di bus ini aku harus segera menyelesaikan dan kemudian dikirim email ke salah satu classmate untuk titip ngeprint dan  ngumpulin ke dosen. Kalau sudah di lokasi acara pasti gak sempat.

Rencananya besok (17 Januari) kan mau bolos kuliah TEYL, tapi tetaplah kalau soal tugas nggak mau macem-macem, WAJIB ngumpul🙂 (*baik, kan…? Hehe).

Sekitar sepuluh menit sebelum turun bus, aku sudah selesai mengerjakan tugas dan sudah merapikan Takagi Fujimari kedalam tasku. Alhamdulillah… . Dan semoga Allah meridhoi kebolosanku esok hari (eh, doa macam apa ini?!).

Aku masih sempat memandangi jalanan dari jendela kaca bus. Sedikit penasaran. Di sana banyak toko-toko dan tempat-tempat lain yang bertuliskan huruf Hijaiyah (Arab). Berasa bukan di Indonesia jadinya. Dan ternyata itu adalah salah satu Kampung Arab di Indonesia (Cerita tentang Kampung Arab insyaAllah kapan-kapan dibahas di tulisan selajutnya, ya).

Sekitar jam enam sore, kami tiba di Desa Tugu. Di bahu kiri jalan ada sebuah klinik yang disampingnya terdapat sebuah gang cukup lebar. Menurut instruksi panitia, gang itu yang harus kami susuri.

Hari mulai gelap. Kami pun mulai berjalan menuju lokasi kegiatan di Vila Mang Ade, Cikoneng. Menakhlukkan ketakutan akan gelap, mempercayakan segalanya pada Allah demi segera bertemu dengan para kakak-kakak hebat yang pasti penuh semangat luar biasa. Dan, inilah perjalanan kami yang sebenarnya, para pendaki malam.

….bersambung….

 

 

Pictures:

google image

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on January 24, 2013, in Experience, My World and tagged , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. bukannya kemaren namanya sdh direvisi jadi Takagi Fujibirru ya, endz?😀
    eh, ditunggu cerita ttg kampung Arabnya ya..😉

  2. ka endang,,,,,lanjutin donk ceritanya🙂

  1. Pingback: Para Pendaki Malam (Part 2) | Step to Improve Better

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: