Para Pendaki Malam (Part 2)

Kelanjutan dari Para Pendaki Malam (Part 1)

 …… Sekitar jam enam sore, kami tiba di Desa Tugu. Di bahu kiri jalan ada sebuah klinik yang disampingnya terdapat sebuah gang cukup lebar. Menurut instruksi panitia, gang itu yang harus kami susuri.

Hari mulai gelap. Kami pun mulai berjalan menuju lokasi kegiatan di Vila Mang Ade, Cikoneng. Menakhlukkan ketakutan akan gelap, mempercayakan segalanya pada Allah demi segera bertemu dengan para kakak-kakak hebat yang pasti penuh semangat luar biasa. Dan, inilah perjalanan kami yang sebenarnya, para pendaki malam. …..

*******

                Dengan penuh semangat, kami bertiga membuat langkah-langkah tegas menyusuri jalanan di Desa Tugu yang sepi, seperti tanpa kehidupan sama sekali. Selain para abang ojek di gerbang  desa, hanya rumah-rumah dengan pintu tertutup rapat yang dapat kami lihat di kanan dan kiri jalan.

Tekstur jalanan di desa ini tidak rata, semakin menanjak seperti khasnya daerah pegunungan yang lain. Semakin naik, pemandangan alam yang mulai tertutup gelap semakin tampak elegan. Satu dua orang, yang mungkin baru pulang dari lading atau mencari pakan hewan ternak, mulai kami lihat ada di jalan. Sempat dua atau tiga orang berwajah Arab menyapa kami dengan melontarkan salam.

Dingin yang tajam mulai menusuk kulit. Ah, tanpa disuruh, pikiranku pun teringat pada jaket yang tertinggal di kamar. Tapi apa boleh buat, sudah terlanjur jauh dan tinggal bisa berharap semoga tidak masuk angin sajalah, haha.

Azan maghrib saat itu bersahutan di pintu langit yang luas tak berbatas. Gelap semakin nyata menjadi dinding dunia di alam lepas. Tiga muslimah pun tetap berjalan melanjutkan perjalanan. Saat itu, kami memutuskan untuk mencari masjid atau mushola terlebih dahulu karena tidak mungkin menunda sholat maghrib. Sedikit banyak kecemasan dan ketakutan sudah mulai bermunculan dalam diri kami masing-masing. Mengingat pendakian yang berkisar selama dua jam, bahkan rombongan yang berangkat tadi pagi memerlukan waktu tiga jam, terlalu beresiko rasanya jika harus menunda sholat maghrib. Kami khawatir akan terjadi apa-apa pada kami, dalam kondisi kami belum sholat maghrib (Na’udzubillah mindzalik). Dan mungkin, inilah fitrahnya manusia, mendekat pada Dzat yang MahaPelindung.

Kami tetap berjalan dan sampailah kami pada sebuah titik di mana tertancap kayu berbentuk panah petunjuk berbagai arah. Inilah kebingungan pertama yang terjadi dalam pendakian ini. Ada begitu banyak pilihan jalan. Lalu, kami mencoba menghubungi panitia agar dibantu memperoleh petunjuk. Cukup membatu meskipun sedikit ragu. Alhamdulillah, ada seorang warga yang melewati kami. Beliau kemudian menunjukkan arah yang sebaiknya kami tempuh menuju Cikoneng.

Perjalanan masih dilanjutkan. Kali ini, kami menyusupi rumah-rumah warga mencari masjid atau mushola. Atas petunjuk salah satu warga yang dibimbing oleh Allah SWT. Kami menemukannya. Kami berhenti di sebuah mushola kecil yang sangat sederhana, lantas menuju tempat wudhunya.

Kuhayati basuhan air di setiap gerakan wudhu yang aku lakukan. Ketenangan, kedamaian dan semangat yang mulai memudar satu persatu telah kembali memenuhi ruang jiwaku. Dinginnya air yang sudah menyerupai air es ini pun seperti memadamkan api-api kecil ketakutan yang ada dalam diriku. Harapku sangat penuh pada Allah agar menyampaiakn kami dengan selamat di tempat yang kami tuju.

Di mushola itu, memang hanya kami yang wanita. Jamaah lainnya adalah laki-laki yang mayoritas, kuperhatikan, berwajah Arab. Mereka memandangi kami dengan tatapan asing. Entah apa maksud mereka, mungkin heran dengan muslimah yang masih berkeliaran hingga hari gelap tanpa seorang laki-laki pun, atau mungkin mencurigai kami sebagai orang asing, atau.. entahlah. Sebisa mungkin aku berhusnuzon saja.

Hampir pukul tujuh malam, usai menunaikan sholat maghrib, kami melanjutkan perjalanan, berjalan di medan yang naik turun, medan yang membutuhkan fisik kuat, energi dan kehati-hatian ekstra. Hujan gerimis turun menemani kami. Jalanan semakin licin. Bisa saja kami tergelincir pada jalanan yang kami lalui. Namun, kala itu kami saling membantu, saling menguatkan dan menyelamatkan satu sama lain. Aku tersadar, saat itu aku mulai belajar ‘sesuatu’.

Beberapa orang kami tanyai arah menuju Cikoneng. Alhamdulillah, semuanya menjawab dengan ramah dan tidak membingungkan. Namun, tak sedikit dari mereka menyarankan agar kami naik ojeg saja karena jaraknya sangat jauh. Sangat jauh, tak tau persisi berapa pastinya. Ada yang bilang 3 km, 10 km, dan sampai belasan kilo meter. Aku sudah sempat khawatir. Kalau sampai dua temanku ini memutuskan untuk naik ojeg, habislah persediaan uangku yang memang sudah mefffffeetttt. Tapi, Alhamdulillah mereka memilih berjalan kaki saja.

Sesekali, satu diantara kami, kecuali Kak Imas, berhenti, istirahat sejenak. Pun, sempat muntah karena sangat mual setelah berjalan jauh dengan rute yang naik turun. Padahal, titik terang lokasi yang kami tuju belum juga ditemukan. Angin keputus asaan ulai berdesir mengoyak lembut pikiran kami. Namun Kak Imas lagi-lagi memotivasi dan menguatkan kami hingga akhirnya kami bangkit kembali. Lagi, aku belajar ‘sesuatu’ di sini.

Kami masih mendaki dan sesekali berhenti. Kami lelah, tapi taka da pilihan lain kecuali melanjutkan perjalanan. Beberapa kali mobil melintas membuat kami berpikiran untuk menumpang. Namun urung. Kami tetap berjalan kaki hingga kelelahan membuat kami nyaris enggan untuk mendaki.

Hari semakin gelap. Azan Isya berkumandang kami masih di jalan. Senter yang kami nyalakan sedikit membuat kami beralasan untuk berani melawan ketakutan. Entah, takut pada hantu, hewan buas, atau sebenarnya hanya takut pada kecemasan yang kami ciptakan sendiri dalam benak kami.

Sampailah lagi kami di sebuah vila (entah apa namanya, yang jelas bukan Vila Mang Ade). Salah satu diantara kami benar-benar kelelahan. Angin keputusasaan telah benar-benar memporak-porandakan bangunan semangatnya hingga ia memutuskan untuk naik ojeg saja. Ah, tapi mustahil. Mana ada pangkalan ojeg di tempat seperti itu, gelap, menakutkan. Akhirnya kami lagi lagi saling mambantu, memapah dan membawakan barang.

Waktu berputar begitu lama. Jarak yang kami tempuh seperti tidak ada ujungnya. Angin keputusasaan lagi-lagi selalu menggoda. Perut bertambah mual. Kaki semakin pegal. Hati juga sesekali terasa kesal.

Sebenarya, ada sebuah sungai yang harus kami lewati. Konon, dengan menyebrangi sungai ini (tanpa jembatan), kami akan sampai lokasi dengan lebih cepat. Namun, malam itu sungai mengalir dengan begitu amat sangat deras sekali (banget banget banget :D). Menimbang berbagai hal, terutama keselamatan kami, akhirnya kami memilih jalan lain. Sedikit lebih jauh, tapi sangat lebih aman. Kami melewati sebuah jembatan baru, tetap berjalan bermodal senter melawan dinding-dinding gelap malam, dan terus berdzikir serta memohon pada Allah agar diberi pertolongan.

ngga sempet foto2, tapi beginilah rute yang kami lewati. (sumber: google image)

ngga sempet foto2, tapi beginilah rute yang kami lewati. (sumber: google image)

Rute yang kami lalui semakin menanjak tajam. Pada satu titik, kami ragu, benar-benar ragu atas jalan yang harus kami pilih. Ini adalah keraguan yang kesekain kalinya. Taka da banyak hal yang bisa aku deskripsikan dari tempat itu. Yang jelas, jalannya menanjar, semak belukar di kanan-kirinya, taka da pencahayaan sama sekali dan sepi. Kami di ambang pintu keputus-asaan. Sinyal seluler tak terlalu bagus hingga komunikasi kami dengan panitia tidak terlalu lancar. Aku merasa kami tersesat. Tak tau lagi harus kemana berjaan. Sementara jalanan di depan teramat gelap, terlalu menyeramkan. Hanya Allah SWT yang dapat kami mohon pertolongan, karena seorang pun tak lewat, secercah kehidupan jua tak nampak.

Subhanallah wal hamdulillah, wallohu akbar…. Sungguh Allah maha penyanyang. Dalam ambang keputusasaan itu, kami melihat cahaya berjalan dari arah bawah (jalan yang telah kami lalui). Cahaya itu berasal dari senter besar yang dibawa oleh seorang laki-laki setengah baya. Kami berharap dan sangat berharap bahwa ini adalah pertolongan dari Allah SWT.

Laki-laki itu mengenakan jaket tebal dan sepatu boot. Wajahnya kebapakan namun nada bicaranya terbaca sedikit kaku. Aku pastikan beliau menapak tanah. Beliau adalah manusia, sama seperti kita. Malam itu, beliau sedang mencari burung, mungkin untuk dijual, dimasak, atau mungkin dipeihara.

Beliau menanyakan tujuan kami dan kami pun menjelaskan selengkap-lengkapnya. Beliau menunjukkan pilihan-pilihan arah sekaligus risiko dari setiap pilihan. Alhamdulillah, beliau mengantarkan kami sampai pada sebuah lokasi yang menurut beliau sudah cukup aman untuk kami lalui tanpa beliau.

Beliau memang sangat baik. Baik sekali. Namun entah kenapa, rasa curiga masih saja terbersit dalam benakku. Jangan-jangan beliau adalah jelmaan penjaga pegunungan ini. Jangan-jangan beliau adalah orang jahat yang akan menculik kami. Ah… astaghfirullah……

Laki-laki itu kembali menegaskan arah yang sebaiknya kami tuju sebelum beliau meninggalkan kami. Entah, saat itu aku tak memastikan kemana hilangnya Bapak itu. Yang jelas, Alhamdulillah, syukur yang tak henti karena kedatangan Bapak itu sangat berarti. Bantuan beliau memudarkan putus asa kami ketika ‘merasa’ tersesat (tadi).

Kami tetap berjalan. Sepatu kami basah karena selain kehujanan, berulang kali kami juga harus menerabas jalanan berair, sisa hujan dan aliran sungai. Kami tak peduli. Kami sudah tak sabar ingin sampai lokasi.

Mungkin, hujan yang terlalu lebat siang tadi menyebabkan longsor terjadi. Di sebuah titik tempat yang juga gelap, di bawah pohon bambu, kami kebingngan lagi. Seperti buntu, taka da jalan yang bisa kami pilih. Ke kanan, kami melihat sebuah cahaya lampu, namun untuk kesana berarti kami harus memanjat gundukan tanah tinggi lalu berjalan di semak belukar yang tampaknya tidak biasa dilewati orang. Sedangkan ke kiri, tak ada jalan, hanya ada batu yang terkombinasi dengan tanah menjadi sesuatu berbentuk besar menutup jalan. Pilihan yang sulit.

Aku sempat berpikir, jangan-jangan jalan yang ditutup (sebelah kiri) itu adalah jalan yang menuju ‘hutan larangan’ seperti di cerita-cerita film maupun novel, sehingga orang yang melaluinya akan terkena kutukan. Oh tidak… pikiran aneh ini sama sekali tak berani aku ungkapkan pada kedua temanku saat itu. Aku bingung bersama kedua temanku. Keputusasaan lagi-lagi menggoda. Sinyal seluler masih tak baik juga. Sesekali tersambung, berulang kali terputus. Kalaupun tersambung, panitia belum tentu bisa menemukan kami juga. Benar-benar kami kembali ke ambang putus asa.

Sempat terbersit keluhan, mengapa kami harus melakukan semua ini, menantang maut, mendaki pegunungan di gelap malam tanpa arah yang benar-benar pasti. Bahkan, untuk pemula sepertiku, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sini, aku merasa seperti jalan yang kami lalui ini adalah jalan yang tak berujung. Sekedar membayangkan lokasi yang kami tuju pun aku benar-benar tak mampu.  Aku merasa sangat lemah dan kecil di alam lepas seperti ini. Aku merasa kalah pada gelap, pada ancaman-ancaman yang menyerang keselamatan kapan saja. Nyaliku seperti menciut saat berada pada tempat yang benar-benar tak nyaman seperti ini, di tengah hutan, bisa saja hewan buas tiba-tiba menerkam, bisa saja orang jahat tiba-tiba menyerang, bisa saja jika Allah berkehendak aku tergelincir dan terluka, ah, bahkan aku tak tau arah jalan pulang (hadeuh…).  Oh Allah… aku tampa-Mu, butiran debu… . (ini bukan gombal, tapi kenyataan, ungkapan kepasrahan di saat sadar hanya Allah tempat bergantung dan memohon pertolongan).

Tak mampu kami sedikit pun berhenti berdzikir. Kami lagi-lagi berunding dengan kepala dingin karena memang sedang kedinginan. Akhirya, kami memilih jalan ke kiri, melewati sisi yang masih bisa dilalui di sela batu yang menutup jalan. Keputusan telah diambil dan kami masih saja berjalan dengan harapan dan modal yang sama seperi sebelumnya. Hanya kelelahan dan kecemasan yang semakin meningkat. Namun keyakinan juga tak kalah kuat, kami yakin bahwa kami akan menemukan lokasi yang kami tuju, insyaAllah.

Beberapa saat kami berjalan, kami mencium aroma tak sedap kotoran sapi. Alhamdulillah, kehidupan mulai tampak. Kami seperti kembali memiliki harapan. Pun, ada dua orang berjalan menuju arah kami. Aku percaya, ini bukan daerah hutan larangan seperti yang aku khawatirkan.

Kami segera bertanya apakah mereka mengetahui letak vila Mang Ade di Cikoneng. Dengan ramah mereka menjawab pertanyaan kami dan menunjukkan letak Vila Mang Ade yang ternyata tak jauh dari tempat kami berdiri. Subhanallah wal hamdulillah…. Sekitar dua menit berjalan, kami pun menemukan sebuat tempat yang ramai sekali. Ramai dipenuhi oleh orang-orang yang tak asing bagi kami. Ya, mereka adalah para kakak fasilitator dan staff Beewhite Management.  Rasanya, hilang segala cemas dan penat yang sedari tadi berkuasa.

Alhamdulillah… sekitar pukul 20.10 kami sampai di lokasi yang kami tuju. Meski waktu terasa begitu lama ketika perjalanan tadi, namun ternyata kami hanya butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk mencapai lokasi, padahal rombongan pagi tadi membutuhkan waktu 3 jam.

******

                Ada cerita lain setelah pendakian malam tersebut. Ternyata, tempat orang-orang ramai berkumpul itu adalah masjid. Cukup bagus. Saat itu, kami bertiga tidak berani langsung masuk ke masjid karena kami merasa datang terlambat. Kami takut pada Kakak Managing Director yang tidak suka pada keterlambatan. Kami menunggu sampai ada tanda bahwa kami boleh masuk.

Setelah para panitia menyadari kedatangan kami, kami pun dipersilakan masuk dan bergabung dengan kelompok kami masing-masing. Lalu, kami mengikuti kegiatan malam itu, yaitu pembuatan bivak menggunakan jas hujan yang (seharusnya) kami bawa. Namun, hanya satu orang dari kelompokku yang membawanya, sehingga kami mendapat subsidi dari panitia.

Semua kelompok menyebar menentukan lokasi yang paling nyaman untuk mendirikan bivak. Meski dengan modal jas hujan dan kemampuan membuat bivak yang pas-pasan, namun, dengan sepenuh hati dan sekreatif mungkin kami membangun bivak. Setelahnya, kami tilawah dan mengobrol agar saling dekat satu sama lain dengan anggota sekelompok. Meski sangat sederhana dan kacau, namun kami merasa nyaman untuk duduk bertiga di dalam bivak yang kami buat dengan sepenuh hati.

Beberapa saat kemudian, semua ketua kelompok (termasuk aku) dipanggil oleh panitia. Ternyata kami bertukar bivak dengan kelompok yang lain. Pertukaran ini dilakukan secara acak. Kelompokku mendapat bagian untuk menempati bivak milik kelompok Kak Zul. Bivaknya sangat bagus karena memang Kak Zul adalah anggota Pramuka berpengalaman. Namun, kami bertiga kurang merasa nyaman tinggal di sana lantaran lokasinya sangat tidak mendukung, banyak lintah berkeliaran sehingga kami pun harus ekstra teliti mengawasi kondisi sekitar. Sambil mengobrol, kami sibuk menembakkan serpihan garam pada lintah-lintah yang coba-coba mendekati kami.

Usai sudah kegiatan bivak dan menyatu dengan alam. Semua peserta kembali menuju Vila Mang Ade. Dalam perjalanan ini, karena letak Vila Mang Ade dengan lokasi kami berkegiatan bivak cukup jauh dengan jalan yang sangat licin, kami harus saling membantu dan menguatkan langkah. Sesekali ada yang terpleset dan terjatuh. Namun kami tetap saling menjaga. Peserta laki-laki dan perempuan menuju vila masing-masing yang terpisah.

Kaget. Ternyata vila yang dimaksud sangat jauh melesat dari bayanganku. Vila Mang Ade ini sangat sangat sangat sederhana. Bahkan, beberapa teman sambil bercanda berpendapat bahwa sebenarnya ini adalah gubuk, bukan vila. Haha… Entah tertipu atau apa namanya. Ingin kesal, percuma, ingin tertawa tapi kok ya terlalu begini ya, haha.

Secara berjamaah, kami tidur di dalam vila yang terbuat dari kayu (papan), beralaskan permadani usang yang cukup berbau tak sedap. Udara dingin pun mengakrabi setiap orang. Dan satu lagi, tantangan bagiku adalah, ada sekitar dua ekor kucing yang berkeliaran di ruangan ini. Aku enggan memejamkan mata, khawatir jika para kucing itu mendekatiku. Ah. Aku pun tak bisa tidur hingga pagi, hanya mencoba memejamkan mata dan mengistirahatkan badan setelah lelah menempuh perjalanan yang sangat menantang. Aku berulang kali tersenyum seperti orang yang sedang jatuh cinta. Sungguh, perjalanan tadi sangat mengesankan bagiku dan membuatku malu untuk berhenti bersyukur. Terima kasih Ya Allah… . Terima kasih Kak Imas dan Kak Uni yang telah mengajariku banyak hal🙂.

Pengalaman lain yang juga tak kalah mengesankan adalah perjalanan pulang. Beramai-ramai kami berjalan menuruni bukit-bukit dan pegunungan mengenakan jas hujan karena saat itu hujan turun lagi-lagi menemani perjalanan kami. Tali webbing kami gunakan untuk memudahkan kami menuruni jalanan yang licin, agar bisa berpegangan dan tidak terpeleset. Ah… sebenarnya banyak sekali kenangan mengesankan dalam kegiatan ini, tapi aku tak sanggup menceritakan semuanya di sini. Yang jelas, semua tersimpan rapi dalam memori pribadi.

Alhamdulillah… tak menyesal mengikuti kegiatan ini. Aku belajar banyak hal, tentang indahnya kebersamaan, sabar akan keluhan orang, menjaga motivasi diri untuk memotivasi teman-teman, dll. Terima kasih Beewhite….🙂.

Selesai.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on May 21, 2013, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: