Merancang Kenangan Berharga untuk Hari Tua

 

UP

Sepulang dari koordinasi acara Islamic Camp di SMP Al-Ikhlas Cipete, aku menumpangi angkot merah S11 arah Pasar Minggu. Angkot itu tengah ngetem di pinggir jalan. Hanya ada satu penumpang di dalamnya, seorang Bapak yang sudah terlihat cukup sepuh. Aku naik dan memutuskan untuk duduk di dekat pintu.

 

Sejurus kemudian, seorang bapak, yang juga sudah sepuh namun nampak sedikit lebih muda dari bapak yang pertama, naik angkot ini. Demi memudahkan beliau, aku memilih bergeser ke pojok. Bapak yang kedua ini langsung menyapa Bapak yang pertama. Akrab. Hal yang pertama ditanyakan adalah umur, lalu membahas penyakit masing-masing.

Ternyata, usia Bapak kedua yang kutaksir lebih muda, justru 15 tahun lebih sepuh dari bapak yang pertama. Beliau berusia 76 tahun, sedangkan bapak yang kedua 61 tahun. Mereka saling menertawakan umur mereka. Yah, mungkin memang begitulah manusia jika menyadari semakin hari semakin tua😀.

 

Mereka juga membahas keluhan-keluhan sakit yang akhir-akhir ini sering mereka alami. Dengan sangat sadar mereka mengerti betul seluk-beluk penyakit mereka, tips berhati-hati dalam memilih makanan dan beraktivitas, sampai pertolongan pertama jika sakit tersebut menyerang. Dengan susah payah juga mereka tetap bisa menyebutkan nama penyakitnya, seperti Diabetes mellitus.

 

Pembicaraan kemudian beralih ke soal profesi. Bapak yang pertama adalah seorang montir andal sejak tahun 1950an. Ya, sejak beliau berusia 8 tahun dan ayah beliau pensiun dari tentara kemudian membuat bengkel mobil, beliau memang sudah ikut berkecimpung dalam hal kemontiran. Tepat, umur 8 tahun beliau mulai mempelajari mesin mobil, di kampung halaman tercinta, Malang. Hal ini kemudian menjadi keahlian beliau sampai akhirnya beliau dipercaya oleh seorang konglomerat dari Jakarta untuk menjadi montir pribadi mobil tuanya. Dari sanalah kisah sukses beliau dimulai.

 

Di balik penampilan yang sangat sederhana dan tetap memilih angkot sebagai tumpangan, ternyata beliau adalah seorang berada dan luar biasa. Sampai saat ini, karena hobi, beliau masih sesekali ikut berkutat di bengkel mobil yang beliau miliki, yang kini sudah dihandle oleh anak beliau. Beliau tampak berhasil mewariskan kecintaan akan teknik montir mobil kepada sang anak laki-laki. Dengan bangga pun, beliau menceritakan sang anak laki-laki yang kini lebih canggih mengerti mesin mobil melalui internet. Lantas beliau pun menyinggung betapa hebatnya internet yang bisa menjelaskan dengan detil segala hal terkait mesin mobil, khususnya mobil-mobil baru yang dulu belum beliau kuasai. Tapi beliau menyayangkan, belum bisa mengakses internet sendiri, mengoperasikan laptop pun belum terbiasa.

 

“Gaptek”, begitu sambung bapak yang kedua dan mereka berdua tertawa. Bapak yang kedua, dulunya berprofesi sebagai PNS. Dalam obrolan ini, beliau tidak terlalu banyak bercerita tentang diri beliau, hanya mengimbangi obrolan bapak pertama sehingga suasana lebih cair. Beliau juga memancing cerita-cerita dari bapak pertama terus-menerus, mungkin karena cerita bapak pertama memang sangat menarik. Bapak kedua ini berwawasan sangat luas sehingga bisa mengimbangi pembicaraan dengan baik. Ya minimal, mengerti bidang kesehatan dan mobil😀.

 

Selanjutnya, mereka beralih bahasan tentang mobil. Suasana tambah menarik. Aku diam tapi aku sangat memperhatikan obrolan mereka. Ingin rasanya ikut masuk dan bertanya tentang banyak hal. Namun aku ragu, khawatir mengganggu. Aku diam dan berdoa semoga mereka selalu diberi kesehatan.

 

Bukan, aku bukan ingin membahas kisah sukses mereka, apa lagi tentang si anak laki-laki bapak pertama yang kata beliau canggih itu, hihihi. Aku hanya terpikir sesuatu.

 

Di masa tua nanti, bisa jadi kita tidak lagi bisa melakukan banyak hal. Kita hanya bisa mengenang dulu masa muda begini begitu. Kita hanya bisa membanggakan dulu masa muda saya bisa ini, bisa itu, ahli ini, ahli  itu. Kita hanya bisa menasihati orang yang lebih muda jangan begini jangan begitu berdasarkan pengalaman di masa muda. Nah, semua itu akan terasa lebih indah, lebih berharga, jika kita memanfaatkan masa muda dengan baik. Kita penuhi setiap detiknya dengan kebaikan, ilmu, amal, dan hal-hal lain yang nantinya bisa menjadi cerita kebanggan untuk anak cucu. Aku merasa menyesal karena sampai saat ini aku belum melakukan banyak hal. Aku belum menjadi apa-apa. Apakah kamu juga?  Ah. Ayolah,… masih ada waktu, kawan, yang penting kita mulai dari sakarang. Kita pastikan setiap detik kita berguna. Biidznillah. Bismillah… .

 

So, using youth era meaningfully means designing meaningful future (when we are old).

 

Sumber gambar: Google image

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on April 22, 2014, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: