Monthly Archives: May 2014

Pilihan Standar Mahasiswa Rantau

Bagi anak daerah seperti saya, mendapatkan kesempatan belajar dan memperjuangkan hidup di kota besar adalah anugerah yang luar biasa. Setiap lembar harinya seakan menjadi cerita menarik untuk disimpan sementara dan kemudian diceritakan kembali esok hari. Pengalaman yang didapatkan pun tidak sekedar menjadi kenang-kenangan, akan tetapi juga mampu mendewasakan diri. Teman-teman seperjuangan di rantau bertahap menjadi sangat baik seperti keluarga sendiri. Tetangga, penjual makanan langganan, ibu kos, dan orang-orang baru yang dikenal di rantau pun kelamaan menjadi bagian dari pelaku pendukung rangkaian kisah rantau yang tak terlupakan. Ah. Kehidupan rantau, terasa manis sekali saat ini.

Sekitar bulan Februari, saya mulai menimbang secara serius sebuah pilihan hidup. Ya, sebenarnya ini hanyalah pilihan standar mahasiswa rantau yang telah menyelesaikan kuliahnya. Tetap tinggal dan bekerja di rantau, atau kembali ke kampung halaman. Itulah pilihannya. Tapi tak sedikit yang kemudian memilih pilihan pertama, tetap tinggal dan bekerja di rantau. Apalagi tempat rantauku adalah Jakarta, ibu kota negeri yang terlalu banyak memberikan janji kesejahteraan lahir batin.
Read the rest of this entry

Advertisements

Stomatitis Aphtosa Attack (Sebuah Teguran Syukur)

Kala itu, saya bertanya pada diri, “Pernahkah saya sadar tentang nikmat lidah yang sehat? Pernahkah saya bersyukur atas nikmat lidah yang sehat?”

Sungguh pengalaman yang dahsyat. Akhir April lalu, stomatitis aphtosa alias sariawan menyerang saya habis-habisan. Lebay, mungkin, kalau saya bilang “menyerang saya habis-habisan”. Tapi buktinya memang begitu. Meskipun sariawan ini hanya ada satu saja di lidah (sisi sebelah kiri agak ke bawah lidah), tapi cekungannya sangat dalam sehingga terasa sangat sakit. Posisinya yang sangat berdekatan dengan gigi geraham pun membuat sakitnya semakin menjadi karena tanpa sengaja sering tersenggol gigi. Gerak sedikit, sudah tersenggol gigi.

Sungguh, gara-gara sariawan ini, lidah yang nggak sehat ini, kondisi kesehatan saya drop. Saya ngga bisa makan dan minum seperti orang normal karena ngga bisa ngunyah dan menelan, juga ngga bisa memuntahkan sesuatu dari mulut. Menggerakkan mulut saja sudah cukup mengganggu lidah sehingga semakin sakit. Saya ngga bisa ngomong dengan jelas, juga ngga bisa tertawa dengan sempurna. Bahkan, saya pun sangat merasa menderita ketika ingin menguap dan batuk. Ahahaha…. Sungguh, saat itu saya benar-benar merindukan lidah yang sehat.

Read the rest of this entry

%d bloggers like this: