Stomatitis Aphtosa Attack (Sebuah Teguran Syukur)

Kala itu, saya bertanya pada diri, “Pernahkah saya sadar tentang nikmat lidah yang sehat? Pernahkah saya bersyukur atas nikmat lidah yang sehat?”

Sungguh pengalaman yang dahsyat. Akhir April lalu, stomatitis aphtosa alias sariawan menyerang saya habis-habisan. Lebay, mungkin, kalau saya bilang “menyerang saya habis-habisan”. Tapi buktinya memang begitu. Meskipun sariawan ini hanya ada satu saja di lidah (sisi sebelah kiri agak ke bawah lidah), tapi cekungannya sangat dalam sehingga terasa sangat sakit. Posisinya yang sangat berdekatan dengan gigi geraham pun membuat sakitnya semakin menjadi karena tanpa sengaja sering tersenggol gigi. Gerak sedikit, sudah tersenggol gigi.

Sungguh, gara-gara sariawan ini, lidah yang nggak sehat ini, kondisi kesehatan saya drop. Saya ngga bisa makan dan minum seperti orang normal karena ngga bisa ngunyah dan menelan, juga ngga bisa memuntahkan sesuatu dari mulut. Menggerakkan mulut saja sudah cukup mengganggu lidah sehingga semakin sakit. Saya ngga bisa ngomong dengan jelas, juga ngga bisa tertawa dengan sempurna. Bahkan, saya pun sangat merasa menderita ketika ingin menguap dan batuk. Ahahaha…. Sungguh, saat itu saya benar-benar merindukan lidah yang sehat.

Lalu, bagaimana solusinya?

Untuk urusan ingin menguap dan batuk, karena tidak terlalu sering, saya cukup santai. Kalaupun harus menguap, saya usahakan lidah tidak terlalu banyak gerak sehingga tidak terlalu terasa sakit. Begitu juga dengan batuk. Untuk makan, saya coba memilih makanan yang halus sehingga tidak perlu dikunyah, meskipun saya tetap merasa kesulitan untuk menelan. Untuk urusan berbicara, saya sering paksakan saja, tapi sering juga saya tulis di kertas atau di hape.

Urusan menguap, batuk dan makan itu sebenarnya bukan masalah yang terlalu mengacaukan hidup. Karena toh urusannya Cuma sama diri saya sendiri. Tapi masalah yang ngga bisa ngomong ini nih yang bikin hidup jadi agak kacau. Masalahnya, ini berkaitan sama komunikasi dengan orang lain. Rasanya malu banget pas lagi ngomong sama teteh penjual bubur ayam dan mamang penjual makanan di warung sunda. They didn’t get my words at once, I had to repeat it again and again and it means that I had to allow my tongue picked the sickness up.

Ada teman kantor yang menyarankan obat sariawan, namanya KENALOG. Saya pernah membaca info mengenai obat ini juga ketika browsing. Lalu, segeralah saya pergi ke apotek, sore hari, sepulang dari kantor. Sejak sariawan tentu saya selalu siap pena dan kertas untuk menulis apa yang ingin saya katakan kalau lawan bicara saya kesulitan menangkap kata-kata saya.

Tibalah di apotek pertama. Saya tetap paksakan berbicara meski tak jelas. Saya tahu, petugas apotek itu menahan tawanya karena takut menyinggung perasaan saya. Hahahaha. Saya langsung saja tanya obat sariawan. Dijawablah albotyl. Tapi saya cari yang lain, karena saya merasa warna albotyl itu seperti tinta, “ora kolu” kalo bahasa Jawanya mah. Lalu, petugas opotek pun menawarkan obat lain yang katanya aman untuk anak-anak juga, bahkan aman jika tertelan sekalipun. Namanya Candystin. Tapi bukan itu yang saya cari. Saya ingin mengatakan nama obat yang diberi tahu oleh teman saya tadi, tapi susah sehingga saya putuskan untuk menuliskannya saja. Spontan, saya langsung menulis “KOLAGEN”, padahal harusnya “KENALOG”. Ahahaha,,…. Salah nyusun hurufnya.

Petugas apotek pun menjawab tidak ada obat sariawan dengan merk KOLAGEN. Dengan lapang hati saya segera pamit untuk mencari obat kolagen ini ke apotek lain dulu. Segera saya berjalan ke apotek terdekat yang lain.

Di apotek kedua ini, saya langsung bertanya pada petugasnya, “mba, ada obat sariawan?” dengan suara yang tidak jelas. Lalu petugas tersebut dengan semangat menjawab, “Oh, dokter gigi, ya? Di atas aja mba.” Ahahaha. Hadeeuuuuhh. Jauh banget itu melencengnya dari sariawan ke dokter gigi. Tapi Alhamdulillah dengan bahasa tertulis petugas itu memahami apa yang saya cari, obat sariawan. Kali ini saya ditawari obat sariawan alboyl dan obat kumur lain (lupa merk nya). Apotek ini juga ngga jual obat sariawan denga merk Kolagen. Petugasnya justru terlihat merasa aneh ketika saya tunjukan tulisan obat sariawan kolagen. Saya berpikir keras dan penuh kesadaran bahwa menelan itu jauh lebih mudah daripada memuntahkan. Sedangkan obat kumur yang ditawarkan harus dimuntahkan, tidak boleh ditelan. Saya khawatir ini akan lebih menyiksa saya. Lalu saya putuskan untuk kembali ke apotek pertama dan membeli obat sariawan yang aman ditelan dan aman untuk anak-anak, candystin.

Setiap enam jam sekali saya harus meneteskan obat sariawan ini ke lidah. Perih rasannya, tapi biar bagaimana pun saya harus siap memperjuangkan kesehatan lidah. Pikiran saya sudah terlajur kalut. Saya khawatir tidak akan bisa berbiara normal lagi, bahkan saya takut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk atas sariawan di lidah ini.

Sungguh, hanya karena satu nikmat dicabut, yaitu nikmat lidah sehat, saya sudah merasa kalap dengan derita-derita yang menjadi dampaknya seperti saya tulis di atas. Tapi saya juga mengambil banyak hikmah dari kejadian ini.

Mungkin ini terjadi karena dosa-dosa lisan yang saya lakukan. Ya Robb, semoga Engkau gugurkan dosa-dosa lisan hamba-Mu ini, aamiin. Mungkin juga karena saya kurang bisa berhati-hati memilih makanan (awal sariawan ini adalah minum minuman yang terlalu panas). Mungkin juga karena saya yang selama ini tidak bersyukur atas nikmat lidah yang sehat sehingga saya ditegur oleh-Nya agar bersyukur.

Selain itu, saya juga jadi banyak belajar tentang seluk beluk sariawan, karakteristik sariawan, sampai obat-obatan alami dan kimia untuk sariawan.

Pengalaman sariawan kali ini benar-benar mengesankan. Sebuah teguran syukur yang dahsyat. Bayak sekali agenda yang terpaksa harus saya batalkan lantaran tidak bisa berbicara dengan baik, tidak bisa makan dengan baik hingga akhirnya pun kesehatan tidak baik.

Semoga, ini membuat saya dan kita semua untuk lebih berhati-hati memperlakukan lidah sehingga kesehatannya terjaga, mensyukuri betapa nikmatnya lidah yang sehat, dan lebih berhati-hati menjaga lidah agar lebih selektif dalam memproduksi kata-kata (menjaga lisan).

Ah, tiba-tiba, ketika terpikir bahwa sariawan ini adalah teguran atas dosa-dosa lisan saya, jadi teringat sebuah lagu yang saya buat untuk adik-adik Ma’had Tarbiyatul Aulaad di CBR waktu KKN dulu. Apakah mungkin ini juga ujian pertanggungjawaban atas apa yang telah saya katakana kepada mereka? Astaghfirullohalazim….

Satu-satu, aku anak jujur
Dua-dua, tak pernah berdusta
Tiga-tiga, slalu jaga kata
Satu, dua, tiga, no way no way dusta

Semoga sariawan ini adalah siksa di dunia agar di akhirat nanti aku tak terlalu berat membawa beban dosa. Astaghfirulloh. Apapun maksud-Mu mencabut nikmat sehat lidahku, semoga membimbingku menjadi pribadi yang lebih baik, Ya Robb. Aamiin.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on May 7, 2014, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: