Pilihan Standar Mahasiswa Rantau

Bagi anak daerah seperti saya, mendapatkan kesempatan belajar dan memperjuangkan hidup di kota besar adalah anugerah yang luar biasa. Setiap lembar harinya seakan menjadi cerita menarik untuk disimpan sementara dan kemudian diceritakan kembali esok hari. Pengalaman yang didapatkan pun tidak sekedar menjadi kenang-kenangan, akan tetapi juga mampu mendewasakan diri. Teman-teman seperjuangan di rantau bertahap menjadi sangat baik seperti keluarga sendiri. Tetangga, penjual makanan langganan, ibu kos, dan orang-orang baru yang dikenal di rantau pun kelamaan menjadi bagian dari pelaku pendukung rangkaian kisah rantau yang tak terlupakan. Ah. Kehidupan rantau, terasa manis sekali saat ini.

Sekitar bulan Februari, saya mulai menimbang secara serius sebuah pilihan hidup. Ya, sebenarnya ini hanyalah pilihan standar mahasiswa rantau yang telah menyelesaikan kuliahnya. Tetap tinggal dan bekerja di rantau, atau kembali ke kampung halaman. Itulah pilihannya. Tapi tak sedikit yang kemudian memilih pilihan pertama, tetap tinggal dan bekerja di rantau. Apalagi tempat rantauku adalah Jakarta, ibu kota negeri yang terlalu banyak memberikan janji kesejahteraan lahir batin.

Wajar saja jika akhirnya pilihan pertamalah yang lebih laris, sekali lagi, apalagi lokasi rantaunya adalah Jakarta. Kota besar ini banyak memberi harapan pada para sarjana fresh graduate yang ingin mengaktualisasikan diri, mempraktikkan teori secara lebih masif, sekaligus membuktikan pada dunia bahwa hasil kuliahnya selama kurang lebih 4 tahun tidak sia-sia. Dengan ukuran kesuksesan adalah upah kerja, maka di Jakarta, mereka bisa mendapatkan gaji yang jauh berlipat-lipat lebih banyak ketimbang di daerah (belum dengan memperhitungkan biaya hidup, karena itu bergantung dengan gaya hidup masing-masing). Lebih lagi, Jakarta juga menawarkan berbagai macam kemudahan lainnya seperti akses internet (kebutuhan hampir semua manusia muda masa kini), akses kendaraan, akses lokasi hiburan, bahkan akses ilmu pengetahuan (wawasan umum, profesi, maupun agama). Jakarta yang katanya kejam tak lagi terasa kejamnya bagi orang-orang yang sudah tahu celah dan terlanjur menikmati hidangannya dengan penuh kenikmatan.

Begitu pun dengan saya, di awal Februari lalu. Saya lebih cenderung pada pilihan pertama. Meninggalkan Jakarta untuk waktu yang tak tentu sampai kapan, setelah merasakan indahnya memperjuangkan hidup di sini selama hampir 5 tahun, adalah pilihan yang terlalu sulit. Saya belum siap untuk meninggalkan segala kemudahan yang ditawarkan oleh Jakarta, yang nanti belum tentu saya bisa dapatkan di daerah asal jika saya akhirnya memilih pilihan kedua, kembali ke kampung halaman. Saya lebih belum siap lagi meninggalkan keluarga saya di Jakarta, para sahabat dan saudara seperjuangan. Dan banyak hal lain lagi yang membuat saya berat meninggalkan Jakarta.

Tapi, saya pikir, saya akan menjadi orang yang terlalu egois jika lagi-lagi mengabaikan permintaan ibu saya agar tinggal di kampung halaman saja. Tentu, fitrah seorang ibu pasti ingin bisa selalu dekat dengan anaknya, apalagi posisi saya adalah anak perempuan satu-satunya. Begitu pun dengan saya sendiri, saya lebih sering merasa gelisah berlebihan setiap kali mendengar kabar ibu sakit, bapak sakit, mamas sakit, ada ini itu di rumah, dan sejenisnya. Saya terlalu mencintai keluarga saya di rumah. Saya ingin punya lebih banyak waktu dengan mereka, terutama ibu dan bapak, sebelum nantinya (mungkin) saya akan dibawa oleh suami saya (hahahaha… ini adat mayoritasnya memang begini).

Cukup lama saya galau merasakan perang batin yang tak kunjung usai. Ini adalah salah satu pilihan berat dalam hidup saya. Jakarta dan daerah asal saya, Lampung, adalah dua provinsi yang sama-sama berarti bagi saya kini. Sekali lagi saya tidak ingin kehilangan segala kemudahan yang ditawarkan di Jakarta. Tapi saya juga tidak ingin kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengan orang tua selama saya bisa, “If your parents are alive, be grateful at the opportunity  to earn Jannah by serving them” begitu tausyiah yang saya dapat.

Dan pada akhirnya pun saya harus memutuskan. Ya. Saya benar-benar memilih satu dari dua pilihan standar mahasiswa rantau yang di atas sudah saya paparkan. Saya sadar bahwa saat ini sepenuhnya masih menjadi hak kedua orang tua saya. Setelah saya persiapkan rencana dan target yang harus saya lakukan dan dapatkan di kedepannya, maka saya putuskan untuk memilih pilihan kedua. Saya kembali ke Lampung, ke daerah asal saya, InsyaAllah agar lebih dekat dengan orang tua, bisa berbuat baik lebih banyak pada mereka.

Tentu pilihan ini menimbulkan pro dan kontra pada orang-orang di sekitar saya. Bagi mereka yang memahami bahwa birrul walidain adalah salah satu amalan yang sangat baik, mereka akan pro. Sedangkan bagi sebagian yang lain, yang menganggap Jakarta adalah segala-galanya masa depan, tentu saja akan kontra. Tapi insyaAllah, saya akan ikhlas menjalani takdir ini. Saya akan lebih tenang, karena orang tua saya, terutama ibu saya memang lebih meridhoi saya ada di Lampung untuk saat ini. Dan saya senang, senaaaaaaang….. sekali karena bisa menuntaskan pergulatan batin dengan cukup kuat dan menerima apa pun pilihan yang harus saya ambil dengan legowo.

Tulisan ini bukan untuk memojokkan para mahasiswa rantau yang memilih pilihan pertama. Apa lagi menyudutkan mahasiswa daerah yang kemudian pergi bekerja ke Jakarta setelah lulus kuliah.  Sungguh tidak. Saya paham benar bahwa setiap orang memiliki hak memilih dalam hidupnya. Dan saya akan selalu ber-positif thinking dengan pilihan setiap orang, karena saya pun mengerti, pilihan yang diambil selalu berhubungan dengan latar belakang, dan latar belakang setiap orang tidak sama sehingga pilihan setiap orang akan berbeda-beda.

Selamat memilih, wahai para mahasiswa rantau🙂.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on May 24, 2014, in Experience, My World. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: