Negeri Para Bedebah ; Sebuah Novel yang “WOW”

Padat, cerdas, seru, dan menegangkan adalah kesan saya terhadap Novel ‘Negeri Para Bedebah’ karya Tere Liye.  Novel yang terdiri dari 433 halaman ini berhasil membuat saya terpukau dan ketagihan untuk terus mengikuti ceritanya meskipun di awal merasa sulit mencerna dan kurang tertarik dengan bahasa penyampaiannya.  Sudah sejak 7 bulan yang lalu saya membelinya, namun setelah membaca sekitar 21 halaman saya menyerah dan malas melanjutkan dengan alasan tersebut.  Sampai akhirnya, entah mengapa, saya berenergi sekali untuk segera menyelesaikan novel yang lumayan tebal itu.  Saya ulangi membaca dari halaman awal dan terus mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang dirangkai oleh Bang Darwis, memahami isi ceritanya.

negeri para bedebah

Tokoh utama dalam Novel terbitan Gramedia ini bernama Thomas, dengan nama kecilnya Tommy, seorang konsultan keuangan professional lulusan sekolah bisnis ternama di luar negeri.  Ia adalah seorang Chinese yang cerdas, gesit, berfisik kuat, humoris, penyayang, dan sekaligus pendendam.  Sekali dua kali Thomas Nampak sebagai seorang yang angkuh tapi tidak ambisius terhadap bisnis, berbeda dengan pamannya.  Berusia 33 tahun, Thomas telah berulang kali menjadi pembicara di acara dan konfrensi bergengsi baik di dalam maupun luar negeri.  Berulang kali wajah dan analisisnya muncul di media.  Pun, banyak klien merasa terbantu olehnya yang memang pandai memotivasi dan mempengaruhi orang lain.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan, Thomas kembali ke Indonesia dan mendirikan kantor konsultasi keuangan.  Ia menolak anjuran kakeknya untuk membesarkan bisnis keluarga.  Ia benar-benar tak ingin terlibat dengan bisnis keluarganya.

Thomas memiliki masa lalu yang menyedihkan.  Papa dan mamanya meninggal saat rumah mereka terbakar.  Kejadian ini bukanlah sebuah kecelakaan melainkan rekayasa para penghianat yang disengaja saat bisnis keluarga bernama “Arisan Berantai”, buatan Om Liem, akan mereka gelimpangkan.  Ratusan orang berkumpul, marah, menuntut Om Liem mengembalikan uang nasabah meskipun mayoritas orang yang berkumpul bukanlah nasabah melainkan para preman bayaran.  Thomas selamat karena ia sedang mengantarkan susu kepada para pelanggannya.  Kakek dan Tante Liem selamat karena dibantu oleh tetangga.  Om Liem saat itu sedang mengurus kapal keluarga mereka yang terjebak lantas terbakar di dermaga.  Sedangkan papa dan mama Thomas ikut terbakar dalam peristiwa tersebut.  Thomas selalu berfikir bahwa Om Liem lah penyebab semuanya hingga ia memelihara kebencian kepada Om Liem. Hingga tumbuh dewasa Thomas tak pernah mau mempedulikan Om Liem, tak juga mau bertemu dengannya sama sekali.

 

Sampailah pada suatu hari Om Liem terjerat kasus Bank Semesta, Bank milik Om Liem, Thomas berubah seratus delapan puluh derajat.  Ia tekadkan untuk membantu Om Liem menyelamatkan Bank Semesta setelah ia menyadari aksi penghianat di balik semua ini. Tak lain, mereka adalah penghianat keluarga Thomas di masaa lalu.  Berbagai cara Thomas lakukan untuk menyelamatkan Bank Semesta.  Ia hanya memiliki waktu 2 hari, dari Jumat malam sampai dengan Senin sebelum jam 8 pagi.  Setting dalam novel ini pun memang hanya dua hari.  Ya, novel setebal itu hanya menceritan peristiwa inti yang terjadi selama dua hari.

 

Dalam waktu yang terlalu singkat itu, Thomas harus mengeluarkan ide-ide brilian (ala buronan kelas kakap yang nekad melarikan buronan lain), tenaga (berlari dan bertarung menghadapi para penghianat beserta antek-anteknya), dan cukup banyak biaya (untuk bermanuver dari satu kota ke kota lain melobi orang-orang yang berkuasa dan untuk menyumpal petugas kepolisian yang gila rupiah).  Apa yang dilakukan Thomas secara detil memang sangat memesona, seperti yang ada di film-film laga buatan Amerika.  Sungguh, akan sangat menarik jika novel ini benar-benar dibesut menjadi sebuah film layar lebar.

 

Setelah membaca novel ini saya merasa telah mulai menyusuri bagaimana ritme kerja para penguasa negeri dan orang-orang di atas sana, mayoritas terbiasa menyelesaikan segala hal dengan uang.  Ibu Menteri adalah satu-satunya tokoh yang digambarkan sangat disiplin dan anti suap.  Hal ini menunjukkan bahwa Bang Darwis tidak melupakan kenyataan bahwa pejabat yang lurus memang masih ada.

 

Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi penyuka carita fiksi baraliran aksi/laga dan bagi yang selama ini merasa dirinya anti politik.  (Soal yang terakhir) kenapa?  Karena kita memang harus peduli pada bagaimana pelaku politik level satu di atas sana bekerja selama ini di sebuah negeri yang katanya berisi pada bedebah.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on January 1, 2015, in Book & Film Review, Creative. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: