Monthly Archives: June 2015

Catatan Rindu (acak) Buat Kamu

Bukan mimpi, dan ia benar-benar pergi. Ia tak lagi memanggil keras namaku dengan suara khasnya ketika pulang dari sekolah. Ia tak lagi bercerita tetang banyak hal yang tengah berdesakan dalam ruang fikirnya. Ia tak lagi tinggal di sebelah kamarku dan bebas kapan saja untuk bertemu. Betapapun orang menganggap klise, namun tak dipungkiri bahwa aku ternyata merindukannya, merindukan seorang sahabat yang sekitar 1 bulan lalu memulai kehidupan barunya, tinggal bersama keluarganya di rumah barunya. Read the rest of this entry

Advertisements

Translating Belief into the Real Deeds

I still tried to keep my belief that every student is nice. It’s normal if they do some mistakes, always wondered to try something new, or can’t differentiate which one is wrong or true. It’s our job as teacher to educate them. It’s my belief.

It’s triviality but I still feel that the differences of Lampung and Jakarta are not quite easy to face.  Friends, jobs, salary, pleasure, and many other things I have to adapt with are not easily made. This is my second year to live (again) in Lampung. I realized I have changed my self.  I feel that I don’t perform what really me. You know, I am even surrender to the reality, just run on the way I face, work in something I am not really master yet, and hide away my confusion deeply in my private thought. My life have become more serious since I started this new era of life. One more thing, I had stopped writing, even only to write my dream. I ignored how badly I yearn to write. I just didn’t want to write. Anything. Anywhere.

But, today, I remembered one of my best friends in college who ever asked me to write my experience of teaching students in Lampung.  I didn’t want to do it on that time but he just asked me to write. Then I feel I do yearn to write. At least, I have something to leave to this world, though the simple free and random writings.  And I think I don’t really use my English very well during the last year, so I am going to practice my English through my postings.  Hence, correct my English, please…. ^^. 😀 Read the rest of this entry

Balasan untuk Orang Tua

Baru saja Ibuku menutup pembicaraan kami via telepon seluler.  Kestabilan jiwaku terguncang lagi.  Air mataku mengalir. Sesak terasa di dada. Ini adalah untuk pertama kalinya Ibuku meneleponku dalam rangka mengabarkan bahwa bapak sakit. Sudah beberapa hari beliau tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. Terbaring di tempat tidur dengan suhu badan yang tinggi dan batuk-batuk. Aku selalu menepis setiap kali kondisi itu melintas dalam benakku. Aku tak kuasa membayangkan bapak yang selama ini tangguh namun kini tengah terbaring sakit. Dan ketika aku mengirimkan sms kepada kakakku untuk menanyakan kondisi bapak, aku lebih terpukul lagi. Ternyata kakakku pun sedang sakit.

Entah, apa nama perasaan ini, begitu porak poranda mendengar orang-orang yang aku cintai kini sakit dan aku tidak ada di samping mereka. Ya, cinta ini terlalu akut kepada keluargaku, kepada ibu, bapak, dan kakakku. Mereka adalah para pahlawanku. Mereka adalah harta yang paling berharga bagiku. Kawan, mungkin terbaca klise, tapi begitulah adanya.  Kurang lebih lima tahun aku hidup di Jakarta, jauh dari mereka, ternyata membuatku teramat mencintai mereka.  Keakutan cinta ini tumbuh dengan sendirinya, semakin bertambah di sela syukurku memiliki mereka yang telah mendidikku menjadi seperti sekarang.

Kerap terpikir dengan apa aku bisa membalas kebaikan mereka.  Sekilas sedih saat teringat kondisi diri yang berasal dari keluarga sederhana dan kini telah bekerja namun belum bisa memberikan apa-apa kepada orang tua. Bertambah pilu saat teringat bahwa aku belum bisa membahagiakan mereka. Ah, apalagi aku ini anak perempuan yang (mungkin) kelak akan dibawa suaminya setelah menikah. Masihkah bisa aku membahagiakan mereka? Dengan apa?

Dalam kalutku lantas aku teringat sesuatu. Bukankah orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas didikan kepada anaknya? Bukankah itu berarti jika kita melakukan perbuatan dosa maka orang tua kita juga akan terkena imbasnya? Sungguh. Pikirku semakin kalut.  Belum pula terjawab pertanyaan untuk membahagiakan mereka, sudah berkelebatan pikir tentang dosa yang selama ini aku lakukan. Betapa teganya aku membebani orang tuaku dengan dosa-dosaku.

Untuk membalas jasa mereka dengan materi aku tentu tak akan sanggup. Harusnya telah dari lama aku sadar bahwa menjadi seorang anak yang shalihah adalah sebuah hadiah terindah bagi mereka.  Seorang anak shalihah yang senantiasa mendoakan orang tuanya, yang tunduk akan perintah Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya, yang selalu berbuat baik pada orang tua dan semua orang, dan yang selalu menjadi yang terbaik dalam hal taqwa.  Ah. Tapi aku terlanjur berlumur dosa. Masihkan taubatku diterima-Nya? Masihkah aku mampu berubah dan bertahan dalam perubahanku menjadi seorang yang shalihah? Karena sungguh, hanya Allah yang bisa membalas segala jasa orang tua kita, keluarga kita. Allah pemilik segalanya. Harusnya kita tak bosan mendekat pada-Nya dan banyak berdoa untuk kesehatan, kemudahan rizki, kebahagiaan dan segala kebaikan untuk orang tua (dan keluarga) kita. Bukan malah menjauh. Bukan malah memperbanyak dosa.

%d bloggers like this: