Taman Safari untuk yang Pertama Kali

 

Ini ceritaku setalah sekian lama (lagi-lagi) tidak aktif menulis di blog lagi. Cerita ini nyata, tanpa polesan apa-apa dan tidak bermaksud untuk memojokkan siapa-siapa, apalagi melambungkan nama (ai daaahh apaan siih ya????).

 

Pertengahan Juni 2015 lalu, beberapa hari tepat sebelum 1 Ramadhan, yayasan sekolah tempatku bekerja mengadakan acara tour ke daerah Bogor dan sekitarnya. Aku ikut meskipun sebenarnya tidak terlalu antusias dengan objek-objek kunjungannya, kecuali satu, Taman Safari. Ya, demi ke Taman Safari gratis aku akhirnya ngotot pengen ikut haha. Sebenarnya sih, alasan malas ikut karena hp android rusak (read: ga bias foto-foto puas) dan lagi ga punya uang (rad: gas bisa belanja-belanja puas ) hihihi.

 

Meskipun nggak terlalu berminat dengan objek-objek kunjungannya terutama Kebun Raya Bogor dan Masjid Kubah Emas, tapi ya minimal bisa nostalgia deh. Lumayan. Mengingat dan menikmati kenangan-kenangan emas semasa berjuang dulu yang satu persatu meresap kembali ke dalam benakku. Memunculkan rindu. Membuncahkan haru. Dan sesaat membuatku ingin kembali ke masa itu.

 

Well, langsung ke Taman Safari. Pagi-pagi kami berangkat dari hotel di kawasan Puncak Bogor. Harapannya arah yang akan kami lalui lancar karena arah lawan penuh sesak macet berjejalan kendaraan. Dan singkat cerita, sampailah kami di Taman Safari. Bus berhenti. Beberpa orang meminta kami untuk turun karena konon bus tidak diperkenankan masuk sehingga kami harus berganti dengan mobil-mobil yang lebih kecil alias disebut shutter (kalua tidak salah :D).  Tapi tak lama kemudian kami diminta naik kembali dan mendapatkan kabar bahagia bahwa kami serombongan boleh mengitari kawasan Taman Safari dengan bus kami.

 

Dan petualangan pun dimulai.

DSCN1040

Sepanjang perjalanan kami sangat bergembira. Kanan dan kiri sejauh mata memandag adalah hijau tanaman yang luar biasa. Bertambah dengan karya Allah yang maha Kuasa, hewan-hewan liar yang selama ini kami baru pernah melihatnya dari layar tivi, pc, laptop, maupun gambar cetak saja. Memang sih, kali ini pun masih terlapis kaca jendela bus karena kami tidak diperkenankan turun dari mobil, tapi ini asli, yang kami lihat tidak lagi terperantara kamera dan sejenisnya. Langsung dengan mata hati, eh, mata kepala.

 

Ada singa, ada harimua, macan tutul, jerapah, beruang madu, badak bercula, tapir, zebra, buaya, dll. Yang jelas kami semua heboh ngalah-ngalahin anak TK. Haha.  Tapi sejujurnya, di sela kehebohan ini juga aku masih membersitkan kekhawatiran di dada setiap kali membaca peringatan agar menekan kakson panjang dan rapat sebagai tanda meminta pertolongan jikalau ada gangguan dari hewan-hewan yang ada. Entahlah, pikiran ini mudah sekali kemana-mana.

Setelah selesai berkeliling, kami dibawa ke tempat atraksi, entah apa namanya, aku lupa. Yang jelas menurut jadwal, waktu itu yang mungkin kami tonton adalah atraksi harimau dan lumba-lumba. Ahaiii lumayan lah bisa nonton beginian lagi secara langsung, hihihi.

 

Untuk mencapai tempat pentas atraksi harimau, kami harus naik semacam kereta dengan tiket khusus (tiket terusan) yang dijual dengan harga Rp 25.000. Sempat ragu, tapi ya sudahlah, demi pengalaman baru. Tapi saat itu temanku, Yusnia, ingin ke kamar kecil. Aku pun menemaninya dahulu sebelum membeli tiket . Dan setelah itu kami menuju tempat penjualan tiket. Seorang Ibu memanggilku dan memberikan tiket keretanya kepadaku karena beliau sudah lelah dan ingin pulang. Ya, tiket itu memang bisa dipakai seharian penuh sepuasnya. Alhamdulillah…. Seperti rizki yang datang dari arah tak disangka-sangka. Serius, saat itu aku merasa senang sekali. Nah, lain kali kalau ada teman ingin ke kamar kecil, aku temenin lagi ahh…, haha.

Tiket Terusan Taman Safari

Nah, pas banget, arena atraksi harimau mulai ramai orang. Aku dan teman-teman memilih tempat duduk yang menurut kami paling strategis. Maksudnya, tidak terlalu dekat dengan harimau (karena takut) tapi juga tidak terlalu dekat (karena kami juga penasaran).

 

Pentas pun dimulai.  Beberapa orang petugas berseragam tampil di pentas dan melakukan dance dengan lincah. Kami bertepuk tangan meriah. Aku ikut-ikutan meskipun sebenarnya tidak terlalu tertarik lantaran tidak sabar ingin melihat harimaunya. Dan benar, harimau yang beratnya ton-tonan itu tampil dengan sangat memukau. Ada yang memanjat pohon (sempat khawatir dia akan melompat ke penonton dan itu adalah arahku), ada yang melompati rintangan, dll. See, kalau dilatih harimau bisa melakukan cukup banyak hal. Apalagi manusia yang notabenenya memiliki akal?! Haha malah ngelantur.

 

Usai atraksi harimau, kami menuju tempat atraksi lumba-lumba dengan naik kereta lagi. Kali ini hampir semua rombongan dari sekolahku naik kereta yang sama. Kami berisik sekali sampai akhirnya keberisikan kami diakhiri denga sebuah teriakan panjang histeris bersama-sama karena ekor kereta yang kami tumpangi menyabet sebuah mobil pribadi pengunjung. Entahlah, karena si pengunjung memarkirkan mobilnya di tempat terlarang atau karena saking ributnya kami sehingga pak sopir tidak mampu mendengar suara peluit yang ditiup oleh kondektur sebagai tanda arah dan peringatan. Aku kasihan dengan Pak supir tapi aku juga takut jadi tersangka karena turut andil dalam keributan. Akhirnya aku bersama teman-temanku kabur berlarian turun dari kereta dan menuju lokasi pentas lumba-lumba. Kebetulan kejadian kecelakaan itu terjadi di dekat arena lumba-lumba.

 

Atraksi sudah dimulai. Aku dan beberapa temanku masih sibuk mencari tempat strategis untuk duduk. Kami menikmati sajian lincah lumba-lumba yang sudah terlatih untuk menari, menendang bola dengan ekornya, mencium, dll. Aku terpukau dan merasa sangat terhibur dengan ini semua.

 

Pukul 17:30, hari sudah gelap dan atraksi lumba-lumba selesai. Kami berjalan agak jauh menuju halte kereta dan sempat was-was. kalau tidak ada lagi kereta yang lewat berarti kami harus berjalan kaki menuju bus. Dan Alhamdulillah masih ada satu kereta terakhir. Kami semua naik dan berhenti di pemberhentian terakhir. Setelah foto bersama kami pun kembali ke hotel.

 

Cukup menyenangkan. Pengalaman ke Taman Safari ini tidak terlupakan. Meskipun tak bisa kutulis dengan rinci bagaimana serunya saat itu di dalam blog ini, tapi memori dalam diriku sudah sangat rapi menyimpannya. Aku bahagia. Semoga suatu saat bisa lagi kesana dengan yang halal ^^.

About Endang Sriwahyuni

a long life learner, an educator, a writer, and a dreamer.

Posted on October 25, 2015, in Creative, travel story. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: