Author Archives: Endang Sriwahyuni

Patah Hati

Meradang luka ini atas harap yang juga tak kunjung tercipta.

Patah hati berkali-kali atas garis yang satu saja.

Aku ingin bisa menjadi apa yg seperti orang bilang. Sabar.

Tapi nyatanya air matalah yang lagi-lagi mengalir di pipi.

Bak luapan sakit dan terpuruknya jiwa atas rasa yang bernama kecewa.

 

 

Kumundurkan ingatanku pada tahun-tahun yang telah berlalu.

Pada usia yang belia dengan jutaan cita.

Saat itu aku mampu dengan mudahnya meraih mimpi.

Hidup penuh asa dan usaha menggapainya.

Dan kini…

Kini bahkan terasa tujuan pun tak ada.

Hidup mengalir saja tanpa irama.

Hati pun hampa tanpa kendali vertikal yang dulu tertata.

Aku juga seperti lupa konsep bahagia.

Lupa, sebab oleh senyum dan tawa palsu penyembunyi luka.

Seolah menguatkan diri atas patah hati berkali-kali.

Seolah menegarkan jiwa atas garis yang masih satu saja.

Aku menyalahkan siapa?
Aku jelas tak punya hak apa2.

Kata orang….
Luka ini aku sendiri pembuatnya,
atas harap yang terlalu dalam, dan jiwa yang tidak menciptakan bahagia. Tapi lagi, aku seperti telah lupa konsep bahagia.

 

 

 

***Patah hati di ujung kota ini.

Advertisements

White is Never Black

You keep to argue,

that white is never blue,

moreover black in true.

You keep thinking,

That we’re different,

without any referent.

You keep avoiding me

as I am black.

Never want to accept

That we can be a grey.

Or even,

to live together,

Be happy together.

 

(Being suffer in discrimination, 2010, created by : Endang Sriwahyuni)

Sekadar Curhat Tentang Rumput Liar

20171008_0736021157052722.jpg

Semenjak pindah ke rumah ini, saya memiliki satu tanggung jawab yang lain dari sebelumnya, yaitu membersihkan rumput liar dari halaman. Sekilas urusan tersebut nampak sepele. Tapi ternyata tetap harus diseriusi. Perlu waktu yang diluangkan, tenaga yang memadai, dan kondisi cuaca yang mendukung. Kadang saya berpikir ini adalah tanggung jawab suami karena untuk membuat lebih efektif membersihkan rumput liar ini harus menggunakan sabit dan cangkul. Read the rest of this entry

Lusuh

Biarkan kuberteriak tanpa harus kau dengar.

Biarkan ku berlari tanpa harus kau tau kemana jejak menuju.

Biarkan ku menjadi diri yang tak pernah akan peduli pada terik maupun dingin.

Tapi, sebelum dunia ini berakhir,

jangan biarkan aku tetap menjadi kerdil dalam kuasa langit yang kini tak lagi bersahabat denganku.

Yang kini menyeranai petir menyambar dan menyapa tepian fakta kegersangan pojok yg lusuh,

yang tak lagi tersenyum ketika pagi menjelang dan siang berganti.

sepatu lusuh

Gedung Sate, A Selfie Transit

image

Selfie or self potrait is actually defined as taking our picture by ourselves (without someone’s help). Nowadays most of Indonesian people are keen on this activity. But in this posting i’m not going to talk about “selfie” itself, but a place in Bandung where I visited only for doing selfie. πŸ˜€

Well, melanjutkan cerita yang kemarin saya tulis di sini. Β Kami berjalan keluar (Pokoknya ke hatle-halte gitu yang ada tulisannya Bandung Juara) untuk mencari angkot arah Gedung Sate. Ya, Gedung Sate adalah salah satu aikon (icon) kota Bandung.

Gedung yang didirikan sejak tahun 1920 dan sering disebut sebagai Gedung Putihnya Bandung ini hingga saat ini masih difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kota Bandung. Nama Gedung Sate sendiri diambil dari ornamen enam tusuk sate yang berada di atas menara utama gedung tersebut. Konon, enam tusuk sate ini melambangkan 6 gulden, jumlah dana yang digunakan untuk membangun gedung ini pada masanyaimage

Selain kekhasan bentuk bangunannya, tanaman-tanaman yang amat terawat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi gedung sate. Di dalam gedung ini kita bisa menemukan gamelan khas sunda, pemandangan indah yang bisa dilihat dengan teropong, dan mungkin banyak lagi lainnya. Namun untuk dapat memasuki kawasan gedung ini tentu memerlukan izin khusus. Tapi, banyak kok orang datang hanya sekedar untuk berfoto dari luar gerbangnya.

Read the rest of this entry

Dari Lampung ke Bandung

Jika pepatah mengatakan ada seribu jalan menuju Roma, maka tidak demikian dengan jalan menuju Bandung, apa lagi dari Lampung. Β Alternatifnya hanya ada beberapa saja. Nah, posting kali ini adalah tentang cara hemat pergi ke Bandung dari Lampung, jika readers semua sedang dalam kondisi kanker alias kantong kering namun memiliki waktu senggang atau tidak buru-buru.

 

Well, tanpa rencana panjang, singkat cerita tanggal 29 Desember sekitar pukul 20:30 kangmas suami dan saya berangkat dari rumah ke Rajabasa. Niatnya akan naik angkot biru jurusan Rajabasa-Tanjung Karang yang memang sering singgah di jalan Pramuka. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak pada kami malam itu. Sebentar kami menunggu, si angkot tak juga datang. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu angkot sambil berjalan kaki saja. Yup, akhirnya kami berjalan kaki dari Jalan Kavling Raya Pramuka sampai terminal Rajabasa. Tentu lumayan jauh dan melelahkan. Tapi cinta mampu menyirnakan kelelahan itu #Tsaaaahhhh haha. Read the rest of this entry

Sayang, Terima Kasih … .

Hari ini, lima bulan yang lalu, kau datang ke rumah orang tuaku dengan segala kemantapan hati dan niat yang begitu tulus untuk menjadikanku halal bagimu. Sembilan nol-nol waktu Indonesia Barat pun semuanya menjadi tak biasa. Jantungku memaksakan degup yang lebih kencang dari sewajarnya. Perasaanku bercampur antara bahagia dan rasa-rasa tak jelas lainnya. Sambutan demi sambutan sebagai bagian dari prosesi yang satu persatu usai membuatku semakin tanpa kendali memadukan rasa di dada.

Read the rest of this entry

%d bloggers like this: