Category Archives: Creative

about my writings…, a bit serious writings :p

White is Never Black

You keep to argue,

that white is never blue,

moreover black in true.

You keep thinking,

That we’re different,

without any referent.

You keep avoiding me

as I am black.

Never want to accept

That we can be a grey.

Or even,

to live together,

Be happy together.

 

(Being suffer in discrimination, 2010, created by : Endang Sriwahyuni)

Advertisements

Lusuh

Biarkan kuberteriak tanpa harus kau dengar.

Biarkan ku berlari tanpa harus kau tau kemana jejak menuju.

Biarkan ku menjadi diri yang tak pernah akan peduli pada terik maupun dingin.

Tapi, sebelum dunia ini berakhir,

jangan biarkan aku tetap menjadi kerdil dalam kuasa langit yang kini tak lagi bersahabat denganku.

Yang kini menyeranai petir menyambar dan menyapa tepian fakta kegersangan pojok yg lusuh,

yang tak lagi tersenyum ketika pagi menjelang dan siang berganti.

sepatu lusuh

Gedung Sate, A Selfie Transit

image

Selfie or self potrait is actually defined as taking our picture by ourselves (without someone’s help). Nowadays most of Indonesian people are keen on this activity. But in this posting i’m not going to talk about “selfie” itself, but a place in Bandung where I visited only for doing selfie. 😀

Well, melanjutkan cerita yang kemarin saya tulis di sini.  Kami berjalan keluar (Pokoknya ke hatle-halte gitu yang ada tulisannya Bandung Juara) untuk mencari angkot arah Gedung Sate. Ya, Gedung Sate adalah salah satu aikon (icon) kota Bandung.

Gedung yang didirikan sejak tahun 1920 dan sering disebut sebagai Gedung Putihnya Bandung ini hingga saat ini masih difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kota Bandung. Nama Gedung Sate sendiri diambil dari ornamen enam tusuk sate yang berada di atas menara utama gedung tersebut. Konon, enam tusuk sate ini melambangkan 6 gulden, jumlah dana yang digunakan untuk membangun gedung ini pada masanyaimage

Selain kekhasan bentuk bangunannya, tanaman-tanaman yang amat terawat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi gedung sate. Di dalam gedung ini kita bisa menemukan gamelan khas sunda, pemandangan indah yang bisa dilihat dengan teropong, dan mungkin banyak lagi lainnya. Namun untuk dapat memasuki kawasan gedung ini tentu memerlukan izin khusus. Tapi, banyak kok orang datang hanya sekedar untuk berfoto dari luar gerbangnya.

Read the rest of this entry

Dari Lampung ke Bandung

Jika pepatah mengatakan ada seribu jalan menuju Roma, maka tidak demikian dengan jalan menuju Bandung, apa lagi dari Lampung.  Alternatifnya hanya ada beberapa saja. Nah, posting kali ini adalah tentang cara hemat pergi ke Bandung dari Lampung, jika readers semua sedang dalam kondisi kanker alias kantong kering namun memiliki waktu senggang atau tidak buru-buru.

 

Well, tanpa rencana panjang, singkat cerita tanggal 29 Desember sekitar pukul 20:30 kangmas suami dan saya berangkat dari rumah ke Rajabasa. Niatnya akan naik angkot biru jurusan Rajabasa-Tanjung Karang yang memang sering singgah di jalan Pramuka. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak pada kami malam itu. Sebentar kami menunggu, si angkot tak juga datang. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu angkot sambil berjalan kaki saja. Yup, akhirnya kami berjalan kaki dari Jalan Kavling Raya Pramuka sampai terminal Rajabasa. Tentu lumayan jauh dan melelahkan. Tapi cinta mampu menyirnakan kelelahan itu #Tsaaaahhhh haha. Read the rest of this entry

Survey Lokasi Homestay di Wonoharjo Tanggamus

image

Untuk pertama kalinya saya pergi ke Desa Wonoharjo di kawasan Tanggamus tepatnya kecamatan Sumberrejo. Salah satu daerah pagunungan di Lampung ini cukup memikat, khususnya airnya yang jernih dan tanaman sayuran yang menghampar luas. Konon, daerah ini pun merupakan penghasil sayur terbesar di Lampung.
Read the rest of this entry

Taman Safari untuk yang Pertama Kali

 

Ini ceritaku setalah sekian lama (lagi-lagi) tidak aktif menulis di blog lagi. Cerita ini nyata, tanpa polesan apa-apa dan tidak bermaksud untuk memojokkan siapa-siapa, apalagi melambungkan nama (ai daaahh apaan siih ya????).

 

Pertengahan Juni 2015 lalu, beberapa hari tepat sebelum 1 Ramadhan, yayasan sekolah tempatku bekerja mengadakan acara tour ke daerah Bogor dan sekitarnya. Aku ikut meskipun sebenarnya tidak terlalu antusias dengan objek-objek kunjungannya, kecuali satu, Taman Safari. Ya, demi ke Taman Safari gratis aku akhirnya ngotot pengen ikut haha. Sebenarnya sih, alasan malas ikut karena hp android rusak (read: ga bias foto-foto puas) dan lagi ga punya uang (rad: gas bisa belanja-belanja puas ) hihihi. Read the rest of this entry

Negeri Para Bedebah ; Sebuah Novel yang “WOW”

Padat, cerdas, seru, dan menegangkan adalah kesan saya terhadap Novel ‘Negeri Para Bedebah’ karya Tere Liye.  Novel yang terdiri dari 433 halaman ini berhasil membuat saya terpukau dan ketagihan untuk terus mengikuti ceritanya meskipun di awal merasa sulit mencerna dan kurang tertarik dengan bahasa penyampaiannya.  Sudah sejak 7 bulan yang lalu saya membelinya, namun setelah membaca sekitar 21 halaman saya menyerah dan malas melanjutkan dengan alasan tersebut.  Sampai akhirnya, entah mengapa, saya berenergi sekali untuk segera menyelesaikan novel yang lumayan tebal itu.  Saya ulangi membaca dari halaman awal dan terus mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang dirangkai oleh Bang Darwis, memahami isi ceritanya.

negeri para bedebah

Tokoh utama dalam Novel terbitan Gramedia ini bernama Thomas, dengan nama kecilnya Tommy, seorang konsultan keuangan professional lulusan sekolah bisnis ternama di luar negeri.  Ia adalah seorang Chinese yang cerdas, gesit, berfisik kuat, humoris, penyayang, dan sekaligus pendendam.  Sekali dua kali Thomas Nampak sebagai seorang yang angkuh tapi tidak ambisius terhadap bisnis, berbeda dengan pamannya.  Berusia 33 tahun, Thomas telah berulang kali menjadi pembicara di acara dan konfrensi bergengsi baik di dalam maupun luar negeri.  Berulang kali wajah dan analisisnya muncul di media.  Pun, banyak klien merasa terbantu olehnya yang memang pandai memotivasi dan mempengaruhi orang lain.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan, Thomas kembali ke Indonesia dan mendirikan kantor konsultasi keuangan.  Ia menolak anjuran kakeknya untuk membesarkan bisnis keluarga.  Ia benar-benar tak ingin terlibat dengan bisnis keluarganya.

Read the rest of this entry

%d bloggers like this: