Category Archives: Fiction

Sajak Kancil dan Pak Tani

images (8)

 

Seekor kancil digiring angin ke sebuah kandang

yang dulu telah kerap ia kesana

untuk sekedar mengintip timun-timun segar,

yang ditimbun sebelum dijajakan kepasar-pasar. Read the rest of this entry

Hujan pada Sepertiga Malam

index.hujan2jpg

Hujan pada sebagian akhir malam.

Derasnya tajam.

Petir balita bersahutan riang.

Sesekali tampakkan keangkuhan.

Iringi sepi pelaku rantau di negeri orang.

Yang rindu. Yang pilu. Yang semangatnya tak lagi menggebu. Read the rest of this entry

Dayung Perahu Kayu

 
Oleh:
Endang Sriwahyuni
“Sudah dibicarakan, Pak?”
“Iya, sudah. Saya sudah upayakan negosiasi dengan Pemerintah Kabupaten.”
“Jadi?”
“Nihil.”
“Kita tetap tidak bisa mengadakan ujian sendiri?”
“Tentu, Mul. Jumlah siswa kita jauh dari standar minimal jumlah yang ditentukan pemerintah.”
“Tetap ke Bendahara?”
“Iya, ke SMP 1 Bendahara.”
Mul meredup. Darah merahnya seperti berhenti megaliri wajah kuning langsat yang ayu berbingkai jilbab. Kekhawatiran yang semula semu kini telah berubah menjadi kebingungan nyata. Ia tak berminat lagi melanjutkan perbincangan dengan Pak Kusno, teman sepekerjaannya di SMP Kuala Penaga.
“Kenapa kau diam, Mul?”
Mul masih memilih tak mengatakan apa-apa sampai Pak Kusno menyampaikan kata-kata selanjutnya. “Mul, tak usah kau terlalu banyak pikir mengenai kendaraan untuk anak-anak. Aku sudah sewa perahu kayu pada teman. Hanya saja tinggal dayungnya. Dia tidak menyewakan dayungnya karena patah.” Pak Kusno kemudian menata nafas seperti sambil mencari diksi terbaik yang tidak akan melukai perasaan seorang wanita di hadapannya ini.
“Dayung?” Sambut Mul sedikit terbata.
Mereka berbincang tanpa main-main. Untuk kesekian kalinya, SMP Kuala Penaga tidak bisa mengadakan ujian nasional sendiri. Jumlah muridnya yang tak lebih dari dua belas oranglah yang selalu digadang-gadang menjadi penyebabnya. Pemerintah bilang, jumlah itu tidak sesuai dengan standar jumlah yang telah ditetapkan.
“Ah! dayung!” Keluhnya seorang diri setelah sampai di rumahnya. Diatas meja rias, ia membanting tas biru gelap pengemas pernak-perniknya sebagai seorang guru. Kebingungan yang berlebihan membuatnya kacau hingga merasa butuh untuk marah berkali-kali terhadap benda-benda mati di sekelilingnya. Semua diperlakukan kasar, dicaci hingga dibanting.
“Mul, tadi Ruminah mencarimu.” Tegur suami Mul yang datang ketika marahnya belum tuntas.
Tanpa memandang suaminya, ia berkata datar, “Ruminah yang mana?”
“Itu, yang gadis Jawa.”
“Mau apa katanya? Menjual baju-baju obral lagi?”
“Soal dayung, katanya.”
Mul terperangah. Tanpa pamit ia bergegas mendatangi Ruminah ke ruamhnya. Ia putuskan menghutang dayung perahu yang ditawarkan oleh Ruminah. Harganya memang cukup mahal, tapi tak ada pilihan lain, ia harus melakukannya. Ya, menghutang biaya sewa dayung sampai uang gaji mengajarnya ia terima.
Tinggal Pak Kusno dan Mul yang peduli dengan nasib keduabelas murid SMP mereka. Padahal, mereka membutuhkan biaya yang banyak untuk memfasilitasi para murid mengikuti ujian di sekolah lain yang tak bisa ditempuh dengan jalan darat. Hanya perahu yang bisa dipakai kesana. Jam empat pagi pun sudah harus berangkat dari Kuala Penaga. Memakai biaya sekolah sudah tak mungkin karena memang tidak ada. Mengandalkan para murid membayar sendiri juga sama saja membatalkan kesertaan mereka. Tak punya uang. Pasti demikian kata orang tua mereka. Jadi, Pak Kusno dan Mul berdua yang harus patungan. Pak Kusno telah menyewa perahu. Mul tak ingin ketinggalan andil. Ia ingin menyewakan dayungnya. Tak perlu memperhitungkan keadilan patungan mereka, karena adil memang tidak harus sama. Hmmm.
Utang-piutang pun disepakati dengan sederhana. Jaminannya hanya saling percaya saja, tak ada harta yang dianggap lebih mampu menggantikannya, bagi Mul dan Ruminah. Dan sejak saat itu, Mul membawa dayung perahu kayu itu ke rumahnya. Ia letakkan di sebelah kanan lemari hias ruang tamu.
Keesokan harinya, ia hendak membawa dayung itu ke sekolah untuk diserahkan pada Pak Kusno. Ia lebih bersemangat. Dunia seperti menjadi lembaran baru yang penuh harapan baginya setelah sebelumnya kebingungan memikirkan nasib ujian anak muridnya. Besok lusa genderang perang dengan soal-soal yang dibuat para petinggi negara di bidang pendidikan, atau sekumpulan orang terpilih, akan ditabuh. Dua belas bocah yang ia didik akan berjuang menghadapinya.
Namun naas. Dayung perahu kayu pun tidak ada. Ia coba besarkan level pengelihatannya. Menatap baik-baik lokasi dimana kemarin ia meletakkan dayung perahu kayu itu. Tetap saja tak ada. Samping kanan lemari hias di ruang tamu rumahnya sama sekali tidak menyimpan dayung perahu kayu yang ia cari. Dia telusuri  seluruh rumahnya dengan kecemasan yang sudah terlanjur meninggi. Debar jantungnya tak terkendali lagi. Lebih tepatnya, ia ketakutan.
Dituduhnya sang suami telah memindahkan dayung itu ke tempat lain, menyembunyikannya dari Mul. Tapi suaminya terus mengelak. Mul yang cemas berkata apa saja yang dikehendakinya. Mereka tenggelam dalam pertengkaran kata yang sangat pedas dan membuat mulas. Tak ada yang saling mengalah karena semuanya merasa paling benar.
Mul kuwalahan menghadapi kecemasannya sendiri. Ia tak sanggup berlama-lama bertengkar dengan suami yang ia cintai. Lantas, ia segera beranjak ke tempat kerjanya, SMP Kuala Penaga.
Sepanjang jalan, ia masih saja tak tenang. Setiap gontai langkahnya adalah tentang tanya keberadaan dayung perahu kayu yang hilang. “Ah, tak mungkin suamiku segila ini membuatku pusing. Pasti bukan suamiku yang mengambil. Tapi siapa?”. Ia tak peduli pada kondisi jalanan yang ia lewati, pada kabar mentari yang mencerahkan pagi.
“Tak mungkin bisa. Perahu kayu itu tak mungkin bisa berjalan mencapai tujuan karena hanya akan mengikuti arus yang belum tentu akan menuju arah SMP Bendahara. Atau bahkan, tanpa dayung, perahu hanya akan diam. Kita tetap butuh dayung. Ah, dimana dayungnya?” Katanya sendiri lagi.
Mul terus memikirkan dayung yang entah berada dimana. Tak ada jeda barang sedikit untuk berpaling. Sampai tanpa sadar kakinya sudah memijak daerah sekolah yang ia tuju. Sekolah yang tak ramai murid berlarian. Sekolah yang tak mewah. Sekolah sederhana dengan jumlah siswa yang sangat terbatas. Tapi, di sekolah ini lah ia banyak menggantungkan harapan tentang generasi masa depan. Karena sekolah ini pula yang telah membuat warga sekitar sedikit mau mengubah perspekstif tentang pentingnya pendidikan.
Ia memasuki ruang kelas sembilan untuk mengajar. Dua belas bocah tampak sibuk berinteraksi satu sama lain mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris yang diberikan oleh Mul kemarin pagi.  Mereka berlatih soal ujian nasional dengan soal-soal tahun sebelumnya. Lalu, setelah mengetahui gurunya datang, semua serempak menata duduk.
“What?” Ucap Mul sambil melotot terkejut. Matanya tertuju pada sebuah benda yang amat ia kenali. “Dayung ini kenapa ada di sini?” Tanya Mul kepada diri sendiri namun kemudian ditanggapi anak-anak. Dayung yang ia cari-cari ternyata  sudah ada di ruang kelas sembilan. Ia heran. Kecemasan yang menggunung sekejap menjadi es dan mencair. Hilang.
“Ibu lupa? Tadi malam saya dan Tengku Rohim kan datang ke rumah Ibu untuk mengambil dayung itu agar besoknya dibawakan ke sekolah. Agar ibu tidak keberatan membawanya, Bu.” Kata seorang murid yang biasa disapa Royan.
“Astaghfirulloh….” Sebut Mul dalam hati. Ia sadar telah khilaf. Ketika kedua muridnya datang, sebenarnya ia sudah tidur. Namun setengah sadar ia membukakan pintu dan menyetujui usul mereka untuk membawakan dayung perahu kayu itu ke sekolah. Setelah itu, ia kembali tidur dan melupakan semua yang telah terjadi.
Mul menyesal sudah marah-marah pada suaminya. Ia malu. Pasti suaminya akan mengejeknya nanti jika tahu mengenai hal ini. Ia ingin mempersiapkan kata-kata untuk berdalih. Namun, ia sadar bahwa memang dia bersalah. Tak guna ia menyimpannya. Pengakuan yang jujur pasti akan membuat keadaan selanjutnya menjadi lebih baik. Tak perlu berdalih macam-macam, mengobral pengakuan palsu untuk menutupi malu. “Ah, sudah, yang penting dayung perahunya sudah ketemu. Besok lusa akan kuantar dua belas bocah ini berperang di medan juangnya.” Putusnya.

Catatan Harga Jilbab dalam Hijab I’m in Love

Siang hari, setelah usai kudirikan sholat Zuhur, abang (anak ibu kos) memanggil-manggil. Ternyata ada petugas TIKI yang datang untuk mengantarkan paket buku padaku. Hmmm… cepat juga ya, baru kemarin teh Indah kirim dari Bandung, hari ini sudah sampai di Pengadegan (7 Agustus 2012). Aku segera membuka bungkusnya, plastik TIKI dan sampul coklat. Segera aku telusuri lembar-lembar awal halaman buku yang berjudul ‘Hijab I’m in Love’ ini, sebuah buku yang berisi kumpulan 30 tulisan terbaik dari writing competition IMSS (FSLDKN XVI) yang digelar di ITB bulan lalu. Aku sampai pada halaman daftar isi, aku cari judul ‘Catatan Harga Jilbab’. Oh, ternyata ada di halaman 131, angka yang cantik. Hehehe. Segera aku baca.

Nah, berikut aku coba share, ya, semoga bermanfaat 🙂

Catatan Harga Jilbab Read the rest of this entry

Kepada Hati

Ia, zat bernama hati. Hari ini sedang tak berseri.

Ujarnya, ia tengah kecewa.

Saat ditanya mengapa, ia ungkap temannya membuat luka.

Wahai hati, benarkah temanmu yang melukai?

Sebelum menghakimi, ada baiknya kau sejenak berefleksi.

Adakah kau pernah berbuat dosa serupa hingga kini berbalik kau alami?

Mungkinkah jiwamu sedang tak berada dekat dengan Pencipta, hingga tak tenang hidupmu kau jalani?

Wahai hati, bergegaslah merenung diri, berefleksi.

Kepada Hati, di tanah Ibu Kota, Agustus 2012.

picture: https://endangsriwahyunie.files.wordpress.com/2012/08/puisipatahhati.jpg?w=300

A Letter to: Section C of Sixth Semester (March-July 2012)

picture by: Keyza

Dear teman-teman…

Berulang kali saya berpikir ‘betapa lebay nya saya’ sampai menulis ini. Ah. Tapi biarlah. Mau bagaimana pun, orang-orang, toh, tetap menganggap saya lebay, hehe.

Ngga perlu mengharap yang macam-macam dari tulisan ini. Since you’ll not find something valuable such as wise words, touching story, or poetic stanza. Kecuali, kalo kamu emang paham sama aliran kelebayan level lima yang menjangkiti diri saya. Haha. Read the rest of this entry

Cerita dalam Pertunjukan

Aku tak pernah meminta ia datang.

Terpikir sekali pun tidak.

Sampai kawanan angin mengoyak kalbu yang tenang tanpa ganggu.

Bahkan para ombak menyapa hati, akan membawaku dalam hempasan palsu.

Hempasan sesaat yang membekas selamanya sebagai kelabu atau biru.

Hanya hati yang memegang kendali naskah cerita pertunjukan ini.

Nafas terhembus dengan porsi yang lebih tinggi daripada biasanya.

Bahkan para dendrit malu menyampaikan rangsang melalui garis jalannya.

Semua berlangsung tak biasa.

Dan aku masih tetap tak bertanya.

Lalu, bagaimana selanjutnya?

Aku memilih berhenti.

Berhenti, tak mau meneruskan cerita pertunjukan ini.

Cerita dalam Pertunjukan, 2 tahun silam

%d bloggers like this: