Category Archives: non-fiction

Lampung: “Mulai Tahun ini Aku Pantang Murung.”

peta lampung-glo

Lampung mendidih menjelang penghujung tahun lalu. Bentrok maut antarsuku terjadi ibarat tumbal yang meminta korban nyawa sekaligus harta. Beban pilu yang menyiksa akibat kehilangan sanak saudara harus bertambah-tambah dengan kebutuhan membenahi tempat tinggal yang rusak dan pengobatan luka-luka, yang juga akibat bentrokan maut tersebut. Bentrokan antarsuku ini tercatat sebagai bentrokan terparah di sepanjang catatan sejarah masyarakat Lampung. Sebuah catatan sejarah yang panjang hingga melahirkan prasangka mutlak antarsuku yang terwariskan dengan sangat baik dari generasi ke generasi. Warisan prasangka tua yang tetap tumbuh dan terjaga hingga masa kini. Read the rest of this entry

Advertisements

Emangnya AXIS Beneran Baik, ya?

AXIS adalah sebuah kartu GSM yang tergolong baru di permukaan pasar seluler Indonesia. Namun, didukung dengan promo, program dan slogannya sebagai kartu GSM yang baik, AXIS berhasil membuat perkembangannya begitu pesat. Tak sedikit masyarakat yang condong memilih AXIS lantaran tarif telepon, sms, dan internetnya yang miring dan tertambah bonus-bonus menarik lainnya. Khususnya tarif paket-paket internet yang cukup terjangkau, telah berhasil menarik minat anak-anak muda seperti mahasiswa yang bak nyaris tak bisa hidup tanpa internet. Kenyataannya, harganya memang cukup terjangkau. Misalnya paket internet AXISPRO berkuota 1,5 GB hanya berharga RP 49.000 perbulan. Di daerah yang mendukung (sinyal AXIS mudah diakses), kecepatan downloadnya super tinggi sekali. Nonton video di Youtube tak perlu loading (lancar seperti sudah didownload), kecepatan upload juga tidak kalah. Dengan harga yang relatif murah tersebut, AXIS mampu memberikan layanan yang mewah. Jika belum 30 hari (sebulan) kuota 1.5 GB sudah terpakai semua, paket ini pun masih tetap bisa digunakan dengan kecepatan yang relatif masih tinggi, meskipun tidak lagi berkekuatan super cepat seperti ketika kuota tersebut masih ada. Ya, memang AXIS benar-benar baik, ternyata.

Sayangnya, masih banyak daerah yang sulit mendapatkan sinyal AXIS, bahkan di Jakarta sekalipun. Nah, AXIS, tambahin dong kekuatan jaringannya biar sinyalmu ada di mana-mana. So, AXIS will be more super kind… :D.

Selain soal sinyal, sebenarnya ada pengalaman lain tidak menyenangkan yang sudah dua kali saya dapati, berhubungan dengan AXIS. Sebut saja, judul pengalaman tersebut adalah “AXIS: FDN RESTRICTED”. Read the rest of this entry

Ringkasan Pendidikan Indonesia

Sekolah negeri dan swasta yang telah mendapat pengakuan pemerintah dan publik dewasa ini semakin gencar meningkatkan kualitas dan reputasinya dengan banyak cara seperti menjadi RSBI/SBI, nasional plus, menggunakan guru dari luar negeri, dan lainnya hingga menciptakan kesan “wah” pada sekolah-sekolah tersebut. Sepaham dengan prinsip Jawa, “Rego nggowo rupo” (Harga memengaruhi tampilan), maka tak ayal jika peningkatan kualitas dan reputasi itu pun akhirnya berdampak pada semakin mahalnya biaya pendidikan yang harus dibayar oleh masyarakat. Keluhan tak henti mengalir dari beragam lapisan warga. Akan tetapi, bagi warga yang berada,  keluhan tersebut hanyalah sebatas keluhan dan tak menghalangi mereka untuk tetap menyekolahkan anaknya. Bahkan, sebagian orang justru bangga jika mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal karena berpandangan bahwa harga tinggi yang ia bayarkan akan lebih menjamin prestasi dan kesuksesan putra-putrinya.

Hal tersebut menampilkan gambaran tentang sebuah kabar yang baik, bahwasannya kualitas sekolah-sekolah di negeri ini semakin membaik dan warga tetap mampu menyekolahkan anaknya. Namun, gambaran tersebut hanya terpajang di sebagian sudut Indonesia saja. Sedangkan di sudut lain negeri ini, masih banyak anak yang tidak bisa bersekolah. Kebanggaan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah mahal dan berkualitas  seolah menjadi agenda yang tak sempat terpikirkan bagi kalangan ini, masyarakat yang tak mampu. Waktu untuk bersekolah pun dirasa jauh lebih baik jika digunakan untuk bekerja; mengamen, berjualan, dll. Sebagian anak tak ingin bersekolah lantaran sekolah hanya menghabiskan uang sedangkan dengan mengamen saja mereka mampu, paling tidak, mendapatkan uang sekitar dua ratus ribu rupiah perharinya.

Sekilas, pilihan anak-anak itu untuk bekerja saja memang tampak mulia dan mandiri. Mereka seperti sudah memiliki tekad untuk tidak merepotkan orang tua dengan biaya sekolah yang mahal. Mereka justru membantu meringankan beban kebutuhan hidup keluarga dengan bekerja.

Namun, memikirkan usia anak-anak tersebut yang masih harus menempuh pendidikan dasar wajib (9 tahun), pikiran kita akan berubah. Anak-anak itu harus sekolah dan mendapatkan haknya dalam masa pedidikan dasar; membaca, menulis, ilmu pengetahun sosial, ilmu pengetahuan alam, dan beberpa pelajaran dasar lainnya. Sayangnya, jika kembali lagi soal biaya dan tetek bengeknya, mereka memang kesulitan untuk medapatkan akses pendidikan dasar itu.

Membuka sekolah gratis dapat menjadi solusi dari masalah tersebut. Namun, tak henti hanya dengan menyerahkan semuanya pada pemerintah. Masyarakat dan pemuda harus mengambil andil dalam hal ini sebagai pendiri sekolah, pengajar, dan pengupaya agar sekolah dapat diakui keberadaannya oleh pemerintah dan masyarakat.

Salah satu contoh sekolah gratis adalah SMP Ibu Pertiwi yang terletak di kawasan Pancoran Jakarta Selatan. Sekolah yang dikelola oleh Ibu Ade ini memiliki siswa sekitar 20 orang dari kelas tujuh dampai dengan kelas Sembilan. Meskipun dengan kuantitas peserta didik yang terbatas, namun Ibu Ade mengupayakan pemberian akses pendidikan yang tanpa batas kepada mereka.

Siswa siswi SMP Ibu Pertiwi, selain mempelajari bidang-bidang akademik, juga mendapatkan fasilitas untuk melatih keterampilan seperti komputer, menjahit, dan berbagai kerajinan tangan. Hal tersebut diharapkan akan bisa menjadi bekal bagi para siswa dan siswi SMP Ibu Pertiwi dalam mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Sekolah gratis seperti SMP Ibu Pertiwi ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi anak-anak yang tidak bersekolah lantaran ketidakmampuan membayar biaya sekolah. Tetunya, program seperti ini memerlukan penanganan serius dan jiwa sosial yang tinggi. Sebab, dari program ini, tentu kita tidak bisa mendapatkan profit yang akan menambah penghasilan bulanan, justru harus lebih banyak melakukan pengorbanan seperti memberikan pengajaran gratis, mengupayakan banyak hal seperti merekrut anak-anak yang tidak bersekolah agar mau bersekolah, mencari donatur dari pihak swasta dan pemerintah, dll. Diperlukan kerja sama yang baik untuk mencapai keberhasilan dan memberantas angka kebodohan di Negara ini.

Dengan demikian, jika diringkas, pada dasarnya pendidikan di Inonesia memiliki dua wajah. Di satu sisi, terliht begitu memukau dengan peningkatan di sana-sini demi memfasilitasi anak bangsa dengan kualitas pendidikan yang baik. Sedangkan di sisi lain, masih banyak anak-anak yang tidak mampu mendapatkan akses pendidikan formal sama sekali, baik yang berkualitas baik maupun tidak. Diperlukan tindakan agar mereka pun bisa bersekolah, paling tidak, pendidikan dasar sembilan tahun. Sekolah gratis dengan didukung oleh berbagai pihak dan kurikulum yang memfasilitasi siswa-siswinya mendapatkan ilmu akademik dan non akademik akan dapat menjadi solusi alternatif bagi permasalahan yang tampak dalam ringksan pendidikan Indonesia itu.

 

Bendera di Tangan Pemuda, Sehari setelah Merdeka

HUT RI pada tahun 2012 nyaris bersamaan dengan perayaan Idul Fitri 1433 H. Hal ini menciptakan nuansa kemenangan yang lebih atas perjuangan melawan hawa nafsu selama Ramadhan dan sekaligus mengenang perjuangan para bunga bangsa yang telah merebut kemerdekaan bagi Indonesia.

Tak ayal, suasana malam takbir pun lebih gegap gempita, khususnya di kawasan Metro dan Lampung Tengah. Ratusan pemuda berlalu lalang di jalan utama Metro-Kotagajah dengan berkendaraan sepeda motor, mini bus, hingga truk berkeliling dan bertakbir. Kali ini, pasukan takbir yang kebanyakan adalah pemuda tak hanya dilengkapi dengan bedug, akan tetapi juga bendera. Mungkin, inilah bentuk salah satu kepedulian pemuda terhadap hari ulang tahun bangsanya.

Lebar Jalan Metro-Kotagajah memang tergolong sempit sebagai jalan raya dua arah. Jumlah kendaraan yang meningkat pada malam takbir ini pun kian memadatkan ruas jalan. Segerombolan pemuda yang membawa bendera merah putih yang dikaitkan pada bambu sebagai tiangnya sempat nyaris bentrok dan beradu fisik lantaran berebut jalan. Beruntung, hal tersebut dapat dicegah oleh warga setempat yang turun ke jalan untuk melerai pertikaian mereka.

Kepada warga, seorang supir truk yang bukan merupakan pasukan takbir berkata agar mencopot saja bendera dan umbul-umbul yang dipasang di depan rumah mereka agar tidak dicuri oleh pasukan takbir tak bertanggung jawab. Ternyata, bendera yang lengkap dengan tiang bambu yang mereka bawa untuk berkeliling mengatasnamakan takbiran itu adalah hasil curian.

Hal ini cukup mengagetkan dan mengecewakan. Sebulan sudah perjuangan melawan hawa nafsu dilakukan, tapi justru diakhiri dengan mencuri bendera untuk peramai takbiran. Semangat membawa bendera para pemuda itu tampaknya bukan sama sekali karena semangat nasionalis kebangsaan, melainkan sekadar memenuhi gejolak muda yang tak terkendali.

Tragis. Jika zaman dahulu banyak pemuda mati tertembak oleh musuh (penjajah) karena berjuang mengibarkan bendera merah putih, meraih kemerdekaan, zaman sekarang justru banyak para pemuda yang membawa bendera dengan bebas untuk berkelahi dengan saudaranya sendiri. Bahkan, mereka menodai dua kemenangan dalam malam Idul Fitri dan sehari setelah HUT RI.

Picture:

http://konveksidanpercetakan.files.wordpress.com/2010/04/bendera-merah-putih2.jpg

Catatan Harga Jilbab dalam Hijab I’m in Love

Siang hari, setelah usai kudirikan sholat Zuhur, abang (anak ibu kos) memanggil-manggil. Ternyata ada petugas TIKI yang datang untuk mengantarkan paket buku padaku. Hmmm… cepat juga ya, baru kemarin teh Indah kirim dari Bandung, hari ini sudah sampai di Pengadegan (7 Agustus 2012). Aku segera membuka bungkusnya, plastik TIKI dan sampul coklat. Segera aku telusuri lembar-lembar awal halaman buku yang berjudul ‘Hijab I’m in Love’ ini, sebuah buku yang berisi kumpulan 30 tulisan terbaik dari writing competition IMSS (FSLDKN XVI) yang digelar di ITB bulan lalu. Aku sampai pada halaman daftar isi, aku cari judul ‘Catatan Harga Jilbab’. Oh, ternyata ada di halaman 131, angka yang cantik. Hehehe. Segera aku baca.

Nah, berikut aku coba share, ya, semoga bermanfaat 🙂

Catatan Harga Jilbab Read the rest of this entry

Komedi Agama Chibi

Image

Kehadiran agama Chibi menuai beragam kontroversi, khususnya di kalangan para Chibi alias penggemar girl band Indonesia, Cherrybelle. Sebagaian dari mereka menyambut gembira kelahiran agama chibi yang teridentifikasi pada maret 2012 lalu. Sambutan gembira tersebut paling tidak dapat ditunjukkan dengan jumlah pengguna akun facebook yang melebihi 1500 orang memilih tombol Like pada page ‘Cherrybelle Tuhan Semesta Alam’. Selain itu, akun twitternya, @agamachibi, juga telah diikuti oleh lebih dari 1600 pengguna twitter. Bisa jadi para penge-Like dan pengikut akun sosial media tuhan chibi ini hanya agar bisa mendapatkan info-info terbaru mengenai tuhan chibi untuk dikritisi, atau memang merasa butuh informasi mengenai agama chibi untuk ditaati. Di sisi lain, ada juga pihak yang kontra dengan kelahiran agama chibi. Hal tersebut dapat diidentifikasi dari komentar yang disampaikan melalaui akun twitter, facebook, maupun blog agama chibi. Sebagian dari mereka dengan terang menghujat dan sebagian lain berkomentar dengan bahasa mengingatkan dan mengajak untuk kembali pada jalan yang benar. Jika mengamati detil isi setiap akun diatas, agama chibi pada dasarnya mirip dengan sebuah komedi. Read the rest of this entry

Akal dan Nafsu

(Refleksi Perbedaan Karakter Manusia)

Seperti minyak dan air yang memiliki masa jenis berbeda, mereka kemudian tidak akan pernah bersatu. Kecuali, dengan zat basa semacam sabun yang dicampurkan kedalamnya. Ah, beda! Aku tak mampu menghentikan pikiran yang berlarian di sepanjang rute kehidupan jiwa ini, mengenai hal-hal “beda” yang cenderung menyebabkan sesuatu hal menjadi “terpisah”.

Ini bukan lagi tentang air dan minyak, dua benda mati itu. Tapi ini bahkan tentang manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai makhluk terbaik dengan kepemilikan akalnya. Ya, tapi akal pun tak mampu menghindari kecenderungan “terpisah” yang disebabkan oleh “beda” pada hablumminannas mereka. Kenapa? Kurasa karena, selain akal pun manusia memiliki nafsu yang jika pemiliknya tak mampu mengendalikan, maka akan menyebabkan ketidakbaikan pada diri sendiri maupun orang lain.

Akal tak akan mampu apa-apa ketika diri sendiri tak bisa mengendalikan nafsu yang membelenggu. Akal yang selama ini selalu dibangga-banggakan sebagai keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki seorang manusia masih akan kalah dengan hawa nafsu yang tidak terkendali. Di suatu sisi, nafsu memang lebih mudah dikembangbiakkan atau ditingkatkan dayanya ketimbang akal. Ah! Mungkin sebagian akan bertanya, “Kata siapa? Sumbernya mana? Resourcenya apa? Udah ada penelitian?”  Dengan tegas, aku akan menjawab, “Ya, saya sudah melakukan penelitian dalam kehidpan sehari-hari. Memang saat ini belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah apa pun, atau bahkan mungkin tak akan pernah. Tapi, cukup jurnal kehidupan dalam bab hikmah lah yang menerbitkannya. Hikmah, bukan asumsi belaka. Read the rest of this entry

%d bloggers like this: