Category Archives: My World

about self-talking and just sharing

Sekadar Curhat Tentang Rumput Liar

20171008_0736021157052722.jpg

Semenjak pindah ke rumah ini, saya memiliki satu tanggung jawab yang lain dari sebelumnya, yaitu membersihkan rumput liar dari halaman. Sekilas urusan tersebut nampak sepele. Tapi ternyata tetap harus diseriusi. Perlu waktu yang diluangkan, tenaga yang memadai, dan kondisi cuaca yang mendukung. Kadang saya berpikir ini adalah tanggung jawab suami karena untuk membuat lebih efektif membersihkan rumput liar ini harus menggunakan sabit dan cangkul. Read the rest of this entry

Advertisements

Lusuh

Biarkan kuberteriak tanpa harus kau dengar.

Biarkan ku berlari tanpa harus kau tau kemana jejak menuju.

Biarkan ku menjadi diri yang tak pernah akan peduli pada terik maupun dingin.

Tapi, sebelum dunia ini berakhir,

jangan biarkan aku tetap menjadi kerdil dalam kuasa langit yang kini tak lagi bersahabat denganku.

Yang kini menyeranai petir menyambar dan menyapa tepian fakta kegersangan pojok yg lusuh,

yang tak lagi tersenyum ketika pagi menjelang dan siang berganti.

sepatu lusuh

Gedung Sate, A Selfie Transit

image

Selfie or self potrait is actually defined as taking our picture by ourselves (without someone’s help). Nowadays most of Indonesian people are keen on this activity. But in this posting i’m not going to talk about “selfie” itself, but a place in Bandung where I visited only for doing selfie. 😀

Well, melanjutkan cerita yang kemarin saya tulis di sini.  Kami berjalan keluar (Pokoknya ke hatle-halte gitu yang ada tulisannya Bandung Juara) untuk mencari angkot arah Gedung Sate. Ya, Gedung Sate adalah salah satu aikon (icon) kota Bandung.

Gedung yang didirikan sejak tahun 1920 dan sering disebut sebagai Gedung Putihnya Bandung ini hingga saat ini masih difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kota Bandung. Nama Gedung Sate sendiri diambil dari ornamen enam tusuk sate yang berada di atas menara utama gedung tersebut. Konon, enam tusuk sate ini melambangkan 6 gulden, jumlah dana yang digunakan untuk membangun gedung ini pada masanyaimage

Selain kekhasan bentuk bangunannya, tanaman-tanaman yang amat terawat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi gedung sate. Di dalam gedung ini kita bisa menemukan gamelan khas sunda, pemandangan indah yang bisa dilihat dengan teropong, dan mungkin banyak lagi lainnya. Namun untuk dapat memasuki kawasan gedung ini tentu memerlukan izin khusus. Tapi, banyak kok orang datang hanya sekedar untuk berfoto dari luar gerbangnya.

Read the rest of this entry

Jalan-Jalan Ke Taman Bunga ; Cerita untuk Nellis Nevada

Bentuk burung di taman bunga

Ini masih rangkaian cerita tour  yang diadakan oleh yayasan tempatku  bekerja Juni 2015 lalu. Travelling kali ini memang rasanya kurang menarik, mungkin pengaruh dompet yang sudah tifiz banget, atau unstable mood  menjelang pernikahan. Ahahaha. Yang jelas, kenapa akhirnya aku  menulis tentang taman bunga ini karena aku  ingat dengan seorang teman baik di kampus. Namanya Nellis Nevada. Kami sering berencana untuk pergi ke mana-mana, tapi setiap kali ada uang aku lupa untuk realisasi. Pas lagi inget dan pengen realisasi tapi uangnya udah gak memungkinkan lagi. Ah … gitulah pokoknya. Sampai akhirnya aku  merasa bersalah sekali dengannya, Nellis Nevada, karena aku  malah ke Taman Bunga di Bogor ini tanpa dia. Read the rest of this entry

Catatan Rindu (acak) Buat Kamu

Bukan mimpi, dan ia benar-benar pergi. Ia tak lagi memanggil keras namaku dengan suara khasnya ketika pulang dari sekolah. Ia tak lagi bercerita tetang banyak hal yang tengah berdesakan dalam ruang fikirnya. Ia tak lagi tinggal di sebelah kamarku dan bebas kapan saja untuk bertemu. Betapapun orang menganggap klise, namun tak dipungkiri bahwa aku ternyata merindukannya, merindukan seorang sahabat yang sekitar 1 bulan lalu memulai kehidupan barunya, tinggal bersama keluarganya di rumah barunya. Read the rest of this entry

Balasan untuk Orang Tua

Baru saja Ibuku menutup pembicaraan kami via telepon seluler.  Kestabilan jiwaku terguncang lagi.  Air mataku mengalir. Sesak terasa di dada. Ini adalah untuk pertama kalinya Ibuku meneleponku dalam rangka mengabarkan bahwa bapak sakit. Sudah beberapa hari beliau tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. Terbaring di tempat tidur dengan suhu badan yang tinggi dan batuk-batuk. Aku selalu menepis setiap kali kondisi itu melintas dalam benakku. Aku tak kuasa membayangkan bapak yang selama ini tangguh namun kini tengah terbaring sakit. Dan ketika aku mengirimkan sms kepada kakakku untuk menanyakan kondisi bapak, aku lebih terpukul lagi. Ternyata kakakku pun sedang sakit.

Entah, apa nama perasaan ini, begitu porak poranda mendengar orang-orang yang aku cintai kini sakit dan aku tidak ada di samping mereka. Ya, cinta ini terlalu akut kepada keluargaku, kepada ibu, bapak, dan kakakku. Mereka adalah para pahlawanku. Mereka adalah harta yang paling berharga bagiku. Kawan, mungkin terbaca klise, tapi begitulah adanya.  Kurang lebih lima tahun aku hidup di Jakarta, jauh dari mereka, ternyata membuatku teramat mencintai mereka.  Keakutan cinta ini tumbuh dengan sendirinya, semakin bertambah di sela syukurku memiliki mereka yang telah mendidikku menjadi seperti sekarang.

Kerap terpikir dengan apa aku bisa membalas kebaikan mereka.  Sekilas sedih saat teringat kondisi diri yang berasal dari keluarga sederhana dan kini telah bekerja namun belum bisa memberikan apa-apa kepada orang tua. Bertambah pilu saat teringat bahwa aku belum bisa membahagiakan mereka. Ah, apalagi aku ini anak perempuan yang (mungkin) kelak akan dibawa suaminya setelah menikah. Masihkah bisa aku membahagiakan mereka? Dengan apa?

Dalam kalutku lantas aku teringat sesuatu. Bukankah orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas didikan kepada anaknya? Bukankah itu berarti jika kita melakukan perbuatan dosa maka orang tua kita juga akan terkena imbasnya? Sungguh. Pikirku semakin kalut.  Belum pula terjawab pertanyaan untuk membahagiakan mereka, sudah berkelebatan pikir tentang dosa yang selama ini aku lakukan. Betapa teganya aku membebani orang tuaku dengan dosa-dosaku.

Untuk membalas jasa mereka dengan materi aku tentu tak akan sanggup. Harusnya telah dari lama aku sadar bahwa menjadi seorang anak yang shalihah adalah sebuah hadiah terindah bagi mereka.  Seorang anak shalihah yang senantiasa mendoakan orang tuanya, yang tunduk akan perintah Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya, yang selalu berbuat baik pada orang tua dan semua orang, dan yang selalu menjadi yang terbaik dalam hal taqwa.  Ah. Tapi aku terlanjur berlumur dosa. Masihkan taubatku diterima-Nya? Masihkah aku mampu berubah dan bertahan dalam perubahanku menjadi seorang yang shalihah? Karena sungguh, hanya Allah yang bisa membalas segala jasa orang tua kita, keluarga kita. Allah pemilik segalanya. Harusnya kita tak bosan mendekat pada-Nya dan banyak berdoa untuk kesehatan, kemudahan rizki, kebahagiaan dan segala kebaikan untuk orang tua (dan keluarga) kita. Bukan malah menjauh. Bukan malah memperbanyak dosa.

Lateness

image

Some weeks ago I was called by my school foundation. Myth said that there will be only about 3 things when we are called by the foundation, (1)your mistake (2)your work (3)your important day or something like after achieving award or wedding. And it was true. I was called for my lateness on a day where I should do my additional job as teacher on duty.

After that calling, I was late once more and I felt too guilty. The weeks after, I tried harder not to be late.

Till I arrived in this thought. Although I used to be late, but I always  tried to do my job as well as I can as a teacher on duty.  However, that morning I saw a partner who is never late for being teacher on duty but she didn’t do her job as has been assigned to her. She just came to school very early but then doing something other.

Suddenly I just felt this is not fear. I think you can get what i meant.

Both me and her are not good. We should, of course, come early morning and always do our job well. But, again, i just felt this is not fear.

%d bloggers like this: