Category Archives: My World

about self-talking and just sharing

Gedung Sate, A Selfie Transit

image

Selfie or self potrait is actually defined as taking our picture by ourselves (without someone’s help). Nowadays most of Indonesian people are keen on this activity. But in this posting i’m not going to talk about “selfie” itself, but a place in Bandung where I visited only for doing selfie. ūüėÄ

Well, melanjutkan cerita yang kemarin saya tulis di sini.  Kami berjalan keluar (Pokoknya ke hatle-halte gitu yang ada tulisannya Bandung Juara) untuk mencari angkot arah Gedung Sate. Ya, Gedung Sate adalah salah satu aikon (icon) kota Bandung.

Gedung yang didirikan sejak tahun 1920 dan sering disebut sebagai Gedung Putihnya Bandung ini hingga saat ini masih difungsikan sebagai pusat pemerintahan Kota Bandung. Nama Gedung Sate sendiri diambil dari ornamen enam tusuk sate yang berada di atas menara utama gedung tersebut. Konon, enam tusuk sate ini melambangkan 6 gulden, jumlah dana yang digunakan untuk membangun gedung ini pada masanyaimage

Selain kekhasan bentuk bangunannya, tanaman-tanaman yang amat terawat juga menjadi daya tarik tersendiri bagi gedung sate. Di dalam gedung ini kita bisa menemukan gamelan khas sunda, pemandangan indah yang bisa dilihat dengan teropong, dan mungkin banyak lagi lainnya. Namun untuk dapat memasuki kawasan gedung ini tentu memerlukan izin khusus. Tapi, banyak kok orang datang hanya sekedar untuk berfoto dari luar gerbangnya.

Read the rest of this entry

Jalan-Jalan Ke Taman Bunga ; Cerita untuk Nellis Nevada

Bentuk burung di taman bunga

Ini masih rangkaian cerita tour  yang diadakan oleh yayasan tempatku  bekerja Juni 2015 lalu. Travelling kali ini memang rasanya kurang menarik, mungkin pengaruh dompet yang sudah tifiz banget, atau unstable mood  menjelang pernikahan. Ahahaha. Yang jelas, kenapa akhirnya aku  menulis tentang taman bunga ini karena aku  ingat dengan seorang teman baik di kampus. Namanya Nellis Nevada. Kami sering berencana untuk pergi ke mana-mana, tapi setiap kali ada uang aku lupa untuk realisasi. Pas lagi inget dan pengen realisasi tapi uangnya udah gak memungkinkan lagi. Ah … gitulah pokoknya. Sampai akhirnya aku  merasa bersalah sekali dengannya, Nellis Nevada, karena aku  malah ke Taman Bunga di Bogor ini tanpa dia. Read the rest of this entry

Catatan Rindu (acak) Buat Kamu

Bukan mimpi, dan ia benar-benar pergi. Ia tak lagi memanggil keras namaku dengan suara khasnya ketika pulang dari sekolah. Ia tak lagi bercerita tetang banyak hal yang tengah berdesakan dalam ruang fikirnya. Ia tak lagi tinggal di sebelah kamarku dan bebas kapan saja untuk bertemu. Betapapun orang menganggap klise, namun tak dipungkiri bahwa aku ternyata merindukannya, merindukan seorang sahabat yang sekitar 1 bulan lalu memulai kehidupan barunya, tinggal bersama keluarganya di rumah barunya. Read the rest of this entry

Balasan untuk Orang Tua

Baru saja Ibuku menutup pembicaraan kami via telepon seluler.  Kestabilan jiwaku terguncang lagi.  Air mataku mengalir. Sesak terasa di dada. Ini adalah untuk pertama kalinya Ibuku meneleponku dalam rangka mengabarkan bahwa bapak sakit. Sudah beberapa hari beliau tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. Terbaring di tempat tidur dengan suhu badan yang tinggi dan batuk-batuk. Aku selalu menepis setiap kali kondisi itu melintas dalam benakku. Aku tak kuasa membayangkan bapak yang selama ini tangguh namun kini tengah terbaring sakit. Dan ketika aku mengirimkan sms kepada kakakku untuk menanyakan kondisi bapak, aku lebih terpukul lagi. Ternyata kakakku pun sedang sakit.

Entah, apa nama perasaan ini, begitu porak poranda mendengar orang-orang yang aku cintai kini sakit dan aku tidak ada di samping mereka. Ya, cinta ini terlalu akut kepada keluargaku, kepada ibu, bapak, dan kakakku. Mereka adalah para pahlawanku. Mereka adalah harta yang paling berharga bagiku. Kawan, mungkin terbaca klise, tapi begitulah adanya.  Kurang lebih lima tahun aku hidup di Jakarta, jauh dari mereka, ternyata membuatku teramat mencintai mereka.  Keakutan cinta ini tumbuh dengan sendirinya, semakin bertambah di sela syukurku memiliki mereka yang telah mendidikku menjadi seperti sekarang.

Kerap terpikir dengan apa aku bisa membalas kebaikan mereka.  Sekilas sedih saat teringat kondisi diri yang berasal dari keluarga sederhana dan kini telah bekerja namun belum bisa memberikan apa-apa kepada orang tua. Bertambah pilu saat teringat bahwa aku belum bisa membahagiakan mereka. Ah, apalagi aku ini anak perempuan yang (mungkin) kelak akan dibawa suaminya setelah menikah. Masihkah bisa aku membahagiakan mereka? Dengan apa?

Dalam kalutku lantas aku teringat sesuatu. Bukankah orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas didikan kepada anaknya? Bukankah itu berarti jika kita melakukan perbuatan dosa maka orang tua kita juga akan terkena imbasnya? Sungguh. Pikirku semakin kalut.  Belum pula terjawab pertanyaan untuk membahagiakan mereka, sudah berkelebatan pikir tentang dosa yang selama ini aku lakukan. Betapa teganya aku membebani orang tuaku dengan dosa-dosaku.

Untuk membalas jasa mereka dengan materi aku tentu tak akan sanggup. Harusnya telah dari lama aku sadar bahwa menjadi seorang anak yang shalihah adalah sebuah hadiah terindah bagi mereka.  Seorang anak shalihah yang senantiasa mendoakan orang tuanya, yang tunduk akan perintah Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya, yang selalu berbuat baik pada orang tua dan semua orang, dan yang selalu menjadi yang terbaik dalam hal taqwa.  Ah. Tapi aku terlanjur berlumur dosa. Masihkan taubatku diterima-Nya? Masihkah aku mampu berubah dan bertahan dalam perubahanku menjadi seorang yang shalihah? Karena sungguh, hanya Allah yang bisa membalas segala jasa orang tua kita, keluarga kita. Allah pemilik segalanya. Harusnya kita tak bosan mendekat pada-Nya dan banyak berdoa untuk kesehatan, kemudahan rizki, kebahagiaan dan segala kebaikan untuk orang tua (dan keluarga) kita. Bukan malah menjauh. Bukan malah memperbanyak dosa.

Lateness

image

Some weeks ago I was called by my school foundation. Myth said that there will be only about 3 things when we are called by the foundation, (1)your mistake (2)your work (3)your important day or something like after achieving award or wedding. And it was true. I was called for my lateness on a day where I should do my additional job as teacher on duty.

After that calling, I was late once more and I felt too guilty. The weeks after, I tried harder not to be late.

Till I arrived in this thought. Although I used to be late, but I always ¬†tried to do my job as well as I can as a teacher on duty. ¬†However, that morning I saw a partner who is never late for being teacher on duty but she didn’t do her job as has been assigned to her. She just came to school very early but then doing something other.

Suddenly I just felt this is not fear. I think you can get what i meant.

Both me and her are not good. We should, of course, come early morning and always do our job well. But, again, i just felt this is not fear.

Entah.

 

 

kau

Lebih dari satu semester saya berusaha menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.  Entahlah, kerap kali saya merasa TIDAK MAKSIMAL.  Kerap kali pula saya merasa semua orang menilai negatif terhadap hasil kerja saya.

 

Pertama kali bertemu mereka, amanah saya, dalam-dalam saya tanamkan ribuan pikiran positif tentang mereka.  Satu-persatu saya coba pahami karakter setiapnya, menghalau segala hujatan orang lain tentang mereka.  Saya ingin membuktikan bahwa mereka juga bisa menjadi pribadi-pribadi yang terpuji, yang baik dalam akademiknya dan tentu akhlaknya.  Ah.  Semoga ini tidak terlalu angkuh.  Sebab, dari hari ke hari, sekuat apapun saya mencoba, para amanah seperti tetap begitu-begitu saja.  Tak ada perubahan, masih sering menjadi bahan hujatan.  Bahkan saya pun tak bisa benar-benar dekat dengan amanah saya, belum bisa menjadi yang mereka percaya.  Ibarat cinta yang tak berbalas, bertepuk sebelah tangan saja.  Memilukan rasanya.

Pemahaman ini telah utuh tentang kapasitas saya, membenarkan kemungkinan tentang tak berartinya saya mengemban amanah ini, tentang lambatnya saya mendidik mereka. Namun, sedikitpun keinginan menyerah tak ada.  Saya ingin masih terus mengusahakannya.  Entah, angkuh dan optimispun tak sanggup lagi membedakannya.  Entah!

 

 

Pic: http://3.bp.blogspot.com/

Hari ini Ada di Dunia Kerja ^^

Sejak awal Juli 2014 lalu saya resmi memasuki gerbang kehidupan yang baru. ¬†Mungkin terdengar sedikit berlebihan “Gerbang Kehidupan yang Baru“. ¬†Tapi rasanya memang demikian. ¬†Banyak hal baru yang harus saya biasakan, rekan baru yang saya kenal, gaya hidup baru, ritme kerja baru dan banyak hal baru lainnya yang hadir dalam kehidupan saya. ¬†Tanpa membanding-bandingkan dengan yang lama, semua hal baru yang ada terasa¬†menyenangkan meskipun saya claim bahwa sekarang¬†hidup saya justru menjadi lebih serius.

 

“Menyenangkan” bukan berarti mulus tanpa tantangan. ¬†Tentu saja tidak. ¬†Sebagai seorang honorer di sebuah daerah yang UMR nya relatif kecil dan kebutuhan hidupnya cukup banyak lantaran baru saja pindahan, kondisi¬†ekonomi menjadi salah satu tantangan. ¬†Banyak kebutuhan yang akhirnya harus dipilah ulang berdasarkan prioritasnya, dipangkas, sehingga dana yang ada cukup untuk memenuhinya. ¬†Namun, satu hal yang saya selalu ingat dari seorang teman saya yang akrab saya sapa “Mba Hanifah”, “Semua itu bergantung sama gimana kita mensyukurinya, En.” ¬†Kira-kira begitu. ¬†Ya, meskipun perih dengan kondisi ekonomi yang seperti ini, saya tetap merasa senang. Kuncinya adalah belajar mensyukuri. ¬†Tak mudah? Memang. ¬†Tapi kita bisa terus belajar untuk bersyukur. ¬†Dan satu lagi, saya selalu diingatkan oleh beberapa senior bahwa gaji honorer di sekolah ini cenderung sudah besar dibandingkan sekolah lain. ¬† Lalu, nikmat mana lagi yang pantas untuk saya¬†dustakan? ¬†Maka lagi-lagi saya¬†harus lebih banyak bersyukur. ¬†Semoga segala rizki ini berkah. Read the rest of this entry

%d bloggers like this: