Category Archives: Experience

Hari ini Ada di Dunia Kerja ^^

Sejak awal Juli 2014 lalu saya resmi memasuki gerbang kehidupan yang baru.  Mungkin terdengar sedikit berlebihan “Gerbang Kehidupan yang Baru“.  Tapi rasanya memang demikian.  Banyak hal baru yang harus saya biasakan, rekan baru yang saya kenal, gaya hidup baru, ritme kerja baru dan banyak hal baru lainnya yang hadir dalam kehidupan saya.  Tanpa membanding-bandingkan dengan yang lama, semua hal baru yang ada terasa menyenangkan meskipun saya claim bahwa sekarang hidup saya justru menjadi lebih serius.

 

“Menyenangkan” bukan berarti mulus tanpa tantangan.  Tentu saja tidak.  Sebagai seorang honorer di sebuah daerah yang UMR nya relatif kecil dan kebutuhan hidupnya cukup banyak lantaran baru saja pindahan, kondisi ekonomi menjadi salah satu tantangan.  Banyak kebutuhan yang akhirnya harus dipilah ulang berdasarkan prioritasnya, dipangkas, sehingga dana yang ada cukup untuk memenuhinya.  Namun, satu hal yang saya selalu ingat dari seorang teman saya yang akrab saya sapa “Mba Hanifah”, “Semua itu bergantung sama gimana kita mensyukurinya, En.”  Kira-kira begitu.  Ya, meskipun perih dengan kondisi ekonomi yang seperti ini, saya tetap merasa senang. Kuncinya adalah belajar mensyukuri.  Tak mudah? Memang.  Tapi kita bisa terus belajar untuk bersyukur.  Dan satu lagi, saya selalu diingatkan oleh beberapa senior bahwa gaji honorer di sekolah ini cenderung sudah besar dibandingkan sekolah lain.   Lalu, nikmat mana lagi yang pantas untuk saya dustakan?  Maka lagi-lagi saya harus lebih banyak bersyukur.  Semoga segala rizki ini berkah. Read the rest of this entry

Pilihan Standar Mahasiswa Rantau

Bagi anak daerah seperti saya, mendapatkan kesempatan belajar dan memperjuangkan hidup di kota besar adalah anugerah yang luar biasa. Setiap lembar harinya seakan menjadi cerita menarik untuk disimpan sementara dan kemudian diceritakan kembali esok hari. Pengalaman yang didapatkan pun tidak sekedar menjadi kenang-kenangan, akan tetapi juga mampu mendewasakan diri. Teman-teman seperjuangan di rantau bertahap menjadi sangat baik seperti keluarga sendiri. Tetangga, penjual makanan langganan, ibu kos, dan orang-orang baru yang dikenal di rantau pun kelamaan menjadi bagian dari pelaku pendukung rangkaian kisah rantau yang tak terlupakan. Ah. Kehidupan rantau, terasa manis sekali saat ini.

Sekitar bulan Februari, saya mulai menimbang secara serius sebuah pilihan hidup. Ya, sebenarnya ini hanyalah pilihan standar mahasiswa rantau yang telah menyelesaikan kuliahnya. Tetap tinggal dan bekerja di rantau, atau kembali ke kampung halaman. Itulah pilihannya. Tapi tak sedikit yang kemudian memilih pilihan pertama, tetap tinggal dan bekerja di rantau. Apalagi tempat rantauku adalah Jakarta, ibu kota negeri yang terlalu banyak memberikan janji kesejahteraan lahir batin.
Read the rest of this entry

Stomatitis Aphtosa Attack (Sebuah Teguran Syukur)

Kala itu, saya bertanya pada diri, “Pernahkah saya sadar tentang nikmat lidah yang sehat? Pernahkah saya bersyukur atas nikmat lidah yang sehat?”

Sungguh pengalaman yang dahsyat. Akhir April lalu, stomatitis aphtosa alias sariawan menyerang saya habis-habisan. Lebay, mungkin, kalau saya bilang “menyerang saya habis-habisan”. Tapi buktinya memang begitu. Meskipun sariawan ini hanya ada satu saja di lidah (sisi sebelah kiri agak ke bawah lidah), tapi cekungannya sangat dalam sehingga terasa sangat sakit. Posisinya yang sangat berdekatan dengan gigi geraham pun membuat sakitnya semakin menjadi karena tanpa sengaja sering tersenggol gigi. Gerak sedikit, sudah tersenggol gigi.

Sungguh, gara-gara sariawan ini, lidah yang nggak sehat ini, kondisi kesehatan saya drop. Saya ngga bisa makan dan minum seperti orang normal karena ngga bisa ngunyah dan menelan, juga ngga bisa memuntahkan sesuatu dari mulut. Menggerakkan mulut saja sudah cukup mengganggu lidah sehingga semakin sakit. Saya ngga bisa ngomong dengan jelas, juga ngga bisa tertawa dengan sempurna. Bahkan, saya pun sangat merasa menderita ketika ingin menguap dan batuk. Ahahaha…. Sungguh, saat itu saya benar-benar merindukan lidah yang sehat.

Read the rest of this entry

Merancang Kenangan Berharga untuk Hari Tua

 

UP

Sepulang dari koordinasi acara Islamic Camp di SMP Al-Ikhlas Cipete, aku menumpangi angkot merah S11 arah Pasar Minggu. Angkot itu tengah ngetem di pinggir jalan. Hanya ada satu penumpang di dalamnya, seorang Bapak yang sudah terlihat cukup sepuh. Aku naik dan memutuskan untuk duduk di dekat pintu.

 

Sejurus kemudian, seorang bapak, yang juga sudah sepuh namun nampak sedikit lebih muda dari bapak yang pertama, naik angkot ini. Demi memudahkan beliau, aku memilih bergeser ke pojok. Bapak yang kedua ini langsung menyapa Bapak yang pertama. Akrab. Hal yang pertama ditanyakan adalah umur, lalu membahas penyakit masing-masing.

Read the rest of this entry

Cuma Nama Hewan Kok, Kak

Pagi itu aku bersemangat sekali mengajar kelas 9B SMP GIIS Bekasi. Para siswa yang lebih sering aku panggil “adik-adik” pun tampak sangat bersemangat mengerjakan soal-soal yang aku berikan. Mereka berkelompok, setiap kelompok mengerjakan soal yang bereda namun pada akhirnya nanti akan saling share sehingga sama-sama paham.

Selama mereka mengerjakan soal, aku berkeliling memantau dan memberikan bantuan pada yang ingin bertanya atau membutuhkan bantuan. Sampailah di kelompok mujahid (panggilan untuk siswa laki-laki di sekolah ini). Singkat cerita, Fadhil kesal pada temannya dan lantas berkata, “Kambing, loe!”. Secara tegas pun aku langsung menyahut, “Fadhil! what did you say?!” dengan wajah yang aku hororkan.

Read the rest of this entry

Para Pendaki Malam (Part 2)

Kelanjutan dari Para Pendaki Malam (Part 1)

 …… Sekitar jam enam sore, kami tiba di Desa Tugu. Di bahu kiri jalan ada sebuah klinik yang disampingnya terdapat sebuah gang cukup lebar. Menurut instruksi panitia, gang itu yang harus kami susuri.

Hari mulai gelap. Kami pun mulai berjalan menuju lokasi kegiatan di Vila Mang Ade, Cikoneng. Menakhlukkan ketakutan akan gelap, mempercayakan segalanya pada Allah demi segera bertemu dengan para kakak-kakak hebat yang pasti penuh semangat luar biasa. Dan, inilah perjalanan kami yang sebenarnya, para pendaki malam. …..

*******

                Dengan penuh semangat, kami bertiga membuat langkah-langkah tegas menyusuri jalanan di Desa Tugu yang sepi, seperti tanpa kehidupan sama sekali. Selain para abang ojek di gerbang  desa, hanya rumah-rumah dengan pintu tertutup rapat yang dapat kami lihat di kanan dan kiri jalan.

Tekstur jalanan di desa ini tidak rata, semakin menanjak seperti khasnya daerah pegunungan yang lain. Semakin naik, pemandangan alam yang mulai tertutup gelap semakin tampak elegan. Satu dua orang, yang mungkin baru pulang dari lading atau mencari pakan hewan ternak, mulai kami lihat ada di jalan. Sempat dua atau tiga orang berwajah Arab menyapa kami dengan melontarkan salam.

Dingin yang tajam mulai menusuk kulit. Ah, tanpa disuruh, pikiranku pun teringat pada jaket yang tertinggal di kamar. Tapi apa boleh buat, sudah terlanjur jauh dan tinggal bisa berharap semoga tidak masuk angin sajalah, haha.

Azan maghrib saat itu bersahutan di pintu langit yang luas tak berbatas. Gelap semakin nyata menjadi dinding dunia di alam lepas. Tiga muslimah pun tetap berjalan melanjutkan perjalanan. Saat itu, kami memutuskan untuk mencari masjid atau mushola terlebih dahulu karena tidak mungkin menunda sholat maghrib. Sedikit banyak kecemasan dan ketakutan sudah mulai bermunculan dalam diri kami masing-masing. Mengingat pendakian yang berkisar selama dua jam, bahkan rombongan yang berangkat tadi pagi memerlukan waktu tiga jam, terlalu beresiko rasanya jika harus menunda sholat maghrib. Kami khawatir akan terjadi apa-apa pada kami, dalam kondisi kami belum sholat maghrib (Na’udzubillah mindzalik). Dan mungkin, inilah fitrahnya manusia, mendekat pada Dzat yang MahaPelindung. Read the rest of this entry

Para Pendaki Malam (Part 1)

decision3

           Belakangan, mesin pembuat keputusanku seperti ogah-ogahan bekerja. Ia kalap dengan ribuan kerjaan berturut yang berat. Berat masing-masing keputusan yang harus diproduksi kira-kira seberat besi yang harus diangkat oleh sang lifter asal Lampung (Eko Yuli Irawan) yang berhasil meraih perunggu di Olimpiade London 2012 lalu. Hehe.. itu jelas ngasal. Tapi, keputusan-keputusan berat dan sulit memang harus aku buat dan tidak boleh ngasal. Apa dapat dikata. Sesulit apa pun, tak mungkin aku menolak untuk membuat keputusan. Sudah merupakan konsekuensi manusia jika harus selalu memilih dan memutuskan.

Sebenarnya, bobot pertimbangan setiap hal yang harus diputuskan mungkin tak akan terlalu berat jika masalah dompet dan ATM tidak ikut-ikutan. Biasa…, lugasnya ini soal uang. Lebih jujurnya, ruang-ruang dompet sudah mulai hampa tanpa asupan uang dan nilai 0 di ATM tak juga kunjung pecah. Singkatnya, uang di dompet sudah nyaris habis dan uang beasiswa (living allowance)  bulan ini belum dikirimkan. Haha… ribet, ya? Intinya, sih,bingung, ga punya uang. Padahal banyak keputusan penting yang harus dibuat yang hanya bisa diiyakan jika punya uang.  Read the rest of this entry

%d bloggers like this: