Category Archives: Kostpedia

Sekamar Sendiri Vs Bareng Orang

Hanya sebuah free-writing

Ketika memutuskan untuk tinggal di kos-kosan atau kontrakan, salah satu hal yang musty dipertimbangin adalah akan tinggal sendiri di kamar atau bareng orang. Pada dasarnya ini diri kita masing-masing yang bisa ngejawab. Soalnya, kalo saya teliti, ada tiga jenis sikap orang dalam menyikapi hal itu. Tipe pertama, orang yang emang senengnya bareng-bareng sama orang terus. Dia akan merasa lebih aman kalo ada teman ngobrol dan bahkan biasanya juga teman yang bisa dijahilkan, eh, dijahili maksudnya, selama dia mau. Biasanya tipe ini juga sampe nggak bisa tinggal sendiri. Entah penakut atau apalah namanya, yang jelas nggak bisa ngekos sendirian. Nggak semua tipe ini introvert, sih. Kadang juga hanya bermotif kenyamanan yang lebih dengan tinggal sendiri, kok. Tipe yang kedua, orang yang nggak bisa tinggal sama orang lain. Biasanya orang-orang macam ini adalah kaum pengidap introvert kelas berat. Dia sangat menyukai kesendirian dan nggak nyaman kalo harus tinggal sama orang lain sekamar, terutama kalo orang lain itu bukan bagian dari keluarganya. Dia juga biasanya susah produktif kalo tinggal sama orang lain sekamar. Tipe yang ketiga yaitu orang yang oke-oke aja mau tinggal sendiri apa berdua. Yang ini orangnya agak galau. Bisa dibilang sebenarnya pada satu sisi dia senang kalau tinggal dengan orang lain karena bisa berkomunikasi, tapi pada sisi lain dia juga sering kepengen sendiri karena menurut pengalamannya sendiri itu menyenangkan dan bikin dia lebih produktif. Tapi, karena dia galau, agak nggak jelas, jadinya dia pilih oke-oke saja mau tinggal sendiri atau dengan orang lain. Nggak masalah juga sih. Nah, kita harus bisa ngenalin diri kita itu termasuk ke tipe yang mana. Yang jelas, kalo pilih tinggal sendiri, mau ngapa-ngapan lebih bebas. Apa lagi buat yang emang suka nya sendiri, bisa jadi lebih produktif. Tapi sayangnya, kalo sewaktu-waktu sakit, suka nggak ada yang ngerawat, hehe. Lalu, kalo tinggal berdua, bertiga, atau lebih, tantangannya akan lebih banyak. Sang introvert yang memaksakan diri tinggal sama orang lain akan lebih sering menderita sendiri karena dia cenderung nggak mau ribut. Biasanya, kalo tinggal berdua atau rame-rame, kita butuh teman-teman yang emang sevisi dan semisi biar nggak terlalu repot. Soalnya, kalo visi dan misi udah sama, atau mirip-mirip, kita akan lebih gampang buat bikin kesepakatan. Pun begitu sebaliknya. Pengalaman yang ngekos berdua atau rame-rame itu sering saling kurang cocok sama design ruang dan kebiasaan masing-masing pribadi. Privasi juga kurang terjaga di sini. Mau milih apa, itu bergantung sama kamu. Kalo saya, sayang sekali masuk tipe ketiga, introvert yang berusaha lebih extrovert. Saya milih tinggal dengan orang lain meskipun butuh perjuangan yang berat luar biasa, tapi tetap saya coba. Meski sering nahan kesal tapi saya obati dengan obat saya sendiri. Dan itu semua bukan tak beralasan, loh. Sebab, saya sadar, saya perlu banyak belajar tentang bagaimana hidup bersama orang lain. Bagi saya, seorang introvert ini, hidup bersama orang lain adalah pilihan untuk mengalah, untuk belajar berkorban, untuk belajar tidak egois, untuk belajar bernegosiasi.

Pemuda Kahfi (Sebuah Cerita Filosofi Nama Kos/Kontrakan)

Kos atau kontrakan anak mahasiswa biasanya akan lebih keren kalao punya nama yang unik. Apalagi, jika penghuninya adalah orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama, atau minimal kuliah di tempat yang sama. Dua tempat kos yang pernah aku tinggali di Jakarta ini (lebih sering aku sebut rumah), selalu ada namanya meskipun nggak eksis-eksis banget :). Read the rest of this entry

Antara Ngekos dan Ngontrak

by: endang sriwahyuni

“Mau ngekos apa ngontrak ya?” Demikian tanya saya pada diri sendiri di permulaan tahun perkuliahan dimulai. Ternyata hanya untuk memutuskan ngekos atau ngontrak itu bukan hal yang  mudah. Ada beberapa pertimbangan dalam pembuatan keputusan.

Apa beda kos dan kontrak?

Read the rest of this entry

%d bloggers like this: