Translating Belief into the Real Deeds

I still tried to keep my belief that every student is nice. It’s normal if they do some mistakes, always wondered to try something new, or can’t differentiate which one is wrong or true. It’s our job as teacher to educate them. It’s my belief.

It’s triviality but I still feel that the differences of Lampung and Jakarta are not quite easy to face.  Friends, jobs, salary, pleasure, and many other things I have to adapt with are not easily made. This is my second year to live (again) in Lampung. I realized I have changed my self.  I feel that I don’t perform what really me. You know, I am even surrender to the reality, just run on the way I face, work in something I am not really master yet, and hide away my confusion deeply in my private thought. My life have become more serious since I started this new era of life. One more thing, I had stopped writing, even only to write my dream. I ignored how badly I yearn to write. I just didn’t want to write. Anything. Anywhere.

But, today, I remembered one of my best friends in college who ever asked me to write my experience of teaching students in Lampung.  I didn’t want to do it on that time but he just asked me to write. Then I feel I do yearn to write. At least, I have something to leave to this world, though the simple free and random writings.  And I think I don’t really use my English very well during the last year, so I am going to practice my English through my postings.  Hence, correct my English, please…. ^^. 😀 Read the rest of this entry

Balasan untuk Orang Tua

Baru saja Ibuku menutup pembicaraan kami via telepon seluler.  Kestabilan jiwaku terguncang lagi.  Air mataku mengalir. Sesak terasa di dada. Ini adalah untuk pertama kalinya Ibuku meneleponku dalam rangka mengabarkan bahwa bapak sakit. Sudah beberapa hari beliau tidak melakukan aktivitas seperti biasanya. Terbaring di tempat tidur dengan suhu badan yang tinggi dan batuk-batuk. Aku selalu menepis setiap kali kondisi itu melintas dalam benakku. Aku tak kuasa membayangkan bapak yang selama ini tangguh namun kini tengah terbaring sakit. Dan ketika aku mengirimkan sms kepada kakakku untuk menanyakan kondisi bapak, aku lebih terpukul lagi. Ternyata kakakku pun sedang sakit.

Entah, apa nama perasaan ini, begitu porak poranda mendengar orang-orang yang aku cintai kini sakit dan aku tidak ada di samping mereka. Ya, cinta ini terlalu akut kepada keluargaku, kepada ibu, bapak, dan kakakku. Mereka adalah para pahlawanku. Mereka adalah harta yang paling berharga bagiku. Kawan, mungkin terbaca klise, tapi begitulah adanya.  Kurang lebih lima tahun aku hidup di Jakarta, jauh dari mereka, ternyata membuatku teramat mencintai mereka.  Keakutan cinta ini tumbuh dengan sendirinya, semakin bertambah di sela syukurku memiliki mereka yang telah mendidikku menjadi seperti sekarang.

Kerap terpikir dengan apa aku bisa membalas kebaikan mereka.  Sekilas sedih saat teringat kondisi diri yang berasal dari keluarga sederhana dan kini telah bekerja namun belum bisa memberikan apa-apa kepada orang tua. Bertambah pilu saat teringat bahwa aku belum bisa membahagiakan mereka. Ah, apalagi aku ini anak perempuan yang (mungkin) kelak akan dibawa suaminya setelah menikah. Masihkah bisa aku membahagiakan mereka? Dengan apa?

Dalam kalutku lantas aku teringat sesuatu. Bukankah orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas didikan kepada anaknya? Bukankah itu berarti jika kita melakukan perbuatan dosa maka orang tua kita juga akan terkena imbasnya? Sungguh. Pikirku semakin kalut.  Belum pula terjawab pertanyaan untuk membahagiakan mereka, sudah berkelebatan pikir tentang dosa yang selama ini aku lakukan. Betapa teganya aku membebani orang tuaku dengan dosa-dosaku.

Untuk membalas jasa mereka dengan materi aku tentu tak akan sanggup. Harusnya telah dari lama aku sadar bahwa menjadi seorang anak yang shalihah adalah sebuah hadiah terindah bagi mereka.  Seorang anak shalihah yang senantiasa mendoakan orang tuanya, yang tunduk akan perintah Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya, yang selalu berbuat baik pada orang tua dan semua orang, dan yang selalu menjadi yang terbaik dalam hal taqwa.  Ah. Tapi aku terlanjur berlumur dosa. Masihkan taubatku diterima-Nya? Masihkah aku mampu berubah dan bertahan dalam perubahanku menjadi seorang yang shalihah? Karena sungguh, hanya Allah yang bisa membalas segala jasa orang tua kita, keluarga kita. Allah pemilik segalanya. Harusnya kita tak bosan mendekat pada-Nya dan banyak berdoa untuk kesehatan, kemudahan rizki, kebahagiaan dan segala kebaikan untuk orang tua (dan keluarga) kita. Bukan malah menjauh. Bukan malah memperbanyak dosa.

Lateness

image

Some weeks ago I was called by my school foundation. Myth said that there will be only about 3 things when we are called by the foundation, (1)your mistake (2)your work (3)your important day or something like after achieving award or wedding. And it was true. I was called for my lateness on a day where I should do my additional job as teacher on duty.

After that calling, I was late once more and I felt too guilty. The weeks after, I tried harder not to be late.

Till I arrived in this thought. Although I used to be late, but I always  tried to do my job as well as I can as a teacher on duty.  However, that morning I saw a partner who is never late for being teacher on duty but she didn’t do her job as has been assigned to her. She just came to school very early but then doing something other.

Suddenly I just felt this is not fear. I think you can get what i meant.

Both me and her are not good. We should, of course, come early morning and always do our job well. But, again, i just felt this is not fear.

Entah.

 

 

kau

Lebih dari satu semester saya berusaha menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.  Entahlah, kerap kali saya merasa TIDAK MAKSIMAL.  Kerap kali pula saya merasa semua orang menilai negatif terhadap hasil kerja saya.

 

Pertama kali bertemu mereka, amanah saya, dalam-dalam saya tanamkan ribuan pikiran positif tentang mereka.  Satu-persatu saya coba pahami karakter setiapnya, menghalau segala hujatan orang lain tentang mereka.  Saya ingin membuktikan bahwa mereka juga bisa menjadi pribadi-pribadi yang terpuji, yang baik dalam akademiknya dan tentu akhlaknya.  Ah.  Semoga ini tidak terlalu angkuh.  Sebab, dari hari ke hari, sekuat apapun saya mencoba, para amanah seperti tetap begitu-begitu saja.  Tak ada perubahan, masih sering menjadi bahan hujatan.  Bahkan saya pun tak bisa benar-benar dekat dengan amanah saya, belum bisa menjadi yang mereka percaya.  Ibarat cinta yang tak berbalas, bertepuk sebelah tangan saja.  Memilukan rasanya.

Pemahaman ini telah utuh tentang kapasitas saya, membenarkan kemungkinan tentang tak berartinya saya mengemban amanah ini, tentang lambatnya saya mendidik mereka. Namun, sedikitpun keinginan menyerah tak ada.  Saya ingin masih terus mengusahakannya.  Entah, angkuh dan optimispun tak sanggup lagi membedakannya.  Entah!

 

 

Pic: http://3.bp.blogspot.com/

Negeri Para Bedebah ; Sebuah Novel yang “WOW”

Padat, cerdas, seru, dan menegangkan adalah kesan saya terhadap Novel ‘Negeri Para Bedebah’ karya Tere Liye.  Novel yang terdiri dari 433 halaman ini berhasil membuat saya terpukau dan ketagihan untuk terus mengikuti ceritanya meskipun di awal merasa sulit mencerna dan kurang tertarik dengan bahasa penyampaiannya.  Sudah sejak 7 bulan yang lalu saya membelinya, namun setelah membaca sekitar 21 halaman saya menyerah dan malas melanjutkan dengan alasan tersebut.  Sampai akhirnya, entah mengapa, saya berenergi sekali untuk segera menyelesaikan novel yang lumayan tebal itu.  Saya ulangi membaca dari halaman awal dan terus mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang dirangkai oleh Bang Darwis, memahami isi ceritanya.

negeri para bedebah

Tokoh utama dalam Novel terbitan Gramedia ini bernama Thomas, dengan nama kecilnya Tommy, seorang konsultan keuangan professional lulusan sekolah bisnis ternama di luar negeri.  Ia adalah seorang Chinese yang cerdas, gesit, berfisik kuat, humoris, penyayang, dan sekaligus pendendam.  Sekali dua kali Thomas Nampak sebagai seorang yang angkuh tapi tidak ambisius terhadap bisnis, berbeda dengan pamannya.  Berusia 33 tahun, Thomas telah berulang kali menjadi pembicara di acara dan konfrensi bergengsi baik di dalam maupun luar negeri.  Berulang kali wajah dan analisisnya muncul di media.  Pun, banyak klien merasa terbantu olehnya yang memang pandai memotivasi dan mempengaruhi orang lain.

 

Setelah menyelesaikan pendidikan, Thomas kembali ke Indonesia dan mendirikan kantor konsultasi keuangan.  Ia menolak anjuran kakeknya untuk membesarkan bisnis keluarga.  Ia benar-benar tak ingin terlibat dengan bisnis keluarganya.

Read the rest of this entry

Hari ini Ada di Dunia Kerja ^^

Sejak awal Juli 2014 lalu saya resmi memasuki gerbang kehidupan yang baru.  Mungkin terdengar sedikit berlebihan “Gerbang Kehidupan yang Baru“.  Tapi rasanya memang demikian.  Banyak hal baru yang harus saya biasakan, rekan baru yang saya kenal, gaya hidup baru, ritme kerja baru dan banyak hal baru lainnya yang hadir dalam kehidupan saya.  Tanpa membanding-bandingkan dengan yang lama, semua hal baru yang ada terasa menyenangkan meskipun saya claim bahwa sekarang hidup saya justru menjadi lebih serius.

 

“Menyenangkan” bukan berarti mulus tanpa tantangan.  Tentu saja tidak.  Sebagai seorang honorer di sebuah daerah yang UMR nya relatif kecil dan kebutuhan hidupnya cukup banyak lantaran baru saja pindahan, kondisi ekonomi menjadi salah satu tantangan.  Banyak kebutuhan yang akhirnya harus dipilah ulang berdasarkan prioritasnya, dipangkas, sehingga dana yang ada cukup untuk memenuhinya.  Namun, satu hal yang saya selalu ingat dari seorang teman saya yang akrab saya sapa “Mba Hanifah”, “Semua itu bergantung sama gimana kita mensyukurinya, En.”  Kira-kira begitu.  Ya, meskipun perih dengan kondisi ekonomi yang seperti ini, saya tetap merasa senang. Kuncinya adalah belajar mensyukuri.  Tak mudah? Memang.  Tapi kita bisa terus belajar untuk bersyukur.  Dan satu lagi, saya selalu diingatkan oleh beberapa senior bahwa gaji honorer di sekolah ini cenderung sudah besar dibandingkan sekolah lain.   Lalu, nikmat mana lagi yang pantas untuk saya dustakan?  Maka lagi-lagi saya harus lebih banyak bersyukur.  Semoga segala rizki ini berkah. Read the rest of this entry

Yearning for Reading & Writing

This night, I do yearn for two things I’m interested in before, reading and writing. I don’t know why, what I know is just I’m yearning for reading a lot of books and writing everything comes in my mind. However, it is not really easy to start although the thing sounds simple, just reading and writing, but restarting something or habit for me is sometimes hard.

I have left my habit to read books and write something since one year ago. I feel “empty” in my mind. I feel “full” in my heart. In fact, stop reading and writing extremely burdensome me. Maybe, it is because reading is actually refreshing and writing is actually healing.

I suddenly remember a promise to one of my best friends, when I said good bye to him before moving to Lampung, to keep writing especially about my teaching experience here.  But I stand on too much excuses to not starting writing.  And again, I extremely yearn to write, I do yearn to read.  I hope it is not too late to restart everything.  I am going to manage my time to read and write everyday, InshaAllah.  Bismillah.

240_F_86969_2HnpprsO3v5xyUAgprN1P4Rbc801tQ

%d bloggers like this: