Dari Lampung ke Bandung

Jika pepatah mengatakan ada seribu jalan menuju Roma, maka tidak demikian dengan jalan menuju Bandung, apa lagi dari Lampung.  Alternatifnya hanya ada beberapa saja. Nah, posting kali ini adalah tentang cara hemat pergi ke Bandung dari Lampung, jika readers semua sedang dalam kondisi kanker alias kantong kering namun memiliki waktu senggang atau tidak buru-buru.

 

Well, tanpa rencana panjang, singkat cerita tanggal 29 Desember sekitar pukul 20:30 kangmas suami dan saya berangkat dari rumah ke Rajabasa. Niatnya akan naik angkot biru jurusan Rajabasa-Tanjung Karang yang memang sering singgah di jalan Pramuka. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak pada kami malam itu. Sebentar kami menunggu, si angkot tak juga datang. Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu angkot sambil berjalan kaki saja. Yup, akhirnya kami berjalan kaki dari Jalan Kavling Raya Pramuka sampai terminal Rajabasa. Tentu lumayan jauh dan melelahkan. Tapi cinta mampu menyirnakan kelelahan itu #Tsaaaahhhh haha. Read the rest of this entry

Advertisements

Sayang, Terima Kasih … .

Hari ini, lima bulan yang lalu, kau datang ke rumah orang tuaku dengan segala kemantapan hati dan niat yang begitu tulus untuk menjadikanku halal bagimu. Sembilan nol-nol waktu Indonesia Barat pun semuanya menjadi tak biasa. Jantungku memaksakan degup yang lebih kencang dari sewajarnya. Perasaanku bercampur antara bahagia dan rasa-rasa tak jelas lainnya. Sambutan demi sambutan sebagai bagian dari prosesi yang satu persatu usai membuatku semakin tanpa kendali memadukan rasa di dada.

Read the rest of this entry

Survey Lokasi Homestay di Wonoharjo Tanggamus

image

Untuk pertama kalinya saya pergi ke Desa Wonoharjo di kawasan Tanggamus tepatnya kecamatan Sumberrejo. Salah satu daerah pagunungan di Lampung ini cukup memikat, khususnya airnya yang jernih dan tanaman sayuran yang menghampar luas. Konon, daerah ini pun merupakan penghasil sayur terbesar di Lampung.
Read the rest of this entry

Jalan-Jalan Ke Taman Bunga ; Cerita untuk Nellis Nevada

Bentuk burung di taman bunga

Ini masih rangkaian cerita tour  yang diadakan oleh yayasan tempatku  bekerja Juni 2015 lalu. Travelling kali ini memang rasanya kurang menarik, mungkin pengaruh dompet yang sudah tifiz banget, atau unstable mood  menjelang pernikahan. Ahahaha. Yang jelas, kenapa akhirnya aku  menulis tentang taman bunga ini karena aku  ingat dengan seorang teman baik di kampus. Namanya Nellis Nevada. Kami sering berencana untuk pergi ke mana-mana, tapi setiap kali ada uang aku lupa untuk realisasi. Pas lagi inget dan pengen realisasi tapi uangnya udah gak memungkinkan lagi. Ah … gitulah pokoknya. Sampai akhirnya aku  merasa bersalah sekali dengannya, Nellis Nevada, karena aku  malah ke Taman Bunga di Bogor ini tanpa dia. Read the rest of this entry

Taman Safari untuk yang Pertama Kali

 

Ini ceritaku setalah sekian lama (lagi-lagi) tidak aktif menulis di blog lagi. Cerita ini nyata, tanpa polesan apa-apa dan tidak bermaksud untuk memojokkan siapa-siapa, apalagi melambungkan nama (ai daaahh apaan siih ya????).

 

Pertengahan Juni 2015 lalu, beberapa hari tepat sebelum 1 Ramadhan, yayasan sekolah tempatku bekerja mengadakan acara tour ke daerah Bogor dan sekitarnya. Aku ikut meskipun sebenarnya tidak terlalu antusias dengan objek-objek kunjungannya, kecuali satu, Taman Safari. Ya, demi ke Taman Safari gratis aku akhirnya ngotot pengen ikut haha. Sebenarnya sih, alasan malas ikut karena hp android rusak (read: ga bias foto-foto puas) dan lagi ga punya uang (rad: gas bisa belanja-belanja puas ) hihihi. Read the rest of this entry

Catatan Rindu (acak) Buat Kamu

Bukan mimpi, dan ia benar-benar pergi. Ia tak lagi memanggil keras namaku dengan suara khasnya ketika pulang dari sekolah. Ia tak lagi bercerita tetang banyak hal yang tengah berdesakan dalam ruang fikirnya. Ia tak lagi tinggal di sebelah kamarku dan bebas kapan saja untuk bertemu. Betapapun orang menganggap klise, namun tak dipungkiri bahwa aku ternyata merindukannya, merindukan seorang sahabat yang sekitar 1 bulan lalu memulai kehidupan barunya, tinggal bersama keluarganya di rumah barunya. Read the rest of this entry

Translating Belief into the Real Deeds

I still tried to keep my belief that every student is nice. It’s normal if they do some mistakes, always wondered to try something new, or can’t differentiate which one is wrong or true. It’s our job as teacher to educate them. It’s my belief.

It’s triviality but I still feel that the differences of Lampung and Jakarta are not quite easy to face.  Friends, jobs, salary, pleasure, and many other things I have to adapt with are not easily made. This is my second year to live (again) in Lampung. I realized I have changed my self.  I feel that I don’t perform what really me. You know, I am even surrender to the reality, just run on the way I face, work in something I am not really master yet, and hide away my confusion deeply in my private thought. My life have become more serious since I started this new era of life. One more thing, I had stopped writing, even only to write my dream. I ignored how badly I yearn to write. I just didn’t want to write. Anything. Anywhere.

But, today, I remembered one of my best friends in college who ever asked me to write my experience of teaching students in Lampung.  I didn’t want to do it on that time but he just asked me to write. Then I feel I do yearn to write. At least, I have something to leave to this world, though the simple free and random writings.  And I think I don’t really use my English very well during the last year, so I am going to practice my English through my postings.  Hence, correct my English, please…. ^^. 😀 Read the rest of this entry

%d bloggers like this: